Home  / Features
Kisah Mengharukan di Balik Nama-nama Jalan di Indonesia
Senin, 17 Agustus 2020 | 17:30:03
(Dok. Istimewa via Wikimedia Commons)
Nyi Ageng Serang, salah satu pejuang wanita dalam kemerdekaan Indonesia.
JAKARTA - Dalam ratusan tahun, sejarah mencatat Indonesia telah dijajah oleh bangsa lain, mulai dari Portugis, Belanda dan Jepang. Selama masa itu pula, sosok pejuang Indonesia bermunculan di pelosok negeri.

Perjuangan kemerdekaan Indonesia tak hanya didominasi oleh kaum pria, namun ada pula sosok-sosok perempuan yang hadir dan tak segan mengorbankan nyawanya. 

Selain kelihaian menggunakan senjata, ada pula yang memilih berjuang melalui jalan diplomasi, atau menebar idealisme lewat edukasi kepada perempuan lainnya.

Para pejuang perempuan ini seolah berusaha menghapus stigma di masyarakat 'kolot', soal kodrat perempuan yang hanya bisa macak-masak-manak. Tak heran jika nama mereka 'harum' dan dikenang oleh generasi turun temurun.

Bukan hanya RA Kartini, berikut nama-nama pejuang wanita di Indonesia yang namanya diabadikan sebagai nama jalan, sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam memperjuangkan kemerdekaan Tanah Air.

1. Nyi Ageng Serang
Pejuang perempuan bernama asli Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi ini terkenal sebagai sosok perempuan cerdas yang piawai dalam berkuda saat perang melawan penjajah Belanda.

Nama kecilnya Kustiyah, ia merupakan putri bungsu dari Bupati Serang, yang masuk wilayah Jawa Tengah pada saat itu.

Ia tercatat sebagai salah satu keturunan Sunan Kalijaga sekaligus Soewardi Soerjaningrat alias Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara.

Masa remajanya ia habiskan untuk membaca, sehingga kecerdasannya memikat hati Sri Sultan HamengkuBuwono II.

Ia diboyong ke Keraton Yogyakarta, namun ia memberikan syarat kepada suaminya untuk tak tinggal satu atap, sebab ia masih ingin berjuang dengan rakyat Serang untuk menumpas rezim kolonial.

Hal itu menjadikannya berpisah dengan Hamengkubuwono II, namun perceraiannya membuat semangat nasionalismenya semakin tinggi. Ia semakin giat mempelajari strategi perang.

Ia sempat menjadi pemimpin dalam pertempuran besar, meski akhirnya pasukannya tak seimbang dengan Belanda, yang mengakibatkannya menjadi tawanan Belanda saat itu. Perlawanan Kustiyah ini tercatat dalam periode waktu 1760-an hingga 1830-an.

Kini, untuk menghormati perjuangan Kustiyah, dibangun monumen patung Nyi Ageng Serang yang berada di pusat perlimaan jalan utama Kulon Progo. Patung itu representasi Kustiyah yang sedang menaiki kuda dengan membawa bendera di tangannya.

Selain itu, namanya juga diabadikan dalam jalan yang berada di Jakarta, Yogyakarta, Cirebon dan beberapa daerah lainnya di Pulau Jawa.

2. Cut Nyak Dhien

Cut Nyak Dhien. (Dok. Istimewa)

Cut Nyak Dhien merupakan sosok pejuang perempuan Aceh yang lahir dari keluarga ternama yang Islami. Namanya terkenal sebagai Singa Betina dengan rencong di tangan yang terjun langsung ke medan perang.

Pada tahun 1873 Belanda menyatakan perang kepada Aceh dan mereka mulai mengusik kedamaian Aceh dengan tembakan meriam ke daratan.

Ia langsung bersorak kepada rakyat Aceh untuk tak gentar melawan meriam Belanda, sekaligus saat Masjid Raya dibakar tentara Belanda.

Dalam perjalanannya, ia menikah yang kedua kali bersama Teuku Umar yang juga dinobatkan sebagai pejuang tanah air.

Bersama suaminya, ia berperang melawan Belanda pada zamannya. Namun, kekuatan Belanda yang belum bisa dikalahkan membuatnya harus kehilangan ayah hingga suaminya.

Rasa kehilangannya itu tak membuatnya lengah, ia tetap berjuang di lini depan. Namun, usianya yang semakin menua dan penyakit rabun yang dideritanya membuat salah satu anak buahnya iba dan berunding kepada Belanda.

Belanda boleh menangkap Cut Nyak Dhien asal mendapat jaminan hidup yang layak. Kesepakatan itu membuat Cut Nyak Dien diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat.

Perjuangannya membuat Presiden Soekarno menjadikannya sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui SK Presiden RI No.106 Tahun 1964 pada tanggal 2 Mei 1964.

Nama Cut Nyak Dien diabadikan sebagai Bandar Udara Cut Nyak Dien Nagan Raya di Meulaboh.

Namanya juga diabadikan sebagai nama jalan di Aceh, Medan, Lampung hingga pulau Jawa seperti Jakarta dan Bekasi.

3. Martha Christina Tiahahu

Martha Christina Tiahahu. (Dok. Istimewa)

Pejuang wanita asal Maluku ini memiliki tekad dan semangat perjuangan sedari remaja saat ia berusia 17 tahun. Dalam usianya itu, ia sudah mendampingi ayahnya untuk mengusir penjajah di Pulau Nusa Laut maupun di Pulau Saparua.

Martha membakar semangat kaum perempuan Maluku untuk ikut terjun dalam peperangan. Bahkan pasukan yang dibawanya mampu membunuh salah seorang pimpinan tentara Belanda. Insiden itu menjadikannya semakin berwibawa karena keberanian seorang pemudi.

Namun, peperangan besar yang terjadi saat itu membuat pihaknya mengalami kekalahan. Rakyat Maluku dan pasukan Belanda sama-sama banyak yang gugur. Martha dan ayahnya yang selamat tertangkap dan menjadi tawanan.

Saat itu, ayahnya divonis hukuman mati, sementara dirinya dibebaskan sebab masih belia. Kematian ayahnya membuat pukulan telak bagi Martha. Selepas itu ia bagai perempuan gila yang kehilangan tujuan dan kebebasan hidup.

Akhirnya, Belanda menangkapnya untuk kemudian diasingkan ke Pulau Jawa. Menjadi tawanan tidak membuatnya melunak terhadap Belanda. Ia tetap bersikap keras dengan melakukan aksi mogok makan sampai jatuh sakit.

Martha kemudian meninggal dunia di atas kapal perang Eversten milik Belanda saat dalam perjalanan. Jenazahnya dilarung dengan penghormatan dan dilepas ke laut Banda.

Atas jasanya, Martha Christina Tiahahu secara resmi diakui sebagai Pahlawan Nasional tanggal 20 Mei 1969, berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 012/TK/Tahun 1969.

Selain itu, masyarakat Maluku dapat melihat sosok keberanian Martha melalui Monumen atau patung Martha terletak di Karang Panjang, daerah bukit yang terlihat jelas dari Kota Ambon.

Kini, namanya pun diabadikan dalam sebuah jalan yang berada di Kendari, Ambon, Fak-fak dan Nabire.

4. Raden Dewi Sartika

Raden Dewi Sartika. (Dok. Istimewa)

Raden Dewi Sartika lahir dari keluarga Sunda yang cukup priyayi, ia merupakan cucu eks Bupati dan ayahnya merupakan seorang patih Bandung. Dengan latar belakang keluarga priyayi itu, ia sempat mengenyam pendidikan selama beberapa tahun.

Lalu, pada usia 30, opininya telah dianggap penting oleh pemerintah kolonial. Dewi aktif menulis kritik soal bagaimana kehidupan feodal Sunda.

Ia mengkritisi kehidupan di kalangan priyayi pada saat itu. Anak-anak laki-laki memperoleh pendidikan layak, sementara perempuan dianggap cukup diajari keterampilan rumah tangga dan adat belaka.

Dewi kemudian membentuk sekolah istri di pendopo Kabupaten Bandung pada tahun 1904, yang menjadi cikal sekolah khusus perempuan bumiputra pertama di Hindia Belanda.

Ia membawa misi untuk mencerdaskan pemikiran para perempuan yang tidak memiliki kesempatan untuk mengenyam bangku sekolah.

Dewi juga mengajak para istri untuk membekali mereka, bagaimana upaya mandiri untuk hidup dan cerdas, manakala ditinggal suami meninggal atau cerai.

Dewi Sartika membawa jasa besar bagi kemajuan pendidikan perempuan Sunda. Atas jasanya, ia pun diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1966.

Kini, namanya diabadikan dalam sebuah nama jalan yang berada di dekat alun-alun Bandung. Pun di Jakarta, Jalan ini menghubungkan persimpangan Cililitan yang merupakan pertemuan antara Jalan Raya Bogor, Jalan Mayjen Sutoyo, dan Jalan Cililitan Besar dengan Jalan Otto Iskandardinata.

5. Hajjah Rangkayo Rasuna Said

Hajjah Rangkayo Rasuna Said. (Dok. Istimewa)

Perempuan asli Minangkabau ini sah namanya menjadi Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 084/TK/Tahun 1974 tanggal 13 Desember 1974.

Rasuna merupakan salah satu pejuang wanita yang membawa misi mencerdaskan kehidupan perempuan, menentang perjodohan keluarga dan juga menolak mentah-mentah prinsip poligami.

Ia pun menolak perjodohan yang terjadi padanya, ia akhirnya menikah dengan lelaki pilihannya meski tanpa restu dari keluarganya. Namun pernikahan itu harus putus di tengah jalan.

Dengan bekal pendidikan yang ia punya sewaktu menjadi santri, ia pun menghabiskan masa dewasanya untuk berjuang bersama tokoh perempuan Minangkabau yang lain.

Ia menjadi salah satu perintis PERMI (Persatuan Muslimin Indonesia) yang melahirkan sekolah-sekolah di pelosok Padang. Rasuna pun juga memimpin sekolah Kursus Putri dan Normal Kursus di Bukittinggi.

Rasuna sangat pandai berorasi dengan 'sentilan' khasnya terhadap Pemerintah. Hal itu berimbas pada dirinya yang didakwa dalam kasus ujaran kebencian. Hal itu menjadikannya sebagai tahanan di Semarang selama setahun lebih.

Selain pandai berorasi, ia pun pandai menulis dengan menghabiskan waktunya sebagai jurnalis. Pada tahun 1935 Rasuna menjadi pemimpin redaksi di sebuah majalah, Raya. Majalah ini dikenal radikal, bahkan tercatat menjadi tonggak perlawanan di Sumatra Barat.

Namanya sekarang diabadikan sebagai salah satu nama jalan protokol di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, serta di daerah asalnya di Padang, Sumatera Barat.

(CNNIndonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
7 Pejabat Pemkab Inhu Bakal Diperiksa Kejati Riau
Dua Jam Kemacetan di Jalan Lintas Sumatera Bandar Sei Kijang Dapat Teratasi
Kapolsek Ukui Cek Perkembangan Tanaman Palawija Program Ketahanan Pangan
Tanaman Hias Termahal Rekor di Selandia Baru, Harga Rp77 Juta
Mentan Tetapkan Ganja Jadi Tanaman Obat, Mau Direvisi?

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad
free web site hit counter