Home  / Features
Salat Id di Masa Pandemi dan Kemunculan Imam-imam Baru
Senin, 25 Mei 2020 | 20:35:46
(Foto: Dok.Pribadi via Antara)
Keluarga Ramon Damora pertama kali menggelar Salat Idulfitri di rumah.
JAKARTA - Jilan Egha Barry menarik nafas sedikit berat, sebelum melafalkan takbir. Ia didapuk memimpin salat bagi ayah, ibu, bibi dan adiknya pada Salat Idulfitri 1441 Hijriah. Usia Jilan baru menginjak 14 tahun saat menjadi imam Salat Id di kediamannya, Kota Batam Kepulauan Riau, Minggu (24/5).

Pandemi virus corona (Covid-19) memaksa jutaan muslim di dunia untuk tidak melaksanakan salat hari raya secara berjemaah di lapangan dan masjid. Termasuk di Kota Batam, yang menjadi zona merah Covid-19.

Keluarga Jilan salah satu di antara sekian banyak keluarga muslim lain yang melaksanakan Salat Id di rumah sendiri. Ini jadi hal baru. Bila sebelumnya mereka menjadi makmum, kini setiap keluarga bertanggung jawab atas terlaksananya Salat Id di rumah.

Ayah Jilan, Ramon Damora sengaja menunjuk anaknya menjadi imam. "Dia sudah balig, sudah cukup syaratnya," kata dia.

"Ini sekaligus latihan menjadi pemimpin, melatih keberanian. Menjadi catatan di hidupnya kelak, ada Salat Id rumah," imbuh Ramon.

Salat Id akan dimulai di kediaman Ramon. Jazzy Rayshad Nadim, adik Jilan, sambil menahan senyum melantunkan adzan, mengajak makmum mendirikan salat. Jazzy tampak malu-malu menjalankan tugasnya sebagai bilal.

Jilan, sang imam muda pun berdiri. Membenarkan letak peci dan celana. Menengok ke belakang, memastikan saf yang didirikan ayah, ibu, bibi dan adiknya rapat sesuai sunat.

"Allahuakbar...!" Salat dimulai.

Warga di Ciracas, Jakarta Timur, melaksanakan Salat Id di rumah, Minggu (24/5), mengikuti imbauan pemerintah di masa pandemi virus corona. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)

Setelah 7 kali takbir, Jilan membaca Al Fatihah dan Al A'laa dengan lancar, relatif tanpa cacat. Pada rakaat kedua, ia pun melafalkan surat Al Ghasyiyah, usai 5 kali takbir.

Ramon punya alasan lain menunjuk anaknya menjadi imam Salat Id di keluarga kecilnya.

Jilan merupakan santri di sebuah pondok hafiz di Bogor Jawa Barat. Ia telah menghafalkan 9 dari 30 juz Al Quran.

Bagi Ramon, untuk menjadi imam tidak perlu yang lebih tua. Meski anaknya baru menginjak remaja, tapi ia menilai sang bujang mampu, dengan bekal ilmu yang didapat dari pesantren.

Ramon pun mengambil bagian. Ia menjadi khatib Salat Id, sesuai dengan kesepakatan keluarga. Ramon dan istri memutuskan untuk menyiarkan secara langsung pelaksanaan Salat Id di kediamannya di media sosial.

"Ini pengalaman baru bagi keluarga kami. Luar biasa, semuanya sempat deg-degan, termasuk ibunya. Manalah tahu salah-salah. Berdebar-debar rasanya," kata dia.

Beberapa hari sebelum Lebaran, ia sengaja menyempatkan waktu mempelajari tata cara Shalat Id bersama keluarga. Mendengarkan ceramah sejumlah ustaz dan membaca semua referensi yang tersedia, baru kemudian memutuskan, bagaimana melaksanakan ibadah istimewa itu.

Keluarga Ramon pun sempat latihan untuk memantapkan pelaksanaan ibadah.

"Kita latihan, sambil cari tahu di Google. Selama ini sudah tahu juga, tapi terbatas. Selama ini melihat dari jauh bagaimana persiapannya, " kata dia yang pernah menjabat Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia Provinsi Kepulauan Riau.

Pandemi corona membuat sebagian muslim melaksanakan Salat Id di rumah, Minggu (24/5). (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)

Lain dengan keluarga Ramon, Andi harus memimpin Salat Idul Fitri seorang diri. Dia yang menjadi bilal, dia imam, dia juga yang khotbah.

Maklum, dua anaknya perempuan sehingga tak bisa memimpin salat untuk laki-laki. Sedang si bungsu, baru berusia 2 tahun, tidak mungkin berbagi peran dalam menjalankan ibadah bersama.

Beberapa hari menjelang Lebaran, Andi sibuk dengan gawai, mencari acuan tata cara melaksanakan Salat Id yang baik. Ia pun berdiskusi dengan sejumlah ustaz, kenalannya.

"Siap, siaplah. Harus siap," katanya sambil mengangguk-angguk.

Maka Ahad pagi, setelah sajadah tergelar, Andi duduk bersila melafalkan takbir kemenangan, diikuti anggota keluarganya.

Takbir kemenangan dilantunkan sayup-sayup, tak seperti suara takbir yang biasa dikumandangkan di lapangan dan masjid di masa normal yang bergema dan bergemuruh.

Meski sayup, tidak menurunkan kekhidmatan ibadah di rumah keluarga muda itu. Suasananya syahdu. Penuh keharuan.

Bagi Ramon, Andi, dan keluarga muslim lain, ini adalah pengalaman pertama mendirikan Salat Id sendiri yang akan tidak akan terlupakan. 

Setidaknya, virus corona tak selalu memberikan kesempitan. Masa pandemi juga mendorong manusia untuk terus belajar, bergerak, menyesuaikan diri.

(Antara/CNNIndonesia)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Wagubri Tegaskan Jumlah BLT yang Diterima Warga Tidak Boleh Berkurang
Terancam UU Baru China, Tokoh Pro-Demokrasi Hong Kong Kabur
Terapkan Protokol Kesehatan, Kapolresta Pekanbaru Pimpin Sertijab Dua Kapolsek
Pemprov Minta BPR Kembalikan Utuh Sebesar Rp300 Ribu BLT Warga Pekanbaru
Kadis Sosial Riau Jelaskan Polemik Bankeu Pekanbaru

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad
free web site hit counter