Home  / Features
Siapa Soleimani yang Buat Dunia Terancam Perang Dunia III?
Minggu, 5 Januari 2020 | 10:11:58
Foto: cover topik/irak dalam/Aristya Rahadian Krisabella
JAKARTA - Tanda-tanda Perang Dunia III meletus kian santer usai tewasnya Pemimpin Pasukan Quds, sayap eksternal Garda Revolusi Iran, Jenderal Qasem Soleimani. Jumat (3/1/2020) lalu, kematiannya membuat mata dunia tertuju ke Timur Tengah.

Betapa tidak, Soleimani tewas akibat serangan udara pasukan militer Amerika Serikat di dekat Bandara Baghdad, Irak. Lalu, siapa Soleimani?

Jurnalis The Washington Post Adam Taylor menuliskan sosok sang jenderal dalam artikel berjudul "Qasem Soleimani: Who was Iran's powerful military leader?"

Berikut adalah petikan tulisan Taylor:

Terlepas dari perawakannya yang 'mungil' dan tenang, Soleimani dianggap sebagai salah satu jenderal terkemuka di Timur Tengah oleh AS dan sekutu. Selaku pemimpin Garda Revolusi Iran, pria 62 tahun itu memikul tanggung jawab atas operasi rahasia Iran di luar negeri. Diam-diam, Soleimani sukses memperluas jangkauan militer Iran ke Suriah dan Irak.

Sejumlah analis bahkan menilai Soleimani memiliki pengaruh diplomatik yang lebih besar ketimbang Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif. Bahkan timbul spekulasi, jangan-jangan jenderal kelahiran Kerman itu berniat menjadi Presiden Iran.

Singkat cerita, karier kemiliteran Soleimani dimulai tak lama setelah Revolusi Iran pada tahun 1979. Ia bahkan turut serta dalam pembentukan Republik Islam Iran.

"Lebih dari siapapun, Soleimani bertanggung jawab atas penciptaan 'arc of influence' atau 'axis of resistance' yang membentuk dari Teluk Oman melalui Irak, Suriah, dan Lebanon ke pantai timur Laut Mediterania," ujar eks agen FBI Ali Soufan.

Selama perang dengan Irak dalam kurun waktu 1980 hingga 1988, Garda Revolusi Iran sukses meraih kekuatan politik dan ekonomi. Perang sengit itu juga membentuk karakter seorang Soleimani, pemuda yang berasal dari tenggara pegunungan Iran.

Pada akhir 1990-an, Soleimani diberi kendali atas Pasukan Quds, sayap Garda Revolusi Iran yang dikhususkan untuk urusan eksternal. Pasukan Quds memiliki sejarah panjang, termasuk membantu pendirian Hezbollah di Lebanon pada awal 1980-an. Di bawah kepemimpinan Soleimani, mereka memperluas pengaruh di wilayah tersebut.

Setelah invasi AS ke Irak berhasil menggulingkan Presiden Irak Saddam Hussein 2003, Pasukan Quds mulai membantu milisi syiah di negara itu tatkala mereka berperang melawan pasukan AS. Baru-baru ini, Pentagon mengestimasi Pasukan Quds telah menewaskan 608 tentara AS di Irak antara tahun 2003 dan 2011.

Kemudian, dalam perang saudara di Suriah, intervensi besar-besaran Pasukan Quds mengubah arah perang demi kepentingan Presiden Suriah Bashar al-Assad, sekutu dekat Teheran.

Pengaruh Soleimani selaku pemimpin Pasukan Quds tidak hanya terasa di Timur Tengah. Beberapa tahun lalu, Ia juga dikaitkan dengan upaya pembunuhan Duta Besar Arab Saudi untuk AS di sebuah restoran Italia di Georgetown.

Singkat cerita, setelah Presiden AS Donald Trump menarik AS dari perjanjian nuklir antara Iran dan negara-negara dunia lain, Pasukan Quds berada di pusat ketegangan antara Iran dan AS.

Di Irak, milisi Syiah melontarkan serangan demi serangan ke pihak AS. Setelah salah satu serangan menewaskan seorang kontraktor asal Negeri Paman Sam, AS melancarkan serangan udara terhadap pangkalan militer di sepanjang perbatasan dengan Suriah yang digunakan kelompok Kataib Hezbollah. Serangan itu menewaskan 25 anggota milisi dan melukai lebih dari 50 anggota milisi.

Pada malam tahun baru lalu, milisi Syiah dan pendukungnya menyerbu kompleks Kedutaan Besar AS di Baghdad. Walau tidak ada yang terbunuh dalam insiden itu, Trump menyebut Iran harus bertanggung jawab atas tindakan tersebut.

"Mereka akan bertanggung jawab penuh," ujar Trump via akun Twitter-nya.

Serangan udara pada Jumat pagi itu tidak hanya menewaskan Soleimani semata. Komandan Milisi Irak Abu Mahdi al-Muhandis juga tewas.

Para analis sepakat Soleimani adalah sosok yang unik dan mungkin tidak tergantikan di Iran. Tetapi, setelah kabar kematiannya, banyak yang bertanya apa efek dari kematian sang jenderal.

"Tekanan untuk membalas akan sangat besar," ujar pakar timur tengah dari Universitas Johns Hopkins via akun Twitter-nya.

Memanasnya tensi geopolitik antara AS dan Iran menjadi pembicaraan hangat di kalangan pengguna media sosial Twitter pada Jumat (3/1/2020). Kala itu, kata "Iran" memuncaki daftar trending topic dunia. Sementara itu, Soleimani yang tewas dalam serangan AS menempati posisi empat.

Menariknya, trending topic dunia nomor lima dan tujuh diisi oleh "WWIII" dan "World War 3". Memanasnya tensi geopolitik antara AS dan Iran telah memantik kekhawatiran bahwa perang dunia ketiga akan segera meletus.

Hal ini sejatinya wajar saja. Pasalnya, Pentagon kini telah mengonfirmasi tewasnya Soleimani. Beberapa saat yang lalu, Pentagon mengonfirmasi tewasnya Soleimani dalam sebuah serangan yang diluncurkan AS menggunakan drone.

Soleimani sendiri telah disanksi oleh AS sejak tahun 2007 dan pada Mei 2019, Washington memutuskan untuk melabeli Revolutionary Guards, beserta dengan seluruh bagiannya, sebagai organisasi teroris, menandai kali pertama label tersebut diberikan terhadap lembaga militer resmi dari sebuah negara.

(cnbcindonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
KPK Telisik Kebun Kelapa Sawit Nurhadi Abdurrachman
Peduli Terhadap Kesehatan, Satgas Yonif 125 Berikan Pelayanan Kesehatan Kepada Warga Perbatasan
Jadi Syarat Akreditasi, Semua Sekolah Wajib Miliki Perpustakaan
Miris, Wastafel Portable Tong Produksi Anak Negeri Pelalawan Malah Banyak Diorder Dari Luar Daerah
Dispar Riau Targetkan Atraksi Budaya Setiap Daerah Masuk Kalender Iven

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad
free web site hit counter