Home  / Features
DN Aidit Jauh Lebih Dulu Tantang Poligami Dibandingkan Grace Natalie
Kamis, 13 Desember 2018 | 20:56:16
(Doc. Net)
Ketua Umum PSI, Grace Natalie
JAKARTA - Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Grace Natalie dengan lantang mengatakan partainya tidak akan pernah mendukung praktik poligami. Grace beralasan, poligami menjadi salah satu pemicu munculnya ketidakadilan terhadap perempuan.

Grace kemudian mengutip riset LBH Apik tentang poligami yang menyimpulkan bahwa pada umumnya praktik poligami menyebabkan ketidakadilan. Poligami jadi muasal ketimpangan posisi kaum perempuan dan penelantaran anak-anak.

Sebagai bentuk komitmen menolak aksi poligami, Grace ‘mengharamkan’ para kader dan pengurus PSI untuk menghindari praktik poligami.

"Karena itu, PSI tidak akan pernah mendukung poligami. Tidak akan ada kader, pengurus, anggota legislatif dari partai ini yang boleh mempraktikkan poligami," kata Grace dalam Forum Festival 11 bertajuk "Keadilan untuk Semua, Keadilan untuk Perempuan Indonesia" di Jatim Expo International Surabaya pada Selasa, (11/12/2018).

Bukan hanya itu, Grace mengatakan jika PSI lolos ke parlemen di Pemilu 2019 mendatang maka akan mendorong revisi terhadap undang-umdang yang mengizinkan praktik poligami.

"Kami akan memperjuangkan revisi atas Undang-undang no. 1 tahun 1974, yang memperbolehkan poligami," ungkapnya tegas.

Aidit Juga Tolak Poligami

Jauh sebelum Grace yang mewakili suara partainya menolak praktik poligami, Ketua Umum Partai Komunis Indonesia (PKI), D.N Aidit pada 28 September 1965 juga menyinggung soal poligami.

Kala itu, Aidit berpidato dalam rangka ulang tahun organ sayap mahasiswa PKI, Central Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI), yang juga dihadiri Presiden Sukarno. Di satu bagian Aidit seakan-akan menyindir sang penyambung lidah rakyat Indonesia itu.

"Indonesia belum mencapai kemajuan dan kemakmuran. Negara ini memang tidak akan bisa maju kalau diurus oleh pemimpin yang mempunyai empat atau malahan lima orang istri!" teriak Aidit.

Pidato Aidit yang lantang itu sontak membuat para peserta yang hadir menjadi kaget. Sekalipun tidak menyebut nama Sukarno, tetapi semua tahu bahwa pernyataan keras Aidit ditujukan kepada sang proklamator kemerdekaan tersebut.

"Kasar sekali, pernyataan Aidit itu kasar sekali," kata mantan Wakil Komandan Resimen Cakrabirawa Maulwi Saelan sebagaimana dikutip laman merdeka.com.

Tak ada yang menduga ketua partai yang jadi sekutu dekat rezim Sukarno itu akan berkata demikian. Selama Sukarno jadi kepala negara, PKI tak pernah menyindir soal poligami sang presiden. Pun demikian dengan Gerwani, organ perempuan yang berafiliasi dengan PKI, yang diketahui menentang poligami.

"Tidak ada. Dikembalikan masing-masing saja. Hanya memang kenapa wanita mau dipoligami. Kan yang rugi wanita," kata mantan pengurus Gerwani Jawa Timur bernama Lestari sebagaimana dikutip merdeka.com.

(jarrak.id)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
KPK Telaah Munculnya Nama Menpora di Fakta Persidangan
Menpora Imam Nahrawi Bantah Terima Rp1,5 Miliar dari KONI
Saksi: Sekjen KONI Daftarkan Rp1,5 Miliar untuk Menpora
344 Pejabat Publik Terjerat Kasus Korupsi, Ini Rinciannya
Serang Partai Koalisi Jokowi, PDIP Sebut PSI Partai Odong-odong

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad