Home  / Ekbis
Heboh Pelecehan & Pemerkosaan di Kebun Sawit, Ada Sinar Mas?
Kamis, 26 November 2020 | 22:03:16
JAKARTA - Golden Agri-Resources Ltd, unit usaha Grup Sinarmas yang tercatat di Bursa Singapura, memberikan pernyataan berkaitan dengan hasil investigasi kantor berita Associated Press (AP) berjudul "Rape, abuses in palm oil fields linked to top beauty brands".

Dalam investigasi ini AP mengungkapkan adanya pelecehan seksual dan upah yang tidak layak kepada para pekerja perempuan di perkebunan sawit besar di Indonesia dan Malaysia.

Pelecehan tersebut mulai dari kekerasan verbal, hingga kekerasan fisik termasuk pemerkosaan.

Mengutip cnbcindonesia.com, Laporan AP yang dirilis 25 November lalu itu menyebut besarnya industri minyak sawit yang ditemukan dalam segala hal, mulai dari keripik kentang, pil, makanan hewan, hingga produk kecantikan.

Besaran nilai rantai pasokan industri kecantikan ini mencapai US$ 530 miliar atau Rp 7.420 triliun (kurs Rp 14.000/US$), melibatkan nama-nama besar seperti L`Oreal, Unilever, Procter & Gamble, Avon dan Johnson & Johnson.

Anita Neville, Senior Vice President, Group Corporate Communications Golden Agri, pun angkat suara terkait dengan investigasi AP tersebut yang menyeret perusahaan sawit raksasa di Indonesia dan Malaysia.

Pihaknya menegaskan tuduhan adanya pelecehan seksual dan kekerasan di beberapa perkebunan kelapa sawit di dua negara tersebut, seperti dilansir AP, sangat memprihatinkan.

Perseroan mempekerjakan lebih dari 30.000 perempuan secara langsung, dan secara tidak langsung juga mendukung mata pencaharian ribuan karyawan lainnya.

"Perilaku yang dijelaskan dalam artikel tersebut tidak dapat diterima," tegasnya, dalam siaran pers Golden Agri, dikutip Kamis (26/11/2020).

"Saya malu berpikir bahwa ini bisa terjadi di sektor kami. Kami lebih baik dari ini. Jika Anda memiliki bukti ada pelecehan semacam ini, gunakan hotline dan saluran pengaduan agar Anda dapat didengar. Yang buruk bagi Anda, para pekerja wanita, juga buruk bagi kami, industri secara keseluruhan," kata Anita.

Dia menegaskan, lewat Kebijakan sosial dan lingkungan, perseroan yang merupakan induk dari PT Sinar Mas Agro Resources & Technology Tbk (SMAR) ini menetapkan komitmen yang jelas dalam menciptakan kesempatan kerja yang setara bagi perempuan.

Golden-Agri: Tak Ada Perusahaan yang Sempurna

Foto: (AP Photo)

Lebih lanjut, Anita Neville, Senior Vice President, Group Corporate Communications Golden Agri, menjelaskan, pihaknya juga memiliki berbagai kebijakan dan tindakan guna mendukung dan memberdayakan perempuan dalam bisnis perusahaan dan masyarakat.
Contohnya termasuk, adanya Komite Gender di lebih dari 100 perkebunan perusahaan untuk menyediakan sarana bagi perempuan untuk membahas dan menangani masalah, termasuk pengaduan.

Kemudian, ada saluran telepon rahasia dan prosedur pengaduan untuk memungkinkan pelaporan perilaku yang tidak pantas atau pelecehan.

Lalu ada pula dukungan bagi ibu menyusui dan ibu bekerja, melalui penyediaan ruang pompa ASI bagi ibu menyusui yang sudah kembali bekerja, fasilitas penitipan anak usia dini, dan akses pendidikan gratis bagi anak.

Perseroan juga telah mendaftar untuk menjadi anggota Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE).

Perseroan juga saat ini mengambil bagian dalam Fasilitas Perawatan Anak Belajar yang disponsori bersama oleh PROSPERA (program kerja sama ekonomi Indonesia dan Australia) dan IBCWE untuk membantu pekerja perempuan dalam pekerjaan mereka.

"Sebanyak 506 perempuan telah memperoleh manfaat dari pelatihan keterampilan dan peningkatan pendapatan rumah tangga dari proyek yang dilaksanakan sebagai bagian dari Proyek Rehabilitasi Gambut kami di PT AMNL di Kalimantan Barat," kata Anita.

Jesslyne Widjaja, Direktur Eksekutif Golden Agri, mengatakan perseroan tidak mengklaim menjadi perusahaan yang sempurna dalam kaitannya dengan pelecehan di tempat kerja.

"Tidak ada perusahaan atau sektor industri yang bisa. Tapi kami tetap berkomitmen untuk terus melakukan perbaikan," tegasnya.

"Dan itu dimulai dengan mengakui bahwa untuk menghapus pelecehan seksual dan lainnya serta diskriminasi dari tempat kerja, kami perlu menyediakan sarana untuk menyampaikan keluhan dan mendengar serta menindaklanjutinya dengan tepat dan dengan belas kasih."

"Tuduhan pelecehan harus dilaporkan dan diselidiki dengan benar, dengan empati, tidak ditutup-tutupi atau disembunyikan. Kita harus mendorong mereka yang memiliki bukti pelecehan semacam ini untuk maju, menggunakan saluran hotline dan pengaduan sehingga mereka dapat didengar," katanya.

Foto: (AP Photo, Margie Mason)

Kekerasan Verbal, Pelecehan, hingga Perkosaan

Dalam liputan investigasi pada 25 November bertajuk "Rape, abuses in palm oil fields linked to top beauty brands", AP melakukan investigasi komprehensif pertama yang fokus pada perlakuan brutal terhadap perempuan dalam produksi minyak sawit, termasuk adanya perilaku tersembunyi pelecehan seksual, mulai dari pelecehan verbal dan ancaman hingga pemerkosaan.

"Ini adalah bagian dari pandangan yang lebih mendalam tentang industri yang mengungkap pelanggaran yang meluas di kedua negara, termasuk perdagangan manusia, pekerja anak, dan perbudakan langsung," tulis AP, dalam liputannya.

Para perempuan dibebani dengan beberapa pekerjaan yang paling sulit dan berbahaya di industri. Mereka menghabiskan berjam-jam di air yang tercemar oleh limpasan bahan kimia dan membawa beban yang sangat berat sehingga, seiring waktu, berpengaruh pada rahim mereka.

Banyak yang dipekerjakan oleh subkontraktor setiap hari tanpa tunjangan, melakukan pekerjaan yang sama untuk perusahaan yang sama selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun.

Mereka sering bekerja tanpa bayaran untuk membantu suami mereka memenuhi kuota harian yang tidak mungkin dilakukan.

"Hampir setiap perkebunan memiliki masalah terkait perburuhan," kata Hotler Parsaoran dari organisasi nirlaba Indonesia, Sawit Watch, yang telah melakukan investigasi ekstensif atas pelanggaran di sektor minyak sawit.

"Tapi kondisi pekerja perempuan jauh lebih buruk daripada laki-laki," katanya dikutip AP.

Parsaoran mengatakan bahwa tanggung jawab pemerintah, petani, pembeli multinasional besar, dan bank-lah yang membantu mendanai ekspansi perkebunan untuk mengatasi masalah yang terkait dengan minyak sawit. Saat ini sawit terkandung di lebih dari 200 nama bahan dan terdapat di hampir tiga dari empat produk perawatan pribadi, mulai dari maskara dan mandi busa hingga krim anti keriput.

AP mewawancarai lebih dari tiga lusin perempuan (sekitar 36) dan anak perempuan dari setidaknya 12 perusahaan di seluruh Indonesia dan Malaysia. Media itu juga mengatakan mewawancarai hampir 200 pekerja, aktivis, pejabat pemerintah dan pengacara.

Karena laporan sebelumnya mengakibatkan adanya pembalasan terhadap pekerja, mereka hanya diidentifikasi dengan sebagian nama atau nama panggilan saja.

Mereka bertemu dengan reporter AP perempuan secara diam-diam di dalam barak atau di hotel, kedai kopi atau gereja, kadang larut malam, biasanya tanpa kehadiran laki-laki sehingga mereka dapat berbicara secara terbuka.

Misalnya, satu cerita gadis berusia 16 tahun yang menggambarkan pemerkosaan oleh bosnya, seorang pria yang cukup umur untuk menjadi kakeknya. Dia mulai bekerja di perkebunan pada usia 6 tahun untuk membantu keluarganya memenuhi kebutuhan.

Pada hari dia diserang pada 2017, gadis itu mengatakan bos membawanya ke bagian terpencil perkebunan, di mana pekerjaannya adalah mengangkut gerobak yang sarat dengan buah kelapa sawit oranye cerah yang dia potong dari pohon.

Tiba-tiba, katanya, dia meraih lengannya dan mulai mengais-ngais payudaranya, melemparkannya ke tanah.

Setelah itu, katanya, dia menempelkan kapak ke tenggorokannya.

"Dia mengancam akan membunuhku," katanya.

"Dia mengancam akan membunuh semua keluargaku."

Kemudian, katanya, lelaki itu berdiri dan meludahi dia.

Sembilan bulan kemudian, setelah gadis itu mengatakan si lelaki bosnya itu memperkosanya empat kali lagi, gadis itu pun duduk di samping seorang bayi laki-laki berusia 2 minggu.

Gadis itu tidak berusaha menghiburnya ketika si bayi menangis, berjuang bahkan untuk melihat wajahnya. Keluarga mengajukan laporan ke polisi, tetapi pengaduan itu dibatalkan, dengan alasan kurangnya bukti.

"Aku ingin dia dihukum," kata gadis itu setelah diam lama.

"Saya ingin dia ditangkap dan dihukum karena dia tidak peduli dengan bayinya ... dia tidak bertanggung jawab."

(sumber: CNBCIndonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Ormas Pekat Laporkan Raffi Ahmad ke Polisi soal Pesta Usai Vaksinasi
Kasau : Di Era Disruptif, Pendidikan Adalah Fondasi Esensial
8 Kurir Narkoba Jaringan Internasional Ditangkap, Polisi Sita 4 Kg Sabu
Secara Resmi, Pangdam XVII/Cenderawasih Resmikan Kodim 1703/Deiyai
DKPP Berhentikan Arief Budiman sebagai Ketua KPU

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad
free web site hit counter