Home  / Ekbis
Alert! 40% Surat Utang Korporasi Berisiko Tinggi Saat Pandemi
Selasa, 20 Oktober 2020 | 22:17:26
Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki
JAKARTA - Pandemi virus Corona berdampak pada terganggunya arus kas perusahaan-perusahaan. Hal ini juga meningkatkan risiko atas penerbitan surat utang korporasi.

Berdasarkan data PT Pemeringkat Efek Indonesia, sampai saat ini ada 135 perusahaan yang menerbitkan surat utang korporasi dengan nilai outstanding mencapai Rp 418,21 triliun.

Dari jumlah tersebut, ternyata ada 54 perusahaan yang surat utangnya berisiko tinggi (high) atau setara 40% dari total outstanding Rp 183,06 triliun. Lalu, sebanyak 53 perusahaan atau 39,3% berisiko moderat dengan outstanding Rp 139,21 triliun. Sedangkan, surat utang korporasi dengan risiko sangat tinggi (very high) ada sebanyak 7 perusahaan senilai Rp 13,78 triliun.

Direktur Utama Pefindo, Salyadi Saputra menuturkan, pandemi tidak hanya menghantam perusahaan-perusahaan BUMN, melainkan juga perusahaan asing dan perusahaan besar nasional.

"Pandemi ini betul betul berpengaruh kepada emiten surat utang korporasi. Mudah-mudahan pasar surat utang di Indonesia tidak begitu banyak yang default. Ada perusahaan BUMN, perusahaan asing, kemampuan mereka bertahan cukup tinggi," kata Salyadi, dalam webinar bertajuk Restrukturisasi dan Tindakan Korporasi, Selasa (20/10/2020).

Salyadi menuturkan, fenomena ini terjadi di hampir semua negara karena emiten menghadapi tekanan arus kas karena aktivitas perekonomian yang terguncang pandemi, sehingga risiko membayar kewajiban mengalami peningkatan.

"Kalau saya lihat di India, saya pernah dengar ada rating moratorium selama 3 bulan, tidak ada rating action di sana sekarang. Jadi perbandingannya biasanya updgrade rating dalam kondisi normal lebih banyak, kondisi pandemi berbeda, downgrade lebih banyak," tuturnya.

Pefindo juga mencatat, banyak perusahaan yang terganggu arus kasnya bahkan perusahaan dengan peringkat triple AAA maupun perusahaan pelat merah. Sebagai contoh, PT Angkasa Pura selaku pengelola bandar udara yang notabene Badan Usaha Milik Negara (BUMN) juga mengalami penurunan penerimaan, sehingga arus kas mengalami penurunan sebesar 20%.

Menurut Salyadi, kemampuan perusahaan menjaga arus kas di masa krisis seperti ini sangat penting, karena karena membayar utang tidak bisa memakai aset atau laba bersih.

(CNBCIndonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Pemerintah Akan Tarik Utang Rp360 T untuk Infrastruktur
Surat Terbuka Untuk Kapolda Maluku Utara
Banyak Nyinyir Utang, Ini Jawaban Mengejutkan Sri Mulyani
Sri Mulyani Buka-bukaan Utang Pemerintah, Benar RI Bangkrut?
Pjs Bupati Rohil Kawal dan Buat Surat Pernyataan Pasien Positif OTG

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad
free web site hit counter