Home  / Ekbis
Pengusaha Pesimis RI Selamat dari Ancaman Resesi
Rabu, 5 Agustus 2020 | 20:03:11
(CNN Indonesia/Safir Makki).
Kalangan pengusaha pesimis RI selamat dari ancaman resesi pada kuartal ketiga nanti, sebab proyeksi kuartal kedua pemerintah saja meleset jauh. Ilustrasi.
JAKARTA - Kalangan pengusaha pesimis Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dapat membawa RI selamat dari ancaman resesi pada kuartal ketiga nanti. Sebab, rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal kedua minus 5,32 persen atau lebih dalam dibandingkan proyeksi pemerintah sendiri, yaitu 4,3 persen.

Wakil Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani menyebut sulit bagi pemerintah untuk mencetak pertumbuhan positif pada kuartal III 2020. Melihat penanganan wabah covid-19 yang lamban, ia memprediksikan pertumbuhan ekonomi masih negatif di kisaran 2 persen sampai 2,5 persen.

Itu artinya, Indonesia akan mengalami resesi. "Kami lihat pasti akan membaik, pasti ada peningkatan (kuartal III) tapi kalau untuk jadi positif itu tidak mudah, jadi kami targetkan sekitar minus 2 persen, kalau mau positif susah," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (5/8).

Pemerintah hanya memiliki sisa waktu dua bulan, yaitu Agustus dan September untuk menyelamatkan RI dari resesi. Untuk dapat mencetak pertumbuhan positif, Shinta menilai setidaknya ada 3 syarat yang harus mampu dilakukan pemerintah.

Pertama, percepat realisasi stimulus. Kunci agar ekonomi dapat melonjak dari minus 5 persen menjadi positif, yaitu memperbaiki dua sisi penggerak ekonomi, dalam hal ini, permintaan (demand) dan pasokan (supply). 

Shinta menyebut tak hanya daya beli masyarakat saja yang diungkit lewat bantuan sosial (bansos), bansos tunai (BLT), serta stimulus rumah tangga, tapi juga perlu meningkatkan permintaan, sehingga industri baik UMKM dan koperasi maupun korporasi dapat bergerak.

Dalam hal ini, ia nilai bantuan pemerintah kepada pengusaha seperti restrukturisasi kredit masih belum maksimal. 

"Kuncinya ada di situ, kami melihat kalau melakukan perbaikan ini kan dari supply dan demand. Permintaan ini harus dibuat, bagaimana? Dari stimulus untuk rumah tangga, misal program PKH, bansos, sembako, BLT, dan sebagainya," lanjutnya. 

Kedua, kesigapan pemerintah dan seluruh jajarannya. Di tengah krisis kesehatan yang merembet ke krisis sosial dan ekonomi ini, Shinta menyebut sense of crisis (respons terhadap krisis) masih belum terlihat. 

Lihatlah, bisnis masih dilakukan seperti biasanya. Ambil contoh, proses ekspor dan impor bahan penolong industri yang hingga saat ini masih sama, bertele-tele dan sulit. 

Seharusnya, menurut Shinta, pemerintah membantu pengusaha yang ingin menggerakkan perekonomian dalam negeri dengan melakukan aktivitas ekonomi, bukan menghalangi.

"Dalam pengaturan perizinan harus diperbaiki, jangan sudah kondisi covid-19, izin impor barang penolong susah. Akan susah (pulih) kalau hal-hal yang sangat penting baik impor-ekspor sulit," ungkapnya.

Ketiga, lanjut dia, membangun kepercayaan pasar. Caranya, dengan mengendalikan kurva pandemi covid-19. Sejauh ini, angka infeksi di Indonesia terus menanjak.

Jika pemerintah mau keluar dari jerat resesi, sudah seharusnya angka infeksi dapat terkendali. Selama pandemi belum ditanggulangi, kepercayaan pasar belum akan pulih. Pasalnya, ketidakpastian masih tinggi.

Namun, Shinta menyebut penerapan protokol kesehatan bergerak dua arah. Selain usaha pemerintah, masyarakat juga harus memiliki kesadaran tinggi untuk mematuhi protokol kesehatan.

(CNNIndonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Sri Mulyani Pastikan RI Resesi, Rupiah Merosot ke Rp14.785
Sebagai Saksi Nikah Putri Ketua JMSI Riau, Gubri: Patuhi Protokol Kesehatan Covid-19
Kapolsek Teluk Meranti Rapat Koordinasi Operasi Yustisi 2020
118 ASN Terpapar Covid-19, Pemprov Riau Minta Pegawai Terapkan Protokol Kesehatan
Wagubri: Mari Beri Dukungan Moril Pada Nakes Menangani Covid-19

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad
free web site hit counter