Home  / Ekbis
Beda Suara Kabinet Jokowi soal Resesi
Rabu, 29 Juli 2020 | 07:47:55
(ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA).
Perbedaan pandangan antara Menko Airlangga dan Menkeu Sri Mulyani soal resesi bergantung pada asumsi seberapa cepat Indonesia mampu mengendalikan kasus corona. Ilustrasi.
JAKARTA - Pemerintah tak satu suara soal proyeksi resesi ekonomi di Indonesia. Sebut saja, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberi sinyal Indonesia akan masuk jurang resesi pada kuartal III 2020.

Pasalnya, pertumbuhan ekonomi diperkirakan negatif selama dua kuartal berturut-turut. Airlangga menyebut pertumbuhan ekonomi diprediksi minus 3,4 persen pada kuartal II dan minus 1 persen pada kuartal berikutnya.

Proyeksi itu berbanding terbalik dengan prediksi Menteri Keuangan Sri Mulyani yang lebih optimis Indonesia bisa lepas dari jerat resesi ekonomi. Pada kuartal II 2020, Sri Mulyani memperkirakan laju ekonomi minus 4,3 persen.

Namun, pada kuartal III 2020 ia melihat peluang laju ekonomi domestik dapat berbalik ke arah positif sebesar 0,4 persen.

Selanjutnya, pertumbuhan ekonomi diyakini membaik pada kuartal IV 2020 ke posisi 2 persen hingga 3 persen. Jadi, secara tahunan bendahara negara optimis ekonomi Indonesia bisa tumbuh positif kasus corona di Indonesia terkendali.

"Kondisi ekonomi kita keseluruhan setahun (2020) masih berada di zona positif," katanya lewat video conference, Selasa (28/7).

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menilai hendaknya pemerintah bisa satu suara di hadapan masyarakat. Utamanya, dalam kondisi ekonomi tertekan akibat pandemi covid-19.

"Kalau ada perbedaan pandangan harusnya dibahas internal pemerintah dulu, dalam rapat terbatas (ratas). Jadi, tidak diungkapkan di publik," ujarnya kepada CNNIndonesia.com.

Ia menilai perbedaan proyeksi pertumbuhan ekonomi dapat memunculkan kebijakan yang berbeda pula dalam menangani kondisi menantang ini. Karenanya, ia menyarankan agar pemerintah memiliki satu suara sehingga bisa menentukan fokus dan prioritas dalam membuat kebijakan.  

"Tentu akan beda kalau ada yang katakan optimis strateginya ABCD, tapi yang satu kalau lebih realistis dia akan memilih strategi DEF. Itulah kenapa di internal seharusnya ada satu pandangan dulu supaya ada titik prioritas," ucapnya.

Terkait resesi sendiri, ia meminta pemerintah mematok target secara realistis. Toh, sejumlah lembaga keuangan internasional juga telah merilis prediksi masing-masing terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Misalnya, prediksi World Economic Outlook (WEO) menyatakan ekonomi Indonesia diramalkan mengalami resesi. Rinciannya, ekonomi diprediksi kontraksi 3,1 persen pada kuartal II 2020. Kemudian, ekonomi mulai membaik pada kuartal III 2020 meski masih diramalkan minus sebesar 0,3 persen.

Lalu, Morgan Stanley memproyeksi ekonomi Indonesia minus 5 persen pada kuartal II 2020 dan minus 1,5 persen pada kuartal III 202. Ini artinya, Indonesia bisa saja mengalami resesi pada kuartal III 2020 berdasarkan proyeksi Morgan Stanley.

Berkaca dari riset tersebut, ia menilai target realistis pemerintah akan jauh lebih baik. Alih-alih memberikan rasa khawatir, sikap realistis terhadap potensi resesi ekonomi justru memberikan kesempatan bagi pemerintah untuk mempersiapkan langkah antisipatif begitu pula dengan masyarakat dan dunia usaha. 

"Mereka bisa mengambil langkah antisipatif, contohnya bank lebih selektif dalam menyalurkan kredit. Lalu, masyarakat harus tahu penghasilan mereka akan berkurang dan harus antisipasi kencangkan ikat pinggang, ubah gaya hidup, terutama masyarakat yang memiliki kredit," katanya.

Indef sendiri memprediksi Indonesia mengalami resesi tahun ini. Alasannya, realisasi penyaluran dana Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) baru mencapai Rp136 triliun, atau hanya 19 persen dari anggaran senilai Rp695,2 triliun per 23 Juli 2020.

Padahal, stimulus merupakan kunci utama mendorong konsumsi masyarakat yang merupakan motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi.

Karenanya, ia memprediksi pertumbuhan ekonomi di kuartal II mengalami kontraksi sebesar 4 persen. Sedangkan di kuartal III 2020, ekonomi juga masih minus di kisaran minus 1,3 persen hingga minus 1,75 persen dengan asumsi realisasi program PEN masih di bawah 30 persen.

"Ternyata realisasinya hanya 19 persen, tidak optimal," ucapnya.

Bahkan, lanjutnya, ia menuturkan pemerintah telah kehilangan momentum dalam pemulihan ekonomi di kuartal II ini.  Sebab, secara historis pertumbuhan ekonomi di kuartal II lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal III.

Ia menyadari jika pertumbuhan ekonomi di kuartal II 2020 dipastikan negatif karena ada kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang menghambat seluruh aktivitas masyarakat.

Namun, jika dana PEN digelontorkan secara besar- besaran di kuartal II 2020, maka ekonomi Indonesia diramal membaik di kuartal III 2020 ataupun tekanannya tidak sedalam pada kuartal II 2020.

Bahkan, apabila penyaluran PEN di atas 30 persen, maka ia menuturkan terdapat peluang ekonomi di kuartal III 2020 bisa tumbuh positif.

"Ketika kuartal II turun, harusnya memang saat itu digenjot, sehingga kuartal III 2020 tidak terlalu buruk," ucapnya.

Sementara itu, Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi mengatakan tidak terdapat masalah pada perbedaan prediksi terkait resesi tersebut. Sebab, arah kebijakan yang diambil dua menteri ekonomi itu masih sama, yakni mendorong pemulihan ekonomi melalui pemberian stimulus fiskal.

"Saya rasa tidak ada masalah, kecuali jika keduanya ekstrim pada satu hal, dan yang ini ekstrim pada yang lainnya. Saya melihat gap asumsi Pak Airlangga dan Bu Sri Mulyani tidak terlalu jauh. Toh, sebelumnya Bu Sri Mulyani pernah mengatakan Indonesia bisa jadi potensi resesi, jadi mereka masih sejalan," ucapnya.

Menurutnya, Indonesia masih berpeluang untuk tumbuh positif pada kuartal III 2020. Sebab, sejumlah indikator makro menunjukkan pemulihan pada Juni dibandingkan Mei.

Misalnya, indeks pembelian manajer (Purchasing Managers Index/PMI) meningkat 10 poin dari 28,6 poin di Mei menjadi 39,1 poin pada Juni. Kenaikan PMI terjadi secara global yang menunjukkan jika aktivitas manufaktur telah kembali.

Selain itu, Fithra menuturkan aktivitas ekspor dan impor juga mulai bergeliat pada Juni. Kinerja ekspor mencapai US$12,03 miliar atau naik 15,09 persen dari Mei 2020. Sementara nilai impor hanya mencapai US$10,76 miliar atau naik 27,56 persen dari bulan sebelumnya.

Imbasnya, neraca perdagangan dalam negeri mengalami surplus US$1,27 miliar secara bulanan pada Juni 2020.

"Ini semua bergantung bagaimana kita memanfaatkan momentum yang sudah ada tadi bisa dilanjutkan di kuartal III. Momentumnya Juni sangat baik, inflasi, ekspor, impor, PMI kalau misalnya bisa dorong lagi kemungkinan kita kuartal III masih bisa tumbuh positif," katanya.

Namun, Fithra mengingatkan, optimisme di kuartal III akan hilang apabila kasus covid-19 belum landai hingga September mendatang. Jika kemungkinan terburuk itu terjadi, maka Fithra memprediksi ekonomi bisa negatif di kuartal III 2020.

Per Selasa (28/7), kasus positif virus corona di Indonesia secara kumulatif mencapai 102.051 kasus Jumlah kasus konfirmasi positif tersebut bertambah 1.748 kasus dibandingkan sehari sebelumnya. Dari jumlah tersebut, sebanyak 60.539 orang dinyatakan sembuh, dan 4.901 orang meninggal dunia.

(CNNIndonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Pererat Hubungan TNI dan Warga, Prajurit Satgas Pamrahwan 754 Lakukan Anjangsana di Kampung Asmira Papua
Kapolri Idham Azis Mutasi Besar-besaran, 410 Pati dan Pamen Digeser
Klaim Zona Hijau Risma dan Data Merah Sebaran Corona Surabaya
Kapolri Idham Azis Mutasi 92 Perwira Tinggi dan Perwira Menengah
Ekonomi RI Diprediksi Minus 3,58 Persen pada Kuartal II 2020

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad
free web site hit counter