Home  / Ekbis
IMF Prediksi Ekonomi RI Jatuh ke Level Terendah Sejak 1998
Sabtu, 27 Juni 2020 | 18:51:46
Foto: Reuters
JAKARTA - Dana Moneter Internasional (IMF) kembali memangkas perkiraan ekonominya pada Rabu (24/6/2020). Bahkan outlook bertajuk 'A Crisis Like No Other, An Uncertain Recovery' ini menghadirkan ramalan yang kian buruk soal ekonomi global.

Ekonomi global diprediksi akan -4,9%. Angka ini lebih rendah 1,9 poin persentase dibanding outlook IMF pada April 2020 yang hanya -3%. "Pandemi Covid-19 memiliki dampak yang negatif pada paruh pertama 2020 daripada yang diperkirakan," tulis lembaga itu, dikutip CNBC Internasional pada Kamis (25/6/2020).

Khusus Indonesia, IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi RI pada 2020 -0,3% dan akan rebound di 2021 menjadi 6,1%. Padahal pada April lalu IMF masih optimis memandang ekonomi RI masih dapat tumbuh 1,5%.

Bila prediksi ini benar maka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan menyentuh level terendah sejak 1998, ketika krisis moneter melanda tanah air. Pada 1999, ekonomi RI mulai pulih dengan pertumbuhan ekonomi 0,79%.

Sedangkan negara maju diperkirakan akan mengalami kontraksi 8% di 2020, meski tumbuh 4,8% di 2021. Amerika Serikat akan berkontraksi 8% sedangkan Zona Eropa kontraksi 10,2%.

Ekonomi Italia dan Spanyol akan -12,8% sedangkan Prancis -12,5%. Jerman -7,8% sementara Inggris -10,2%. Kanada, akan -8,4%. Sementara ekonomi Jepang -5,8%.

Sedangkan Ekonomi negara berkembang secara general akan minus 3%, dan akan positif kembali 5,9% di 2021. Di mana China di 2020, tetap tumbuh 1%. Namun kawasan Asia lain mencatat kontraksi, seperti India -4,5% dan ASEAN-5 -2%.

Dalam wawancara yang dilakukan dengan para ekonom pekan lalu, IMF juga sudah memberi kisi-kisi outlook akan sangat buruk. Ekonomi global disebut akan menderita krisis keuangan terburuk sejak Great Depression tahun 1930-an.

IMF bahkan krisis saat ini sebagai `Great Lockdown`. Lembaga itu bahkan berujar krisis saat ini tidak seperti apapun yang pernah dilihat di dunia sebelumnya.

"Untuk pertama kalinya sejak Depresi Hebat, baik ekonomi maju atau berkembang akan mengalami resesi pada tahun 2020. Data Outlook mendatang sepertinya menunjukkan tingkat pertumbuhan negatif, bahkan lebih buruk daripada yang diperkirakan," kata Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath dalam sebuah blog, dikutip dari CNBC International.

Buruknya ramalan ekonomi di 2020 tidak saja diberikan IMF. Ada dua lembaga lain, yang sebelumnya juga sudah memberikan prediksi serupa.

Melalui laporan `Global Economic Prospects` yang dirilis pada 8 Juni lalu, Bank Dunia meramal ekonomi global akan resesi di 2020 ini. Kegiatan ekonomi internasional akan menyusut 5,2% tahun ini atau merupakan resesi terdalam sejak Perang Dunia II.

Outlook terbaru Bank Dunia ini membuyarkan semua proyeksi awal tahun ini, di mana ekonomi global diprediksi tumbuh 2,5% di 2020.

Dalam laporan tersebut, aktivitas ekonomi negara maju disebut akan berkontraksi 7% pada tahun 2020. Karena permintaan dan pasokan perdagangan serta keuangan dalam negeri terganggu.

Dalam laporannya Bank Dunia juga memperkirakan akan ada kemungkinan paling buruk, yakni kontraksi ekonomi global hingga 8% di 2020. Di 2021 ekonomi juga diprediksi akan sedikit membaik dan tumbuh 1%.

Sementara untuk pertumbuhan ekonomi di Indonesia, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan yang flat atau datar, di posisi 0%. Pertumbuhan negara ASEAN paling signifikan terjadi di Vietnam, yang meski melambat tetap tumbuh 2,8%.

Bank Dunia juga memprediksi ekonomi AS -6,1% sementara kawasan Eropa -9,1%. Sedangkan ekonomi Jepang akan menyusut 6,1%.

Pasar dan ekonomi berkembang (EMDE`s) diperkirakan akan berkontraksi 2,5% di 2020. Ini merupakan kontraksi pertama sejak 60 tahun terakhir di mana pendapatan per kapita diperkirakan turun 3,6%.

Ekonomi Amerika Latin juga akan menyusut 7,2%. Sedangkan Asia Timur dan Pasifik turun 0,5%. Meski demikian pertumbuhan China tetap terjadi sebesar 1%.

Terakhir, Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) juga memprediksi ekonomi global akan berkontraksi setidaknya 6% pada tahun ini akibat penutupan ekonomi guna menekan angka wabah Covid-19.

OECD juga memperingatkan bahwa pemulihan ekonomi global akan "lambat dan tidak pasti" akibat munculnya ancaman penularan Covid-19 gelombang kedua (second wave) pada tahun ini. Output (keluaran) ekonomi dunia bahkan diprediksi menyusut hingga 7,6% pada tahun 2020.

Output ekonomi biasanya didefinisikan sebagai jumlah barang atau jasa yang diproduksi dalam periode waktu tertentu oleh masyarakat, perusahaan, atau pemerintah, baik untuk dikonsumsi langsung atau diolah kembali untuk produksi lebih lanjut.

Dengan adanya kekhawatiran penyusutan output tersebut, ini akan diikuti dengan pertumbuhan PDB global pada 2021 antara 2,8% dan 5,2%.

Menurut OECD, pertumbuhan PDB global bisa mencapai 5,2% pada 2021 jika hanya ada gelombang pertama Covid-19. Namun jika ada gelombang kedua, maka PDB pada tahun depan hanya akan naik 2,8%.

Penyebaran virus corona (Covid-19) kini sudah mencapai 9.910.135 kasus terjangkit, 496.991 kasus kematian, dan 5.360816 kasus berhasil sembuh per Sabtu (27/6/2020). AS dan Brasil menjadi negara dengan kasus terjangkit terbanyak yang mencapai angka jutaan.

Sedangkan Indonesia kini menduduki peringkat ke-29 dengan kasus terjangkit terbanyak di dunia. Menurut data Worldometers, Indonesia memiliki 51.427 kasus terjangkit, 2.683 kasus kematian, dan 21.333 pasien berhasil sembuh.

Dengan jumlah tersebut, Indonesia juga menduduki peringkat pertama di wilayah ASEAN, mengalahkan Singapura yang hanya memiliki 42 ribu kasus terjangkit.

(CNBCIndonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Bersempena HUT RI Ke 75, Polsek Tenayan Raya Berikan Bendera Merah Putih dan Sembako ke Warga Pinggiran Sungai Siak
Konflik Belum Usai! Anak Eka Tjipta Gugat Harta Warisan Lagi
Panglima TNI Terima Audiensi Pengurus PB FORKI
Komando Operasi Khusus TNI Gelar Latihan Penanggulangan Terorisme
Polda Riau Tangkap Rampok Sadis Yang Tembak dan Bakar Mobil Korbannya

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad
free web site hit counter