Home  / Ekbis
Ekspor Sudah Loyo 10 Bulan, Pemerintah Bisa Apa?
Selasa, 17 September 2019 | 15:56:44
(CNBC Indonesia/Efrem Limsan Siregar)
Foto: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution
JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis, nilai ekspor Indonesia turun selama 10 bulan beruntun. Lantas, jurus apa yang disiapkan pemerintah mengatasi merosotnya ekspor di Indonesia?

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution mengatakan guna memperbaiki nilai ekspor, pemerintah telah menyiapkan beberapa strategi, dalam waktu dekat. Terutama memperbaiki perizinan investasi di dalam negeri.

Darmin mengatakan, minggu lalu pada sidang kabinet, telah diputuskan untuk membuat omnibus law. Di mana semua persoalan investasi akan disederhanakan dan diatur dalam satu payung hukum yang sama.

Kendati demikian, lanjut Darmin, untuk mengatur omnibus law dibutuhkan waktu yang tidak sebentar dan tidak mudah.

"Karena undang-undang itu pasti lama. Pemerintah itu merencanakan omnibus law-nya akan disampaikan begitu pelantikan pemerintahan dan DPR baru [periode 2019-2024]," ujar Darmin di Jakarta, Senin (17/9/2019).

Perubahan besar perizinan, kata Darmin akan berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekspor. "Tapi pertama-tama [dampaknya] investasi secara umum," kata dia melanjutkan.

Salah satu daftar yang akan diubah kata dia, misalnya saja perbaikan sistem investasi melalui one single submission (OSS). Pasalnya, di dalam OSS masih terdapat beberapa peraturan yang masih dilakukan secara offline, misalnya saja dalam mengurus izin membangun bangunan (IMB).

Darmin menerangkan, ke depan proses pengurusan IMB akan dimudahkan, tanpa ada satu proses yang menyulitkan persetujuan, sesuai dengan standar yang ditetapkan.

"Kalau nanti standarnya sudah ada, gak perlu rapat banyak-banyak, sudah langsung diteken, komit. Kalau dia bilang iya, sudah langsung diberikan [IMB]. Tapi nanti kita orientasi bukan memberi izin," ungkapnya.

Untuk diketahui, pada Agustus, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia pada Agustus adalah US$ 14,28 miliar. Turun 9,99% secara year-on-year (YoY).

Catatan ini memperpanjang rekor koreksi ekspor menjadi 10 bulan berturut-turut. Rantai terpanjang sejak Oktober 2014-Juli 2016.

Kepala BPS Suhariyanto menyebutkan, bahwa penurunan ekspor Indonesia disebabkan koreksi harga sejumlah komoditas andalan. Dia mencontohkan harga batu bara anjlok 44% YoY, minyak sawit mentah (CPO) amblas 19,42% YoY, dan karet ambrol 6,25% YoY.

Kinerja ekspor Indonesia belum berubah, masih sangat bergantung kepada komoditas. Ini yang membuat ekspor begitu tertekan saat terjadi penurunan harga di tingkat dunia. Andai Indonesia bisa mengubah haluan ekspor dari berbasis komoditas menjadi produk manufaktur, mungkin ceritanya berbeda.

(cnbcindonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Segera Dilarang Ekspor, Ini Fakta Besarnya Kekayaan Nikel RI!
Gawat! Kali Pertama Ekspor Karet RI Anjlok Ratusan Ribu Ton
Wagubri Resmikan Riau Ekspor Kerang Dara Ke Thailand
Mei 2019, Ekspor Riau Alami Peningkatan 5,95 Persen
Siap-Siap Jangan Kaget, Ekspor Minyak Sawit Bakal Jeblok

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad