Home  / Ekbis
Giant Bakal Tutup Gerai Lagi, Bagaimana Kinerja Peritel Lain?
Jumat, 13 September 2019 | 14:24:36
(CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)
Foto: Gerai Giant Mampang yang Akan Tutup
JAKARTA - PT Hero Supermarket Tbk (HERO) tampaknya akan kembali menutup salah satu gerai supermarket Giant pada semester kedua tahun ini. Pasalnya, salah satu gerai Giant di Poins Square, Lebak Bulus sedang mengobral habis barang dagangannya dari 1 Agustus hingga 29 September.

Giant yang berada di lantai dasar Poins Square itu memang sudah menempelkan banyak selebaran pemberitahuan obral besar-besaran. Salah satunya tertulis 'Semua Harus Terjual Habis', dilansir dari Detiknews.com.

Sebelumnya, pada 28 Juli 2019 HERO telah resmi menutup enam jaringan ritel Giant, yakni Giant Express Cinere Mall, Giant Express Mampang, Giant Express Pondok Timur, Giant Extra Jatimakmur, Giant Extra Mitra 10 Cibubur, dan Giant Extra Wisma Asri (Bekasi Utara).

Lalu, di tahun 2018 perusahaan juga menutup 26 gerai Giant. Melansir laporan keuangan perusahaan tahun lalu, penutupan gerai ini merupakan salah satu langkah restrukturisasi bisnis perusahaan karena adanya penurunan yang berkelanjutan pada performa bisnis makanan.

Sebagai dampak atas restrukturisasi tersebut, HERO mencatat kerugian mencapai Rp 1,38 triliun. Alhasil, sepanjang tahun lalu perusahaan harus pasrah membukukan kerugian hingga Rp 1,25 triliun.

Melihat catatan tahun lalu, sepertinya perusahaan masih belum dapat sepenuhnya membangkitkan performa bisnis makanan mereka.

Hingga saat ini CNBC Indonesia belum mendapatkan keterangan resmi dari manajemen HERO terkait informasi detail penutupan gerai ini. Tony Mampuk, Corporate Affairs GM Hero Supermarket menegaskan sudah lagi tak menjabat di posisi tersebut dan merekomendasikan narasumber Hero lainnya.
 Perseroan juga belum memberikan keterangan resmi di Bursa Efek Indonesia.

Sampai akhir Juni 2019, kinerja keuangan HERO terlihat belum pulih karena mencatatkan pertumbuhan negatif baik di pos pendapatan maupun laba.

Total pendapatan HERO pada semester I-2019 melemah 2,53% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp 6,67 triliun dari sebelumnya Rp 6,85 triliun di semester I-2018.

Kinerja bottom line (laba bersih) perusahaan bahkan lebih parah, karena pada periode yang sama laba bersih anjlok 76,97% YoY ke level Rp 7,9 miliar dari Rp 34,3 miliar.

Melansir siaran pers HERO pada 31 Juli 2019, Presiden Direktur HERO Patrik Lindvall menyampaikan bahwa penurunan keuntungan disebabkan oleh investasi yang signifikan pada bisnis IKEA, salah satu merek ritel yang dimiliki perusahaan.

Lindvall juga mengatakan bahwa IKEA dan Guardian (merek ritel kesehatan dan kecantikan) berhasil mencatatkan pertumbuhan penjualan dua digit pada paruh pertama tahun ini.

Akan tetapi, investor tetap patut mencermati posisi arus kas dan setara kas HERO yang terkoreksi hingga 64,45% dibandingkan dengan Juni 2018. Terlebih lagi arus kas operasi perusahaan tercatat negatif Rp 209,47 miliar, dari sebelumnya positif Rp 372,69 miliar. Arus kas operasional negatif umumnya mengindikasikan trend penurunan laba.

Lalu bagaimana sebenarnya performa peritel makanan lainnya? 

Minimarket Catatkan Imbal Hasil Tertinggi

Sepanjang semester pertama tahun ini, salah satu pesaing HERO, PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) juga mengalami nasib serupa, meskipun koreksi pada kinerja keuangan perusahaan tidak terlalu parah.

Sebagai informasi, LPPF juga mengelola salah satu merek ritel Hypermart yang merupakan pesaing dari Giant.

Total pemasukan LPPF hingga akhir Juni terbilang stagnan dengan hanya tumbuh 0,59% secara tahunan menjadi RP 5,95 triliun. Sayangnya, keuntungan yang dikantongi perusahaan turun 13,6% YoY menjadi hanya Rp 1,16 miliar.

Dari tabel di atas terlihat bahwa, LPPF lebih unggul dari HERO karena meskipun laba bersih perusahaan turun, imbal hasil (Net Profit Margin/NPM) yang dibukukan masih menyentuh level dua digitm yakni 19,53%. Sementara imbal hasil HERO hanya 0,12%.

Di lain pihak, ritel makanan dalam bentuk minimarket mencatatkan kinerja fundamental yang lebih kokoh, seperti yang dikelola oleh PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dan PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET). Salah satu gerai ritel minimarket yang dikelola AMRT adalah Alfamart, sedangkan gerai yang dikelola DNET adalah Indomaret.

Di saat laba HERO dan LPPF tumbuh negatif, laba AMRT dan DNET malah melesat dengan kenaikan masing-masing sebesar Rp 83,58% dan 139,18%.

Terlebih lagi, DNET berhasil mencatatkan tingkat imbal hasil hingga 55,38%, di mana perolehan tersebut disokong oleh penghasilan keuangan atas pendapatan investasi jangka pendek yang mencapai Rp 241,8 miliar.

Sementara itu, imbal hasil AMRT hanya 1,11% disebabkan tingginya beban penjualan dan distribusi perusahaan.

(cnbcindonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Hong Kong Kembali Rusuh, Stasiun MRT Dilempar Bom
Koran Malaysia Berumur 80 Tahun Ini Tutup, 800 Karyawan PHK
RI Tarik Utang Baru Rp 284,7 T, Buat Apa Aja? Nih Buktinya
Wamena Rusuh, Pelajar Rusak Kantor dan Ruko
Lagi, Polresta Pekanbaru Amankan 4,8 Kg Lebih Sabu dan Ribuan Ekstasi

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad