Home  / Ekbis
Jangan Takabur, Startup Ini Bangkrut Meski Berstatus Unicorn
Senin, 18 Februari 2019 | 18:26:29
Foto: Freepik
JAKARTA - Dalam debat calon presiden kedua, Minggu (17/2/2019), capres nomor 01, Joko Widodo alias Jokowi, bertanya kepada capres nomor 02, Prabowo Subianto, soal unicorn-unicorn di Indonesia.

Setelah mendengar pertanyaan itu, Prabowo menjawab: "Yang Bapak maksud unicorn? Unicorn? Maksudnya-apa itu-yang online-online itu?"

Unicorn adalah sebuah istilah untuk perusahaan perusahaan rintisan (startup) yang memiliki valuasi US$ 1 miliar. Perusahaan unicorn di Indonesia adalah Go-Jek, Tokopedia, Bukalapak, dan Traveloka. Saat ini baru ada 7 startup unicorn di Asia Tenggara.

Meski memiliki valuasi besar dan disokong investor kelas kakap, bukan berarti startup unicorn tidak bisa bangkut. Risiko startup jenis ini bangkrut tetap masih tinggi.

Salah satunya adalah Theranos. Startup di bidang kesehatan ini dibentuk Elizabeth Holmes pada tahun 2003. Startup ini menjanjikan bisa menjalankan ratusan tes kesehatan dari setetes darah, sebuah konsep yang jika mampu dilakukan, akan merevolusi sektor kesehatan.

Forbes melaporkan, Selama perjalanannnya Theranos sudah mengumpulkan dana investor sebesar US$910 juta dan memiliki valuasi US$9 miliar. Sedikit lagi menyandang status decacorn, seperti dilansir Senin (18/2/2019).

Namun kemudian Theranos divonis melakukan kebohongan publik. Penelitian test darahnya palsu. Akhirnya perusahaan ditutup dan menyatakan diri bangkrut.

Contoh lainnya, startup penyewaan sepeda, Ofo. Startup ini sangat populer di China, bahkan sudah merambah beberapa negara seperti Singapura. Ofo Bahkan disokong oleh Alibaba Grup.

Business Insider melaporkan, Ofo didirikan oleh Dai Wei. Startup ini awalnya merupakan penelitiannya ketika kuliah. Pada tahun 2017, Ofo berhasil mengumpulkan dana sebesar US$2 miliar dari investor. 

Dalam sebuah surat internal yang telah beredar luas di media lokal, pendiri dan CEO Ofo Dai Wei mengakui bahwa startup ini sedang berada dalam tekanan cashflow 'besar' selama setahun terakhir dan diisukan dengan mengajukan kebangkrutan. 

Ofo menghadapi arus kas berdarah-darah karena persaingan yang ketat di pasar yang masih belum terbukti secara komersial, kata para analis. Kebijakan perang harga dengan menurun biaya sewa menjadi 1 yuan per jam bahkan gratis bikin keuangan perusahaan babak belur.

"Ofo dibajak dengan modal," kata Zhang Yi, pendiri perusahaan konsultan iiMedia Research. "Investor ingin perusahaan bersaing, tetapi persaingan telah berubah, kacau dan tidak rasional. Sekarang, dengan penilaian tinggi, tidak ada yang mau mendanai bisnis ini lagi."

(cnbcindonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
PBB di Ambang Kebangkrutan, Siapa Negara yang Nunggak Iuran?
Forever 21 Bangkrut, Ini Nasib Gerai Jakarta & Singapura!
Kalah Saing Dengan Grab & Gojek, Startup Ini Bangkrut
Mengenal Istilah Unicorn dalam ‘Dunia’ Startup
Jual Aset karena Keuangan Pertamina Seret, Ini Penjelasan Menko Darmin

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad