Home  / Article
Cerita Ibu Bolak-balik Tes Covid, Bayi Meninggal di Kandungan
Jumat, 19 Juni 2020 | 09:09:00
(Foto: Pexels/Pixabay)
Seorang ibu hamil di Makassar harus kehilangan bayi dalam kandungannya, diduga karena ada kesalahpahaman komunikasi dengan rumah sakit terkait tes swab.
MAKASSAR - Seorang ibu hamil di Makassar bernama Ervina Yana, (30) kehilangan bayinya dalam kandungan, Selasa, (16/6) lalu. Peristiwa ini viral di media sosial, dengan sang ibu diisukan tak mampu membayar biaya pemeriksaan tes swab hingga akhirnya keguguran.

Disebutkan bahwa ibu tersebut harus berpindah-pindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya sejak Rabu, (10/6) karena tidak mampu membayar pemeriksaan swab, Rp 2,4 juta. Hingga akhirnya calon bayi dinyatakan meninggal dunia dalam kandungan, Selasa, (16/6) saat berada di RS Ibu & Anak Ananda.

Ervina Yana, ibu yang kehilangan calon anak ke tiganya itu kini didampingi aktivis perempuan dari Forum Pemerhati Masalah Perempuan (FPMP) Sulsel, Ita Karen.

Saat dikonfirmasi, Kamis malam ini, (18/6), Ita Karen mengatakan saat ini pasien Ervina Yana berada di RSUP Wahidin Sudirohusodo. Pasien dalam proses pemulihan setelah menjalani operasi untuk mengeluarkan jasad bayinya.

Ita Karen menjelaskan sebenarnya ada salah paham komunikasi antara pihak rumah sakit dan pasien hingga tersiar pemberitaan soal ketidakmampuan membayar pemeriksaan swab.

"Kalau saya mendengar keterangan dari Ervina dan suaminya, ada komunikasi yang tidak nyambung. Informasi yang tidak tersampaikan antara pihak RS dan pasien," kata Ita Karen.

Kata Ita, Ervina bukan tidak mampu bayar biaya pemeriksaan swab. Karena saat dia berada di RS Unhas, Rabu (10/6) malam, pemeriksaan swab tidak berbayar.

Di RS Unhas ini Ervina dilayani dan diminta datang keesokan harinya untuk ambil antrean pemeriksaan swab. Tapi Ervina tidak kembali lagi ke RS Unhas dan muncul di RSIB Ananda, Selasa, (16/6). Di rumah sakit ini, bayi dalam kandungan dinyatakan telah meninggal dunia.

"Ini yang kami cari tahu sekarang kenapa pasien Ervina tidak kembali ke RS Unhas padahal di sana sudah ditunggu. Malah menunda ke rumah sakit padahal sudah bulannya melahirkan. Sepekan kemudian baru ke RSIB Ananda tapi bayinya telah meninggal dunia," ujarnya.

Pasien Pindah-pindah RS

Ervina merupakan peserta JKN-KIS. Sehingga kata Ita persoalan rapid test dan swab itu harusnya tidak ada masalah karena difasilitasi negara. Dia juga punya asuransi kesehatan yang menunjuk RS Sentosa sebagai tempat persalinannya.

Ervina punya riwayat penyakit diabetes melitus dan hipertensi. Setiba di RS Sentosa, Rabu, (10/6), dia diarahkan ke RS Khadijah atau RS Stella Maris dengan alasan peralatan operasi mereka tidak lengkap.

Ervina kemudian ke RS Khadijah. Namun ternyata di RS tersebut peralatan operasi juga tidak lengkap.

"Pasien lalu ke RS Stella Maris. Awalnya harus di-rapid test dulu dan hasilnya reaktif. Prosedur lanjutan, harus dilakukan dua kali pemeriksaan swab sebelum persalinan. Biayanya Rp4 juta lebih. Pihak RS Stella Maris kemudian menyarankan ke RS Unhas karena RS Stella Maris bukan rumah sakit rujukan Covid-19  juga di RS Unhas pemeriksaan swabnya tidak berbayar," kata Ita Karen.

Ervina lantas ke RS Unhas. Setelah konsultasi masalahnya, dia diminta datang keesokan hari untuk antre pemeriksaan swab, namun dia tidak datang.

Ervina keesokan harinhya ke RSIB Ananda, 16 Juni tapi di rumah sakit itu dia juga masih menyembunyikan status reaktif hasil rapid test-nya. Pihak RS Ananda sempat melakukan rapid test dan hasilnya tetap sama yakni reaktif. Saat itu juga diketahui bayi dalam kandungan telah meninggal dunia.

"Karena pertimbangan pasien tidak mampu, pasien ini kemudian jalani pemeriksaan swab secara gratis. Hasil pemeriksaan swab-nya keluar 17 Juni. Saya tidak tahu apa hasil pemeriksaan swab itu tapi yang jelas pasien dirujuk ke RS Unhas karena RSIB Ananda bukan rumah sakit rujukan Covid-19. Karena di RS Unhas sudah full, akhirnya dirujuk ke RSUP Wahidin Sudirohusodo dan telah jalani operasi mengeluarkan bayinya," ujarnya.

Dikonfirmasi terpisah, Direktur RS Stella Maris, dr Lusia Nuhuhita membantah tudingan menolak pasien karena tidak mampu membayar pemeriksaan swab.

Lusia mengatakan pasien Ervina masuk ke RS Stella Maris, Rabu sore (10/6). Dia masuk sebagai pasien umum membawa surat pengantar dari dokter praktik untuk operasi, Kamis, (11/6).

Saat di UGD, pasien menjalani screening yakni rapid test dan hasilnya reaktif. pada saat itu lah Ervina mengaku sebagai peserta asuransi Garda Medika. Jadi biaya rapid test yang dikeluarkannya dikembalikan ke pasien karena dalam tanggungan asuransi.

Lusia menuturkan dengan hasil rapid test reaktif, pasien harus menjalani pemeriksaan swab. Di sisi lain pasien ini sudah harus dioperasi keesokan harinya. Namun, setelah mempertimbangkan kondisi kehamilannya, pasien akhirnya diarahkan ke RS Unhas.

Menurut Lusia kondisi kehamilan pasien saat itu tidak gawat. Masih dalam batas normal. Posisi bayi juga belum masuk ke panggul.

"Sementara dipersiapkan rujukan onlinenya ke RS Unhas tapi pasien ini bilang akan berangkat sendiri supaya lebih cepat. Sampai di sini saja kami. Jadi kami luruskan, di Stella Maris itu tidak bayar apa-apa. Biaya rapid test-nya justru telah dikembalikan karena dalam tanggungan asuransi," ujar Lusia.

(CNNIndonesia.com)


Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Progres Pemeriksaan Rapid Test di Riau Capai 160 Persen
Kemenkes Tetapkan Tarif Maksimal Rapid Test Corona Rp150 Ribu
Update Covid-19 Bengkalis, Satu Pasien PDP Meninggal Dunia
Kabar Duka, Satu Pasien Covid-19 Asal Inhu Meninggal Dunia
120 Orang Warga Sei Apit Siak Lakukan Rapid Test

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad
free web site hit counter