Home  / Article
Cerita Isye, Tertular HIV, Melawan Stigma, hingga Wakili Indonesia di HWC
Kamis, 25 Juli 2019 | 15:45:35
(RENI SUSANTI)
Anggota Tim Nasional Homeless World Cup (HWC) 2019, Isye Susilawati.
BANDUNG - Isye Susilawati menghela napas. Pikirannya menerawang ke masa lalu, saat-saat terberat dalam hidupnya, akhir 2005 silam. 

Tahun itu, Isye divonis HIV positif. Ia tertular dari suaminya, pengguna narkoba dengan jarum suntik. 

Mendapat vonis itu, Isye terpukul. Ia minder, tidak percaya diri, jatuh terjerembab, dan merasa hampa. 

Apalagi, selama ini ia merasa tidak pernah berbuat aneh, nakal, atau melakukan hal-hal berisiko tinggi yang bisa membuatnya terkena HIV.  
"Berat banget untuk mengakui dan menerima saya HIV positif. Butuh waktu dua tahun untuk saya bisa menerima ini," ujar Isye kepada Kompas.com di Bandung, belum lama ini. 

Puncaknya, saat ia mengalami diare akut dan kandidiasis oral selama tiga pekan. Berat badannya turun 23 kilogram dari 50 kilogram menjadi 27 kilogram. 

Badannya yang kurus kering membuatnya enggan melihat kaca. Kalau melihat kaca, bawaannya ingin membanting kaca tersebut. 

Saat-saat terberat ini dilaluinya bersama keluarga, terutama anaknya yang saat itu masih berusia 5 tahun. Anak terbesarnya inilah yang merawat Isye. 
Saat ia merintih kesakitan karena penyakitnya, sang anak yang memberinya obat. Semakin besar, anaknya pula yang mengingatkan Isye untuk meminum ARV dan cek rutin ke dokter. 

"Dia yang tahu saya saat ngedrop. Dia yang selalu memberikan obat. Dia yang menjadi motivasi saya untuk bertahan sampai sekarang. Dia pernah berkata, Bunda harus bisa melihat kakak sampai dewasa, kuliah," ungkap Isye, dengan mata berkaca-kaca. 

Berkat anaknya, ia bisa menerima penyakitnya dengan ikhlas tanpa merasa benci pada suaminya. Sebab, pada awal divonis HIV, kerap ada kalimat, "Gara-gara kamu (suaminya), saya jadi seperti ini".

Namun, semakin lama, ia melihat rasa dendam terhadap suami tidak akan menyelesaikan masalah. Rasa minder yang menderanya pun tidak akan mengubah status HIV positifnya. 

Ia pun mulai membuka status kepada orang lain. Ada yang mendukung, ada pula yang malah memberikan stigma. 

"Orang tahu saya tertular dari suami. Tapi, suka ada orang yang berkarta, kamu dulunya nakal sih dan lain-lain," ucap dia. 

Meski stigma kerap menghampiri perjalanan hidupnya, ia bertekad menjalani hidup dengan bekerja dan mengurus keluarga. 

Hingga suami meninggal pada 2011, beberapa tahun kemudian ia menikah lagi dengan sesama pengidap HIV dan dikaruniai satu anak. 

Suami kedua meninggal pada 2018. "Sekarang saya single parent. Tidak mudah, tapi saya dan anak-anak menjalaninya dengan baik," ucap dia. 

Saat ini, anak pertamanya sudah menginjak semester III di salah satu perguruan tinggi di Bandung dan anak keduanya baru masuk SD. 

"Mereka negatif (HIV)," tutur dia. 

Sepak bola 

Selain mengurus anak, Isye kini aktif di Rumah Cemara dan bekerja di Female Plus sebagai pendukung sebaya. Dari pekerjaannya di LSM inilah, ia bisa menghidupi keluarganya. 

Ia pun tetap aktif berolahraga. Bahkan, ia terpilih menjadi satu-satunya wanita dalam tim nasional Homeless World Cup ( HWC) 2019. 

Isye bersama tim akan mewakili Indonesia untuk berlaga di Cardiff City, Inggris, pada 27 Juli-3 Agustus 2019.

Perjuangan Isye untuk gabung di timnas HWC 2019 tidak diperoleh dengan mudah. Ia memulainya pada 2013 saat menjuarai pertandingan sepak bola tingkat Jabar.

Tadinya, Isye akan diberangkatkan dengan tim HWC lain pada 2014 tetapi batal. Tak mau menyerah, ia kemudian ikut seleksi pada 2019 dan menjadi peserta perempuan satu-satunya. 

Selama seleksi dan latihan, ia mengaku tidak pernah canggung walau semua anggota tim lainnya laki-laki. Ia tetap latihan serius mengocek bola dan berperan maksimal sebagai pemain depan. 

Isye dinyatakan lolos dan akan segera bertolak ke Inggris untuk mengikuti pertandingan. 

Dalam HWC ini, Isye mengangkat isu perempuan HIV positif bahwa mereka tetap bisa berkarya. 

"Jangan menyerah sehingga dipandang sebelah mata. Kita bisa bangkit sama seperti laki-laki," kata dia. 

(kompas.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Teror HIV di Pakistan, Lebih dari 600 Orang Anak Ikut Tes
Dokter Pakistan Diduga Sengaja Tularkan HIV Kepada Anak-anak
Prajurit Dan Persit Yonif 132/BS Terima Sosialisasi Penyuluhan Tentang HIV/AIDS
Pasukan Perdamaian Indobatt Ikuti Penyuluhan HIV/AIDS di Lebanon
Hingga Oktober 2017, Sebanyak 135 Orang Di Kampar Terinveksi HIV - AIDS

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad