Home  / 
Pantun Jadi Warisan Budaya Dunia Takbenda, Kemendikbud Ajak Semua Melestarikan
Sabtu, 19 Desember 2020 | 21:19:38
(Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)
Kembang api menyala menyambut pergantian tahun 2018 ke 2019 di kawasan Monumen Nasional, Jakarta, Selasa (1/1). Hujan yang mengguyur Jakarta tidak menyurutkan warga menikmati kembang api tahun baru.
JAKARTA - Tradisi pantun telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda, pada 17 Desember 2020. Penetapan itu berlangsung pada sidang UNESCO sesi ke-15 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage di Kantor Pusat UNESCO di Paris, Prancis.

Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Hilmar Farid mengatakan, momentum ini adalah langkah awal untuk melestarikan tradisi pantun.

"Ini bukan merupakan akhir perjuangan, melainkan langkah awal kita semua untuk melestarikan tradisi mulia ini. Seluruh pemangku kepentingan hendaknya mulai bergerak bersama dan menyatukan tekad dengan satu tujuan: membuat pantun tetap hidup dan tidak hilang ditelan zaman," ujar Hilmar Farid dalam keterangannya, Sabtu (19/12/2020).

Hilmar Farid mengimbau agar sanggar-sanggar pantun harus terus dibina agar tumbuh dan berkembang.

"Komunitas-komunitas digiatkan, siapkan bahan ajar agar peserta didik terdorong untuk menggunakan pantun, dan berikan penghargaan kepada mereka yang mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan pantun," imbuh dia.

Untuk diketahui, nominasi pantun yang diajukan secara bersama oleh Indonesia dan Malaysia ini menjadi tradisi budaya Indonesia ke-11 yang diakui oleh UNESCO. Sebelumnya, Pencak Silat diinskripsi sebagai Warisan Budaya Takbenda pada tanggal 12 Desember 2019 lalu.

UNESCO menilai pantun memiliki arti penting bagi masyarakat Melayu. Bukan hanya sebagai alat komunikasi sosial, namun juga kaya akan nilai-nilai yang menjadi panduan moral. Pesan yang disampaikan melalui pantun umumnya menekankan keseimbangan dan harmoni hubungan antarmanusia.

"Pantun menyediakan wadah untuk menuangkan ide, menghibur, atau berkomunikasi antar manusia, tanpa membedakan ras, kebangsaan, atau agama. Tradisi pantun mendorong rasa saling menghormati antar komunitas, kelompok, dan individu," jelas Hilmar Farid.

Tunjukkan Rasa Peduli pada Pantun

Pada kesempatan ini, Hilmar pun sangat mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk menominasikan pantun, baik yang ada di Indonesia maupun di Malaysia.

Adapun pantun adalah bentuk syair Melayu yang digunakan untuk mengungkapkan gagasan dan emosi yang di dalamnya terdapat seni penyampaian metaforis menggunakan bahasa halus dan sopan.

Sebagai sebuah tradisi lisan, pantun diajarkan oleh para tetua dan pemuka adat kepada generasi yang lebih muda melalui aktivitas kehidupan sehari-hari, maupun melalui jalur ritual dan adat yang lebih formal.

"Marilah kita tunjukkan rasa peduli pada pantun. Gunakanlah ia untuk membuka atau menutup acara, baik kegiatan formal maupun nonformal, atau dalam berbagai kesempatan lain. Pantun dapat digunakan oleh siapapun dan dimanapun. Jangan malu dan sungkan untuk berpantun," pesan Hilmar.

(sumber: liputan6.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Wagubri Hadiri Pelantikan Pengurus DPP Lembaga Laskar Melayu Bersatu
`Takkan Melayu Hilang di Bumi` Dampak Globalisasi Menggerus Budaya Lokal
Ini Dia Juara Gelanggang Pantun se Riau
Putera Rohil Wakili Riau Lomba Pantun Tingkat Nasional
Kreatif di Masa Pandemi, Dispar Riau Gelar Iven Pekan Rantau Melayu

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad
free web site hit counter