Home  / 
Tak Percaya Corona, Anggota DPRD Diminta Hidup Bareng Pasien
Selasa, 11 Agustus 2020 | 19:51:11
(Foto: CNN Indonesia/Said)
Warga Ambon membuang peti mayat setelah merampas jenazah dari ambulans dikawasan jalan Jenderal Sudirman, Desa Batu Merah, Kota Ambon, Maluku. Jumat, (26/6).
AMBON - Wali Kota Ambon Richard Louhenapessy meminta Gunawan Mochtar anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Ambon untuk sementara waktu tinggal bersama pasien positif virus corona (Covid-19) dilokasi penampungan di Hotel Everbright Ambon Maluku.

"Kalau mau membuktikan bahwa covid itu rekayasa silakan saudara datang tinggal bersama pasien covid dilokasi karantina di Hotel Everbright," kata Richard di Gedung Balai Kota Ambon, Selasa (11/8).

Richard juga meminta politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu untuk sementara memindahkan aktivitas perkantoran di tempat penampungan pasien covid dan bekerja di sana sehingga memastikan kondisinya benar-benar bebas dari wabah corona.

"Kalau tak percaya silakan datang saja dan tinggal di sana, bekerja di sana, supaya bisa buktikan bahwa kamu sehat atau terpapar," tuturnya.

Ia bilang, Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon sudah membuktikan bahwa virus corona (Covid-19) benar-benar ada dan bukan rekayasa pemerintah. Itu dibuktikan dengan peningkatan kasus warga yang terinfeksi virus corona. 

"Per Selasa (11/8) sebanyak 832 orang. Kasus terkonfirmasi per hari meningkat, lalu di mana rekayasa, dan di mana uang daerah digunakan untuk poya-poya," kata dia.

Richard menilai pernyataan sang anggota dewan tersebut merupakan pernyataan perorangan dan bukan pernyataan resmi. Sebab kata dia DPRD Ambon secara kelembagaan mendukung penuh penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di kota Ambon Maluku. 

"Jadi itu pernyataan ngawur, pernyataan bukin gaduh, dan pernyataan yang bersumber perorangan,"ujarnya. 

"Jadi sekali lagi, saya meminta kalau mau buktikan bahwa covid itu tak ada, silakan datang dan tinggal bersama pasien covid," ungkapnya.

Sebelumnya anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Ambon Gunawan Mochtar mengeluarkan pernyataan bahwa virus corona merupakan rekayasa pemerintah untuk menghabiskan anggaran daerah. 

"Jadi corona ini jangan jadikan sebagai ajang untuk menghabiskan anggaran daerah,"ucap dia. 

Ia bilang selama wabah virus corona masuk ke Ambon pada Maret lalu, pemkot tidak bisa membuktikan bahwa korban yang dinyatakan meninggal di rumah sakit (RS) corona benar-benar terpapar virus corona (Covid-19) 

"Belum pernah satu pasien yang meninggal karena covid, semua meninggal karena penyakit bawaan, tetapi pemkot Ambon memvonis covid dan menguras anggaran," kata Gunawan di Gedung DPRD Maluku pada Jumat lalu. 

Gunawan menyebut Pembatasan Sosial Berskala Besar  (PSBB) yang tengah berlangsung tengah menghabiskan dana sekitar miliaran rupiah namun tidak menunjukan hasil yang membaik malahan menambah angka kasus terkonfirmasi per hari mengalami peningkatakan.

"Biar seratus kali pun dilakukan PSBB otomatis angka covid bertambah, kalau pejabat yang melakukan perjalanan dinas keluar dan masyarakat masuk kota tidak dilakukan karantina,"pungkasnya.

Tes Swab
Pemkot Ambon, Maluku menggelar tes swab selama dua pekan untuk melacak penyebaran virus corona. Wali Kota Richard mengatakan tes swab ini wajib diikuti seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup Pemkot Ambon. 

Ia bilang pelaksanaan swab massal dilakukan mengingat Balai Kota Ambon memiliki hubungan erat dengan beberapa perkantoran yang tengah terpapar Covid-19.

"Hari ini per Selasa (11/8) mulai dilaksanakan swab dan akan berakhir pada Selasa (24/8) pekan depan. Swab ini ada kaitan dengan klaster baru penyebaran virus corona (Covid-19) di beberapa perkantoran," kata Richard.

Per Selasa (27/7) lalu sekitar 24 pegawai Kantor Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Ambon dinyatakan terinfeksi virus corona (Covid-19).

Kemudian, per Selasa (4/8) anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Maluku dan dua orang pegawai sekretariat DPRD Maluku terpapar virus corona usai melakukan kunjungan kerja di Jakarta.

"Jadi harus ada langkah-langka pemulihan antisipasi yang di ambil untuk pencegahan wabah yang menular melalui klaster baru, sehingga swab ini sangat penting sebab ada kaitan erat di bidang pelayanan,"imbuh dia. 

Setelah seluruh spesimen ASN di ambil kemudian akan dibawa dan diperiksa di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) Karang Panjang Ambon  dan hasilnya baru akan diketahui pada satu bulan kemudian.  

"Jadi spesimen di ambil selama 2 minggu, lalu diperiksa di BTKL, kemungkinan hasil baru diketahui satu bulan kemudian. Jadi wajib semua pegawai pemkot Ambon ikut swab, terkecuali yang tengah melakukan perjalanan dinas,"imbuh dia. 

Politikus Golkar ini mengaku selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi tahap II Ambon mengalami pelonjakan kasus terkonfirmasi yang cukup memprihatinkan. 

Ia berujar per hari kasus terinkonfirmasi virus corona semakin bertambah. Hingga per Selasa (11/8) kasus terkonfirmasi positif virus corona di Ambon tercatat  sebanyak 832 orang terpapar Covid-19. 257 orang tengah dirawat, 557 orang dinyatakan sembuh dan 18 orang dilaporkan meninggal dunia.

"Jadi angka konfirmasi corona tinggi akibat aktivitas pergerakan orang keluar masuk Ambon terbilang tinggi. Harus ada  langkah-langkah antisilasi mulai di ambil sebagai upaya pencegahan menghadapi klaster baru di perkantoran ,"ungkapnya.

(CNNIndonesia.com) 

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Air Putih, Rahasia Bertahan Penyintas Covid-19
Covid-19 Belum Berakhir, Polwan Polsek Teluk Meranti Sosialisasikan Protokol Kesehatan
Bawaslu Beri Rekomendasi Gugurkan 6 Paslon di Pilkada 2020
Tak Pakai Masker, 29 Warga Terjaring Razia Operasi Pemburu Teking Kecamatan Tenayan Raya
Ciptakan Kamtibmas Kondusif, Polsek Pangkalan Kerinci Giatkan Patroli C3

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad
free web site hit counter