Home  / 
Ekonomi RI Diprediksi Minus 3,58 Persen pada Kuartal II 2020
Senin, 3 Agustus 2020 | 21:12:41
(ANTARA FOTO/Galih Pradipta).
Danareksa Research Institute memprediksi pertumbuhan ekonomi RI minus 3,58 persen pada kuartal kedua karena konsumsi masyarakat melemah. Ilustrasi.
JAKARTA - Danareksa Research Institute memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan minus 3,58 persen secara tahunan pada kuartal II 2020. Sementara, laju ekonomi minus 2,63 persen secara kuartalan pada periode yang sama.

Kepala Riset Ekonomi Danareksa Moekti P Soejachmoen mengatakan kontraksi ekonomi Tanah Air terjadi karena pandemi virus corona atau covid-19 semakin meningkat pada periode tersebut.

Tercatat, jumlah kasus virus corona meningkat dari 1.400 kasus pada akhir Maret menjadi 56 ribu pada akhir Juni 2020.

"Semua indikator ekonomi menunjukkan penurunan dan pertumbuhan yang lebih lemah," ungkap Moekti dalam keterangan resmi, Senin (3/8). 

Secara rinci, proyeksi penurunan ekonomi nasional tercermin dari penjualan eceran yang turun 17,37 persen secara tahunan pada kuartal II 2020. Begitu juga penjualan mobil dan sepeda motor, masing-masing turun 89,44 persen dan 79,7 persen 

Pertumbuhan kredit konsumen relatif lemah pada kisaran 2,32 persen. Hal ini mengindikasikan lemahnya permintaan hipotek (pinjaman) dan kredit kendaraan serta pinjaman multiguna, termasuk kartu kredit.

"Diberlakukannya pembatasan jarak sosial skala besar selama kuartal II 2020 memberikan kejutan besar untuk konsumsi rumah tangga karena orang menahan atau mengurangi konsumsi mereka," jelasnya. 

Lemahnya permintaan konsumen juga terindikasi dari turunnya indeks kepercayaan konsumen menjadi 72,63 pada kuartal II 2020. Penurunan didorong oleh aktivitas ekonomi yang lemah, terbatasnya ketersediaan lowongan kerja, dan pembatasan perekrutan karyawan baru.

Di sisi lain, konsumsi masyarakat yang lemah tidak sepenuhnya bisa ditutup oleh stimulus dari belanja pemerintah. Pasalnya, realisasi belanja pemerintah juga lemah, yakni baru mencapai kisaran 39,02 persen dari total pagu. 

Hal itu tak lepas dari pendapatan pemerintah yang baru mencapai 47,72 persen atau terkontraksi 9,75 persen secara tahunan. Sebab, penerimaan pajak baru mencapai 44,49 persen atau terkontraksi 9,4 persen karena pendapatan bisnis yang lemah dan insentif pajak yang disediakan oleh pemerintah. 

Sementara indikator pertumbuhan lain, seperti investasi juga turun. Penjualan semen dan impor barang masing-masing turun 20,36 persen dan minus 20,07 persen. Sedangkan pertumbuhan kredit investasi cuma mencapai 5,61 persen. 

"Penurunan investasi pada kuartal II 2020 mencerminkan keterlambatan dalam berbagai kegiatan konstruksi, serta pembelian mesin dan peralatan lainnya yang lebih rendah," terang Moekti.

Lebih lanjut, lemahnya konsumsi dan investasi mempengaruhi sisi pasokan seperti tercermin dalam Indeks Manufaktur (Prompt Manufacturing Index/PMI) yang berkontraksi 44,76 persen. Penurunan terdalam berasal dari sektor tekstil minus 62,75 persen. 

Untuk kuartal III 2020, Danareksa Research Institute belum memberikan proyeksi angka pertumbuhan ekonomi, namun diperkirakan bisa meningkat lebih tinggi dari kuartal II 2020. Sebab, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mulai dilonggarkan. 

"Ini didukung oleh peraturan dari pemerintah dan lembaga terkait harus mendorong kegiatan ekonomi dan diterjemahkan ke dalam konsumsi yang lebih tinggi dan penyerapan anggaran negara yang lebih cepat," tuturnya. 

Sebelumnya, Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memperkirakan ekonomi nasional akan mencapai minus 4 persen pada kuartal II 2020. Hal ini terjadi karena daya beli masyarakat melemah seperti tercermin dari tingkat inflasi yang hanya mencapai 1,96 persen pada Juni 2020. 

Selain itu, juga terjadi karena realisasi pencairan anggaran penanganan dampak pandemi virus corona dan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang masih minim. 

"Artinya, kita akan kehilangan momentum di kuartal II yang seharusnya program PEN ini bisa jor joran dan besar-besaran," kata Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad. 

Sementara, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Keuangan Sri Mulyani kompak memperkirakan ekonomi Indonesia akan terkontraksi hingga 4,3 persen pada kuartal II 2020.

Namun, pemerintah berharap ekonomi membaik di kuartal III dan IV, sehingga laju ekonomi keseluruhan tahun ini masih bisa mencapai sedikit di atas nol persen. 

(CNNindonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Ini Imbauan Kepsek SMPN 29 Kepada Siswanya
Datangi Bank BRI, Polsek Kerumutan Pasang Banner Wajib Pakai Masker
Peletakan Batu Pertama Pembangunan Pos Yandu di RW 02 Kelurahan Industri Tenayan
Kata Sri Mulyani Soal Utang Luar Negeri RI yang Bombastis
TMMD Kodim 1711 Boven Digoel Sosialisasi Penerimaan Prajurit TNI AD

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad
free web site hit counter