Home  / 
Suntikan Rp5 T ke BPJS Cair Menetes, Distributor Obat Teriak
Jumat, 13 Desember 2019 | 21:31:42
Foto: CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto
JAKARTA - Tunggakan pembayaran utang program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kepada Distributor Farmasi (PBF) terus membengkak, berpotensi PBF gulung tikar. JKN dalam bentuk program pelayanan kesehatan dari pemerintah yang berwujud BPJS Kesehatan memang sedang bermasalah karena defisit keuangan. 

Saat ini, utang fasilitas kesehatan (faskes) ke Distributor Obat yang sudah jatuh tempo di akhir November 2019 diperkirakan sudah mencapai Rp 6 triliun. Angka itu belum termasuk tunggakan Apotek PRB (Program Rujuk Balik) BPJS Kesehatan ke PBF yang diperkirakan lebih dari Rp 1 triliun.

Direktur Eksekutif Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GPFI) Darodjatun Sanusi buka suara soal utang program JKN kepada Distributor Farmasi (PBF). Dia menyebut utang yang kian menumpuk bakal mengancam keberlangsungan industri farmasi secara keseluruhan.

"Kita juga kian kesulitan siapkan bahan baku kemasan dan harga udah sangat rendah sekali," katanya kepada CNBC Indonesia, Jumat, (13/11/2019).

Adanya perbedaan perlakuan karena pandangan status juga menjadi penyebab kecilnya dana yang turun kepada perusahaan distribusi farmasi. Dia juga menilai hal itu terjadi antara industri farmasi dengan faskes (fasilitas kesehatan). Uang bantuan pemerintah untuk BPJS pun cairnya menetes ke perusahaan distribusi farmasi.

"Selama ini kita dianggap co- provider, sedangkan Rumah Sakit sebagai provider. Artinya apa? yang dialokasikan faskes dulu baru kita dapat. Istilah teman-teman itu dapat aliran tetesan. Itu juga terjadi ketika pemerintah alirkan dana Rp 5,1 triliun ke BPJS, yang diterima industri farmasi hanya Rp 500 miliar," sebutnya.

Darodjatun mengusulkan agar dana yang dikucurkan pemerintah langsung diberikan kepada industri farmasi dengan dengan porsi 20%. Meski dia berharap bisa lebih dari itu.

"Yang kita minta utang-utang faskes dilihat oleh BPJS Kesehatan dialirkan 20%. Jika konsisten lumayan lah. Syukur 50%, tapi kita ngerti dananya nggak cukup," sebut Darodjatun.

Besarnya presentase bantuan yang diharapkan karena selama ini distributor harus menanggung beban tambahan modal kerja yang sangat besar dan bunga pinjaman bank yang besar karena piutang yang belum dibayarkan. Pada akhirnya beban tersebut menurunkan tingkat profitabilitas distributor obat yang saat ini sudah sangat rendah.

Menurut catatan GPFI, 90% obat-obatan JKN secara unit selama ini disuplai oleh anggota GPFI. Membengkaknya utang di program JKN akan berdampak pada industri penyuplai kebutuhan obat- obatan sehingga terjadi kekosongan obat di fasilitas kesehatan pelayanan JKN. 

(cnbcindonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Potensi Gagal Bayar BPJS Kesehatan Mengerikan Rp 15,5 T
Pemerintah Tolak Batalkan Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan
Kakanwil DJPb Riau Beberkan Hambatan Pencairan DAK Fisik dan Dana Desa 2019 di Riau
DPRD Bengkalis Bahas Pelayanan BPJS di Rapat Lintas Komisi
Gerindra Desak Pemerintah Tinjau Ulang Iuran BPJS Kesehatan

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad