Home  / 
KPK Geledah Kantor Dinas PU Kota Medan
Sabtu, 19 Oktober 2019 | 17:02:22
(merdeka.com/Imam Buhori)
Wali Kota Medan Dzulmi Eldin (kedua kiri) digiring petugas setibanya di gedung KPK, Jakarta, Rabu (16/10/2019). Dzulmi Eldin terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK terkait dugaan suap dari dinas-dinas di lingkungan Pemerintah Kota Medan.
Setelah menggeledah kantor Wali Kota Medan pada Jumat (18/10/2019) kemarin, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga menggeledah kantor Dinas Pekerjaan Umum Kota Medan di Jalan Pinang Baris Medan, Sumatera Utara, Sabtu pagi.

Penggeledahan sendiri dilakukan secara tertutup, sejumlah wartawan tidak diperbolehkan masuk ke Kantor Dinas PU.

"Mau ngapain? Di luar saja ya kalau mau ambil gambar," kata seorang pria kepada wartawan seperti dikutip Antara, Sabtu (19/10/2019).

Hingga saat ini tim penyidik KPK masih menggeledah kantor Dinas Pekerjaan Umum Kota Medan.

Sebagaimana diketahui, penggeledahan ini dilakukan pasca-ditetapkannya Wali Kota Medan Tengku Dzulmi Eldin sebagai tersangka dugaan kasus suap. Selain Tengku Dzulmi Eldin, KPK juga menetapkan dua tersangka lainnya yaitu pemberi suap IAN (Isa Ansyari) selaku Kepala Dinas PUPR Kota Medan dan SFI (Syamsul Fitri Siregar) selaku Kepala Bagian Protokoler kota Medan.

Sebagai pihak yang diduga penerima, Tengku Dzulmi dan Syamsul Fitir disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Pasal itu mengatur mengenai pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji, padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk menggerakkan agar melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya, yang bertentangan dengan kewajibannya dengan ancaman penjara minimal 4 tahun dan maksimal seumur hidup dan denda minimal Rp200 juta maksimal Rp1 miliar.

Pihak Pemberi Suap

Sedangkan sebagai pihak yang diduga pemberi: Isa Ansyari disangkakan melanggar pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Pasal tersebut yang mengatur mengenai orang yang memberi sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dengan maksud supaya pegawai negeri atau penyelenggara negara tersebut berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya, yang bertentangan dengan kewajibannya dengan ancaman hukuman minimal 1 tahun penjara dan maksimal 5 tahun penjara dan denda paling sedikit Rp50 juta dan paling banyak Rp250 juta.

(liputan6.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Khofifah Bersaksi untuk Romahurmuziy dalam Sidang Jual-Beli Jabatan di Kemenag
Hakim Jamaluddin Diduga Tewas 12-20 Jam Sebelum Ditemukan
Bupati Muara Enim Disebut Terima Suap Rp800 Juta Per Bulan
Komisi III DPR Minta Polisi Usut Tuntas Tewasnya Hakim PN Medan
Keluarga Hakim PN Medan Desak Polisi Cepat Tangkap Pelaku

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad