Home  / 
‘Buzzer’ Dinilai Bisa Geser Fokus Publik soal Kasus Novel Baswedan
Selasa, 8 Oktober 2019 | 18:40:23
(ANTARA FOTO/DHEMAS REVIYANTO)
Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan melambaikan tangan saat menghadiri acara penyambutan dirinya kembali aktif bekerja di pelataran Gedung KPK, Jakarta, Jumat (27/7/2018). Kegiatan itu sekaligus diselenggarakan untuk memperingati 16 bulan kasus penyerangan Novel Baswedan yang belum menunjukkan titik terang.
JAKARTA - Anggota tim penasihat hukum penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) Novel Baswedan, Alghiffari Aqsa, menilai, narasi negatif yang menyangkut Novel dan disebarkan oleh buzzer berisiko menjauhkan fokus publik dalam penuntasan kasus penyiraman air keras Novel. 

"Semakin banyak dan sistematisnya buzzer menyudutkan Novel tidak bisa dilepaskan dari capim KPK yang bermasalah, narasi Taliban, revisi UU KPK, dan penyerangan secara fisik kepada Novel," kata dia dalam keterangan tertulis, Selasa (8/10/2019). 

Di sisi lain, tenggat waktu tiga bulan yang diberikan Presiden Jokowi ke Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian dan tim teknis untuk menuntaskan kasus Novel juga akan habis. 

"Akan habisnya tenggat waktu yang diberikan oleh Presiden untuk mencari pelaku penyerangan terhadap Novel juga menjadi faktor. 'Orkestra' dari koruptor saya rasa sangat sempurna," katanya. 

Ia mengakui sebagian masyarakat mungkin terpengaruh dengan narasi menyangkut Novel. Mereka bisa menjadi ragu untuk mendukung Novel dan KPK. 

Meski demikian, Aqsa juga yakin semakin banyak masyarakat sadar bagaimana buzzer memanipulasi opini untuk menyudutkan Novel dan KPK. 

"Sebagian masyarakat mungkin terpengaruh, setidaknya ragu mendukung Novel dan KPK. Tapi banyak masyarakat sudah sadar soal bagaimana buzzer memainkan opini," katanya. 

Sebelumnya Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengklarifikasi tiga isu miring menyangkut Novel. 

Pertama, foto hitam putih Novel dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang sedang duduk bersama seusai shalat di masjid. 

Foto itu kemudian dikaitkan berimplikasi dengan sebuah lembaran yang tertulis "Tanda Bukti Penerimaan Laporan/Informasi Dugaan TPK". 

Febri memastikan, informasi mengenai laporan pengaduan soal biaya Frankfurt Book Fair tahun 2015 Pemprov DKI yang dikait-kaitkan dengan foto Novel dan Anies itu tidak berhubungan.

Kedua, foto Novel yang sedang berada di bandara. Dalam narasi yang beredar, Novel disebut mau jalan-jalan. 

Twit itu juga disertai penyebutkan akun-akun Twitter lain. Foto itu diunggah oleh salah satu pengguna Twitter Ary Prasetyo, @Aryprasetyo85, pada Rabu (25/9/2019). 

Febri memastikan bahwa saat itu Novel berada di bandara karena hendak menjalani pengobatan mata di Singapura, bukan untuk jalan-jalan. 

Ketiga, kata Febri, ada narasi yang sempat muncul pada saat Pansus Angket KPK berjalan yang kembali mencuat di media sosial. 

"Seperti keterangan salah satu tersangka di KPK yang terkait dengan kasus suap terhadap Ketua Mahkamah Konstitusi bahwa seolah-olah ada seseorang yang menyerahkan indekos 50 kamar di Bandung sebagai tukar guling perkara," kata dia dalam keterangan pers, Kamis (3/10/2019). 

Febri menyatakan, KPK saat itu sudah menepis narasi yang diedarkan saat itu. Ia menyesalkan masih ada pihak-pihak yang menyebarkan informasi bohong menyangkut Novel, padahal Novel sudah menjadi korban penyiraman air keras. 
"Kami mengajak semua pihak menggunakan kebebebasan berkomunikasi dan menyampaikan informasi secara bertanggungjawab dan hati-hati," ujar dia.

(kompas.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Menggugat Keseriusan Jokowi untuk Selesaikan Kasus HAM
Kapolri Lapor ke Jokowi, Penyerang Novel Baswedan Masih Gelap
KontraS Catat 1.056 Kasus Pembatasan Kebebasan Berkumpul
Ivan Gunawan Diperiksa dalam Kasus Salon Kecantikan Ilegal
Suporter Timnas Dianiaya di Malaysia, Pelakunya 15 Orang

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad