Home  / 
KPK Tetapkan 4 Tersangka Korupsi Pengadaan 20 Kapal Bea Cukai
Selasa, 21 Mei 2019 | 17:21:15
(Ahmad Bil Wahid/detikcom)
Foto: Gedung KPK
JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan empat orang sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan 20 kapal di Bea Cukai dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Dalam kasus dugaan korupsi pengadaan 16 kapal Patroli Cepat (Fast Patrol Boat/FPB) di Bea Cukai, KPK menetapkan 3 orang tersangka. Yakni Prahastanto (IPR) selaku Pejabat Pembuat Komitmen, Heru Sunarwanto (HSU) selaku Ketua Panitia Lelang dan Amir Gunawan (AMG) selaku Dirut PT Daya Radar Utama (DRU).

"Dugaan kerugian negara dalam perkara ini adalah Rp 117.736.941.127," kata Wakil Ketua KPK Saut Situmorang di dalam konferensi pers di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa (21/5/2019).

IPR diduga mengarahkan panitia lelang untuk tidak memilih perusahaan tertentu karena IPR diduga telah menentukan perusahaan yang dipanggil.

Kasus di Bea Cukai ini bermula pada 2012. Saat itu Sekjen Bea Cukai mengajukan permohonan persetujuan kontrak tahun jamak kepada Sekjen Kemenkeu untuk pengadaan 16 kapal patroli cepat dengan jenis FCB 28 m, 38 m, dan 60 m. Ditjen Bea Cukai pun mendapat alokasi anggaran tahun jamak untuk pengadaan kapal senilai Rp 1,12 triliun.

"Setelah dilakukan uji coba kecepatan, 16 kapal tersebut tidak dapat mencapai kecepatan sesuai ketentuan," ujarnya seperti dilansir detikcom.

Meski tidak memenuhi persyaratan, Bea Cukai tetap menerima dan membayar. 9 dari 16 kapal itu dikerjakan oleh PT DRU. 

"Selama proses pengadaan IPR diduga menerima EUR 7 ribu sebagai sale agent mesin yang dipakai oleh 16 kapal. Diduga kerugian keuangan negara dari pengadaan 16 kapal ini sekitar Rp 117,7 miliar," ujar Saut.

Untuk kasus kedua, yaitu pengadaan 4 kapal SKIPI pada KKP ada dua orang tersangka yakni Aris Rustandi (ARS) selaku PPK dan Amir Gunawan yang juga jadi tersangka di kasus Bea Cukai.

"Dugaan kerugian keuangan negara Rp 61.540.127.782," ucap Saut.

Untuk kasus di KKP ini, pengadaan dilakukan mulai 2012 saat Menteri KKP waktu itu menetapkan PT DRU sebagai pemenang pekerjaan kapal SKIPI dengan penawaran Rp 558.531.475.423 atau saat itu setara USD 58.307.789. Saut menyebut 4 kapal SKIPI itu tidak sesuai spesifikasi yang dibutuhkan.

"Pada 2016 ARS telah membayar seluruh termin pembayaran kepada PT DRU senilai USD 58.307.788 atau setara Rp 744.089.959.059. Padahal diduga biaya pembangunan 4 unit kapal SKIPI hanya Rp 446.267.570.055," jelas Saut.

(cnbcindonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Bakamla RI Bakal Tambah Tiga Kapal Patroli Baru
Bambang Widjojanto: KPK Dihabisi di Era Presiden Jokowi
KPK Resmi Menahan Wali Kota Medan Tengku Dzulmi Eldin
Fix Nih? UU KPK Anyar Berlaku Besok, Mahasiswa Demo!
KPK: Staf Protokol Wali Kota Medan Melarikan Diri saat OTT

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad