PULAU RANGSANG, riaueditor.com - Hujan lebat yang terus menerus mengguyur di Kabupaten Kepuluan
Meranti menyebabkan akses jalan poros di Pulau Rangsang terendam banjir.
Hal ini diakibatkan debit air diberbagai parit atau kanal yang
menjadi saluran pembuangan air tak lagi mampu menampung curah hujan. Akibatnya air di parit-parit yang terbentang sepanjang jalan poros
meluap ke jalanan.
Akses jalan lintas di sejumlah desa di Rangsang
Barat, Rangsang Pesiri dan Rangsang Timur, sempat terendam banjir.
Meskipun ketinggian banjir masih normal, namun menyulitkan warga
beraktivitas.
Pada sisi lain dengan tingginya curah hujan ini
membawa berkah juga bagi para petani di Rangsang Barat dan Ransang
Pesisir. karena ancaman kegagalan panen akibat banjir air asin yang
menenggelamkan hamparan sawahnya mampu di netralisir dengan derasnya air
hujan yang turun.
Burhannuddin (46 th) Kepala SMAN 3 Rangsang
mengatakan, curah hujan yang tinggi dalam tiga hari terakhir ini
menyebabkan akses jalan poros Kecamatan Rangsang Pesisir di rendam
banjir. Ketinggin banjir mencapai lebih dari 40 cm, dan menyebabkan
aktifitas lalu lintas roda dua terganggu. Sejumlah warga terpaksa
mendorong kendaraannya karena tingginya banjir.
“Kalau hujan
masih terus turun, dipastikan ketinggian banjir yang merendam akses
jalan poros ini akan semakin tinggi. Jelas, akses jalan poros ini tidak
akan bisa dilalui kendaraan. Banjir yang merendam jalan poros yang
menghubungkan dua kecamatan ini menyebabkan warga harus berjalan lebih
dari 1 kilo meter” ungkap Burhan yang terpaksa harus ikut mendorong
kendaraan roda duanya bersama puluhah warga desa lainnya yang akan ke
kota Selatpanjang via jalan darat Tanjung Kedabu-Kedaburapat- Lemang
Peranggas.
Hal sama juga diungkapkan Sri Kurnia (38 th). Menurut
Ibu beranak satu ini, kanal-kanal atau parit yang menjadi saluran
pembuangan air tak lagi mempu menampung debit curah hujan salama tiga
hari berturut-turut. Akibatnya, debit air meluap kejalanan dan
menyebabkan terjadinya banjir. Dampak dari kondisi ini, masyrakat di
berbagai pelosok pedesaan di Rangsang kesulitan untuk mengakses jalan
lintas ke kota Selatpanjang. Warga terpaksa harus rela berjalan kaki,
lebih dari 1 kilo meter.
“Sepertinya banjir akan semakin dalam,
Soalnya, cuaca mendung masih terus bergelayut di Pulau Rangsang. Kalau
hujan masih tetap terus turun, bisa dipastikan akses jalan darat ke
kota Selatpanjang akan putus total. Ribuan warga desa di Tg. Kedabu,
Bungur, Tenggayun tidak bisa mengakses kota Selatpanjang via jalan
darat. Mau tidak mau, harus menyusuri sungai dengan menggunakan pompon
yang memakan waktu sektiar 2-13 jam” beber Nia.
Sementara
fenomena pasang rob yang terjadi di akhir tahun mulai menerjang kawasan
pulau terluar Meranti, di Pulau Rangsang. Dalam tiga hari terakhir,
ketinggian air pasang mulai naik dan masuk areal perkampungan warga desa
Melai melalui sungai Melai dan Sungai Senteng. Dusun sungai Senteng
yang letaknya diujung utara desa Melai, menjadi daerah yang paling
pertama di rencam banjir air masin. Akses jalan poros dusun Sungai
Senteng Melai, mulai dibanjiri air masin. Akibatnya, sejumlah warga
terpaksa meliburkan anak-anaknya karean merasa tidak aman. Meskipun
ketinggian banjir air asin yang menenggelami jalan desa masih relative
normal, sekitar 20 cm, pihak pengelola TK desa Melai juga turut
meliburkan aktifitas belajarnya.”
Sementara itu, dari pantauan di
Desa Melai, halaman rumah warga sudah terendam banjir. Ketinggian
banjir yang merendam halaman rumah warga diperkirakan lebih dari 40 cm.
Hal yang sama juga terjadi di Desa Kedaburapat. Meskipun luput dari
banjir air asin, sejumlah rumah warga mulai dikepung banjir akibat
tingginya curah hujan.
sumber : haluankepri.com