Tak Terima Jadi Tersangka, Pemilik Gudang Gugat Kapolda Riau, Tuntut Rp1 Milyar dan Minta Maaf di Media

Redaksi Redaksi
Tak Terima Jadi Tersangka, Pemilik Gudang Gugat Kapolda Riau, Tuntut Rp1 Milyar dan Minta Maaf di Media
riaueditor

Lalu, pada tanggal 23 Agustus 2021, Fernando memesan sembako lagi dari gudang atas pemesanan dari pihak Toko yang mengaku dari Kabupaten Siak. Setelah barang sembako dimuat, Fernando ternyata menyuruh supir untuk mengantarkan sembako ke Pemesan yang mengaku di Siak.

Pemesanan berlanjut, pada tanggal 24 Agustus 2021, Fernando kembali memesan sembako dari gudang Korban, juga atas pesanan dari pihak dari Siak. Kembali, Ia menyuruh supir untuk mengantarkan sembako tersebut ke pemesan.

Curiga, keluarga Korban karyawannya, membuntuti mobil truk tersebut menuju lokasi si pemesan. Ternyata, gudang itu bukan di Kabupaten Siak melainkan di Jalan Riau Kota Pekanbaru.

Disitu, pihak korban mendapati beberapa orang sedang membongkar atau memindahkan barang sembako milik mereka dari 3 (tiga) unit mobil pick up yang juga milik mereka, ke dalam gudang milik Huidiyanto.

Suami korban pun menyuruh para pekerja gudang anak buah Huidiyanto untuk memindahkan barang-barang milk korban yang telah dibongkat dari 3 unit mobil pick up itu dan dimuat kembali ke dalam mobil mereka dan membawa kembali barang-barangnya itu kembali ke gudang UD Jaya Mandiri.

Menurut Adik Korban, Amri, masih ada barang-barang mereka di dalam Gudang tersebut yang diduga hasil penggelapan selama ini. Namun saat itu, kedua belah pihak sepakat agar barang-barang itu tidak keluar dari Gudang selama proses hukum dari kepolisian usai mereka melapor.

"Jadi saat itu, kita (Pihak Korban dan Tersangka, red) minta itikad baik mereka. Sama-sama sepakat agar barang-barang sembako yang ada di dalam Gudang itu, untuk tidak keluar dari Gudang. Menurut kami, sebagian besar adalah milik kami yang digelapkan oleh Fernando. Jadi sama-sama menggembok ruko dan malam harinya pun pihak Huidiyanto dan Joni mengirimkan para karyawannya ke kantor kami untuk sama-sama menghitung," ujar Amri.

Dalam pengakuan Fernando kepada pihak korban, selama ini Ia bekerja sama dengan Huidiyanto. Ia menjual barang-barang sembako milik korban kepada Huidiyanto dengan harga murah (dibawah harga modal, red) dan menyuruh supir mengantarkan barang-barang sembako ke gudang Huidiyanto.

Fernando membuat faktur penjualan palsu agar korban tidak mengetahui barang-barang sembako tersebut dijual kepada Huidiyanto dengan harga murah.

Bahkan, Fernando malah tidak menyerahkan uang pembayaran barang-barang sembako sesuai 46 faktur penjualan sejumlah kurang lebih Rp3,4 miliar kepada Korban. Ia menyuruh Huidiyanto mengirimkan uang pembayaran barang-barang sembako itu ke rekening orang tuanya sendiri, berisinial NS.

Fernando mengaku, Ia menggunakan uang hasil pembayaran barang-barang sembako tersebut untuk keperluan pribadi dan keluarganya.

Selang beberapa hari sejak dilaporkan ke Polisi, pihak Korban yang mendapat informasi bahwa Huidiyanto dan Joni ternyata mengosongkan Gudang mereka. Pihak Korban pun langsung turun ke lokasi gudang di Jalan Riau itu.

"Kami pun mendatangi Gudang tersebut untuk cek barang dan ternyata sudah kosong. Kami disambut dengan sikap tidak koperatif. Barang-barang kami sudah hilang. Sikap mereka beda, kalau tanggal 24 Agustus lalu mereka tidak membantah. Tapi awal September itu, sepertinya kami dipancing. Kami ditantang-tantang. Kami duga kami mau dijebak supaya memukul lalu nanti dilaporkan ke Polisi. Kami pulang dan tidak melakukan apa-apa," ucap Amri.

Ternyata, Huidiyanto dan Joni semakin melawan. Pada 07 September 2021, mereka melapor ke Polda Riau dan menggelar jumla pers di Mapolda Riau yang disampaikan Kuasa Hukumnya, Doni Warianto SH. Mereka mengaku dirampok oleh pihak korban berjumlah 9 orang.

Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini