Bisnis Angkutan Ekspor-Impor di Batam Terancam Lesu

Redaksi Redaksi
Bisnis Angkutan Ekspor-Impor di Batam Terancam Lesu
foto: Ist
BATAM - Bisnis jasa pengangkutan barang ekspor-impor atau freight forwarding di Batam berpotensi lesu terseret melemahnya industri pelayaran akibat situasi ekonomi global yang tengah menurun.

Ketua Gabungan Forwarder dan Ekspedisi Indonesia (Gafeksi) Batam, Daniel Burhanuddin mengatakan, dampak dari sepinya bisnis pelayaran bisa melebar sampai ke freight forwarding yang mulai terihat kelesuan di Singapura.

"Ada dampaknya karena bisa melebar dan merembet. Itu sebenarnya pertama (terjadi) di Singapura karena (lalu lintas ekspor-impor) dari sana kurang," ujarnya, Rabu (4/3/2015).

Pemilik perusahaan freight forwarding PT Esqarada ini menuturkan, dengan banyaknya kapal idle di luar negeri, mengindikasikan dampak akan terus menimpa bisnis yang berkaitan dengan pelayaran dan forwarding.

Menurut Daniel, kelesuan juga bercermin dari pengiriman barang produksi dari kawasan industri ke Singapura, seperti Muka Kuning menurun. Dampak itu sampai saat ini masih terasa.

Di luar itu, lanjut dia, melihat faktor fenomena relokasi industri dari Batam ke Vietnam. Hal ini menjadi pemicu penurunan lalu lintas kapal. Fenomena larinya industri itu akibat aturan otoritas setempat yang belum sepenuhnya mendukung investor.

Meski demikian, Daniel menilai, alur kapal Vietnam-Singapura tidak seramai Indonesia-Singapura sehingga ada beberapa perusahaan yang justru balik lagi ke Batam.

"Saya dengar ada yang lari ke Vietnam, tapi ada juga yang balik lagi. Yang jadi masalah alur kapal di Vietnam tidak cepat dibandingkan dengan Batam. Kapalnya juga tidak ramai," ungkapnya.

Pelemahan itu, lanjut Daniel membuat pelaku usaha freight forwarding hanya mengandalkan penyelesaian kontrak lama sejalan adanya kontrak baru.

Namun dia memprediksi prospek bisnis ini akan pulih dipicu adanya kontrak baru mulai kuartal III/2015. "Sampai sekarang tidak ada penambahan kontrak. Yang bisa hanya penyelesaian dari kontrak lama. Kira-kira kuartal III baru ada kontrak baru," ujarnya.

Untuk diketahui data dari BP Batam, jumlah perusahaan forwarding yang masuk dalam kategori ekspedisi muatan kapal laut (EMKL) tercatat sebanyak 36 perusahaan. Diperkirakan transaksi forwarding dalam situasi normal untuk satu perusahaan mencapai sekitar Rp2 miliar per bulan.


(dmd/sindo)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini