Setelah 16 Tahun Menunggu, Audiorama Jembatan TASL Tak Kunjung Berfungsi

Redaksi Redaksi
Setelah 16 Tahun Menunggu, Audiorama Jembatan TASL Tak Kunjung Berfungsi
Foto : Ist.

Sebelum saya memulai tulisan saya tentang Kabupaten Siak saat ini, tidak ada salahnya kita mengenang jasa bapak Letjend. Syarwan Hamid dan bapak Arwin AS.

Jasa keduanya sangatlah besar bagi Kabupaten Siak khususnya dan Kabupaten Pemekaran lainnya di Provinsi Riau pada umumnya. Karena berkat perjuangan pak Syarwan dikala itu adalah sebagai Menteri Dalam Negeri dan putra Siak.

Kota Siak yang pada awalnya hanya sebuah Kecamatan Siak Kabupaten Bengkalis sekarang menjadi Kabupaten Siak dengan ibukota Siak Sri Indrapura.

Kota Siak juga disebut orang sebagai Kota Istana. Karena di Kota Siak berdiri Kerajaan Siak yang dibangun oleh Sultan Syarif Hasyim ayahanda dari Sultan Syarif Kasim II (Sultan Ke 12) yang masih berdiri megah di Kota Siak.

Pada waktu itu tahun 1999 ada 3 kabupaten yang dimekarkan dari Kabupaten Bengkalis (Kabupaten induk), yaitu Kabupaten Siak, Rokan Hilir dan Meranti. Dari ketiga Kabupaten tersebut Kabupaten Siaklah yang pembangunan infrastrukturnya yang dibangun pada jaman pak Arwin As bermanfaat kepada Kabupaten Siak khususnya, tapi juga bagi kabupaten Bengkalis, dan Meranti pada umumnya.

Pada setiap tanggal 12 Oktober dirayakan sebagai tanggal lahirnya Kabupaten Siak Bapak Arwin AS mantan Bupati Siak yang Pertama. Dengan keberanian beliau, walaupun pada awalnya mendapat tantangan berbagai pihak, Tapi pada akhirnya Jembatan Siak yang bernama “Tengku Agung Sultanah Latifah” diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dengan adanya jembatan, Kota Siak menjadi

lebih terbuka.

Kabupaten Siak dapat meningkatkan PAD dan kunjungan wisata ke Kota Siak semakin ramai. Jalan darat yang berada di wilayah Kabupaten Siak dilalui oleh kabupaten tetangga kalau hendak melintas ke ibu kota Provinsi Riau Kota Pekanbaru.

Sebenarnya masih ada dua jembatan lagi yang dibangun oleh bapak Arwin AS.dimasa itu, yaitu Jembatan Perawang dan Sungai Apit. Pada waktu itu banyak pertanyaan, kenapa pembangunan infrastruktur jembatan lebih diprioritas oleh pak Arwin. Karena dengan adanya ketiga jembatan tersebut maka Kota Siak - Perawang dan Siak - Sungai

Apit menjadi tersambung.

Mobil pribadi, travel, bus wisata, truk muatan sawit, bahan bangunan dan lain-lainnya yang selama ini mau menyeberang sungai harus menggunakan Kapal Ferry yang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sampai ke Kota Siak, Perawang dan Sungai Apit. Tapi sekarang distribusi barang dari kota Pekanbaru menuju Siak, Sungai Pakning, Bengkalis, Sungai Apit dan Meranti menjadi lebih lancar dan cepat.

Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah yang menjadi Ikon Pariwisata Kota Siak ini yang memliki dua menara dengan panjang 1,196 meter, lebar 16,95 meter, tinggi 73 meter serta berat 28 ton.

Jembatan ini diremikan pada tanggal 11 Agustus 2007 lalu oleh mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan anggaran murni APBD Siak 274 miliar.

Untuk dapat sampai ke puncak menara dibutuhkan waktu sekitar 1,22 menit. Hanya saja lift belum bisa dibuka untuk umum. Menurut informasi yang saya dapatkan. Kenapa saat ini lift tersebut belum juga dibuka untuk umum, dikarenakan Peraturan Bupati tentang Retribusi Tarif yang belum rampung.

Pada Event khusus Tour de Siak Desember tahun 2022 lalu para peserta dan tamu undangan diberikan kesempatan mencoba salah satu Ikon Siak tersebut.

Sebagai seorang yang berkecimpung di dunia usaha dan pariwisata Siak. Jembatan “Tengku Agung Syarifah Latifah” adalah salah satu ikon pariwisata Kota Siak ini.

Sejak diresmikan 16 tahun lalu, terus terang saya belum pernah mendapat kesempatan untuk mencoba naik lift jembatan tersebut.

Saya sebagai orang Siak sangat bangga dengan adanya jembatan ini. Jembatan yang telah menjadikan Kabupaten Siak berkembang pesat, baik dari pertumbuhan penduduk, ekonomi dan pariwisata.

Waktu 16 tahun bukan lah waktu yang sebentar. Penantian panjang agar Audiorama Jembatan TASL dapat berfungsi sesuai harapan masyarakat Siak.

Kalau dulu kita pernah mendengar untuk mengoperasikan lift memerlukan daya listrik yang cukup besar, sehingga diperlukan genset tersendiri. Kemudian ada juga kita mendengar, bahwa lift ini tidak bisa dioperasikan terus menerus karena alasan teknis jembatan. Artinya ada pengaruh dari pergerakan lift terhadap konstruksi tiang

jembatan.

Menurut pandangan saya agar isu tersebut dapat ditepis. Alangkah baiknya bersempena dengan Hari Kemerdekaan RI Yang Ke-78 pada tanggal !7 Agustus 2023 ini, Lift Jembatan TASL dapat dioperasikan sehingga dapat dinikmati oleh masyarakat pada umumnya.

Dengan di operasionalkan lift akan membuktikan bahwa isu-isu sebelumnya tidaklah benar. Apa lagi masalah Peraturan Bupati tentang Restribusi Tarif yang belum rampung diharapkan segera dibahas dan

diputuskan oleh DPRD Kabupaten Siak.

Saya secara pribadi mendukung penuh usaha yang telah dilakukan oleh Bupati Siak bapak Drs. H. Alfedri, MM yang terus menerus meningkatkan kunjungan wisata ke Kota Siak.

Kita ketahui saat ini ada satu lagi objek wisata yang sudah viral di media sosial yang dibangun oleh pak Alfedri, yaitu Sky Bridge di Mempura. Semakin hari banyak pengunjung yang datang dari berbagai kota. Sky Bridge yang dihiasi dengan lampu yang berwarna-warni ini lebih terasa eksotik bila dinikmati pada malam hari untuk ber-selfi ria.

Saya berharap kedepan banyak lagi objek-objek wisata yang akan dibangun di kota Siak sambil objek wisata yang ada lebih ditingkatkan lagi pelayanannya.

Pada kesempatan ini juga saya mencoba sekali lagi mengusulkan agar kedepannya Kabupaten Siak membentuk badan yang bekerja secara profesional, yaitu Badan Pengelola Objek Wisata Siak (BPOWS). Badan Pengelola (BUMD) ini yang bertanggung jawab memenejemen semua objek wisata yang ada di Kapubaten Siak. Badan ini bertanggung jawab terhadap PAD yang di targetkan setiap tahunnya.

Selama ini yang saya ketahui pengelolaannya objek wisata masih dikelola Dinas Pariwisata Kabupaten Siak. Kedepannya Dinas Pariwisata hanya sebagai Regulator saja tidak lagi sebagai Operator.

Dengan dua fungsinya tersebut Pengembangan Pariwisata Siak menjadi kurang efektif. Sumbangan PAD yang berasal dari di sektor Pariwisata tidaklah signikan dibanding PAD di sektor yang lainnya.

Usulan pembentukan Badan Pengelola Objek Wisata Siak (BPOWS) sudah pernah saya sampaikan ke Bupati Siak tahun 2011 lalu dan ke Ketua DPRD Siak bapak Zulfi Mursal. Akan tetapi hanya pak Zulfi saja yang merespon positif dan sangat setuju usulan saya tersebut.

Sebagai penutup, saya berharap ditangan Bupati Siak bapak Drs. H. Alfedri, MM. Kabupaten Siak kedepan semakin maju dan semakin dikenal di dalam negeri.

Wassalumu”alaikum Warahmatullah Wabaraqatuh.

Ir. Said Agus Effendi

~ Anggota FKPMR bidang Ekonomi, Koperasi dan Korperat Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau (FKPMR)

~ Ketua I Bidang Investasi dan Ekspor Mineral Lembaga Rumah Dagang Indonesia (LRDI)


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini