Home  / Senibudpar
Ditulis Sebagai Desa Kawin Lari, KBST Pertanyakan Pengawasan LAM Riau
Rabu, 15 Agustus 2018 | 20:58:20
Amir Hamzah, pengurus KBST
KAMPAR, riaueditor.com - Menyikapi masalah fitnah terhadap desa Sekijang kecamatan Tapung Hilir yang ditulis di buku pelajaran SMP kelas IX hingga saat ini belum menemukan titik terang tentang siapa yang harus bertanggung jawab, Keluarga Besar Sungai Tapung (KBST) berencana mendatangi LAM Riau pada Kamis (16/8) besok pagi.

Fitnah yang ditulis pada buku mata pelajaran SMP kelas IX tersebut menceritakan tentang desa sekijang kecamatan Tapung Hilir kabupaten Kampar sebagai desa yang dahulunya tempat pasangan pengantin kawin lari, dan kawin lari juga sudah menjadi adat istiadat warga di desa tersebut.

Hal ini membuat keluarga besar sungai Tapung marah, karna merasa Tapung dilecehkan, dan yang membuat masyarakat Tapung gusar didalam buku itu juga mengatakan adat istiadat kawin lari itupun disebutkan masih berlangsung hingga saat ini.

Amir Hamzah, pengurus KBST pada Selasa (14/8) siang saat dijumpai mengatakan akan mendatangi LAM Riau bersama beberapa masyarakat Tapung lainnya guna menanyakan sejauh mana LAM Riau dalam mengawasi penerbitan buku pelajaran Budaya Melayu Riau yang beredar luas tersebut.

"LAM kan Lembaga Adat Melayu, kok bisa adat istiadat sekijang yang juga bagian dari kami Tapung sebagai orang Melayu dikatakan seburuk ini?, Ini kan juga mencoreng nama baik Melayu Riau," jelasnya.

Said Ahmad Kosasi, anggota Komisi I DPRD Kampar dari partai Demokrat juga kecewa dengan kejadian tersebut, saat dihubungi via telepon pada siang tadi Rabu (15/8) anggota dewan asal Tapung ini juga meminta dinas pendidikan Provinsi Riau untuk menarik buku yang telah menaifkan sejarah Tapung.

"Kita sangat menyayangkan adanya buku dengan muatan yang menaifkan atau membuat sejarah Tapung secara negatif, kita meminta dinas pendidikan Provinsi Riau untuk menarik buku itu dan mengklarifikasi sejarah Tapung sebagaimana  yang diminta oleh tokoh Tapung," tegasnya.

Ia juga menambahkan apabila penerbit atau penulis buku tersebut mendapatkan cerita sejarah tersebut dari nara sumber yang tidak benar, maka akan ia akan menuntut nara sumber tersebut.

"Apabila penulis mendapatkan cerita dari pembuat cerita sejarah itu hingga terjadi penyimpangan sejarah ke arah yang tidak baik, maka kita akan menuntut pengarang sejarah itu," tambahnya.

Sampai saat ini Keluarga Besar Sungai Tapung masih mencari pihak yang bertanggung jawab atas permasalahan tersebut.(raf)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Belasan Ribu Warga Di Kampar Kiri Terancam Rawan Pangan
Tingkatkan Kemampuan Fisik Dan Mental, Prajurit Yonif 132/BS Laksanakan Lari Beban Tempur 10 Km
Sempena Hari Juang Kartika, Kodim 0314 Inhil dan BRI Bedah Rumah Warga
Pangkogasgabpad NTB Tinjau Proses Pencetakan Panel Risha Untuk Percepat Bangun Rumah Warga
Tiga Sapi Warga Inhil Jadi Korban Terkaman Harimau

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad