Home  / Senibudpar
Terima Gelar Adat dari LAM Riau,
Ustad Abdul Somad: ‘Jangan Kau Ajar Kami tentang Cinta Negara’
Selasa, 20 Februari 2018 | 14:10:44
(Aznil Fajri/Detak Indonesia.co.id)
Ustadz H Abdul Somad, usai acara penganugerahan gelar Datu Sri Amanah Setia negara yang dilekatkan ke ustad kondang itu oleh Lembaga Adat Melalyu Riau (LAMR) di Pekanbaru, Selasa (20/2/2018).
PEKANBARU, riaueditor.com - Ustad kondang, H Abdul Somad dianugerahi gelar Datuk Sri Ulama Setia Negara oleh Majelis Penganugerahan Gelar Kehormatan Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) di Gedung Balai Adat LAMR Riau Jalan Diponegoro Pekanbaru, Selasa (20/2/2018).

Sejumlah tokoh adat Melayu Riau hadir dalam penabalan gelar kehormatan ustad terkenal tersebut.

Di awal sambutannya Ustad kondang ini menyampaikan isi hatinya yang penuh bercampuraduk sejak awal duduk di dalam ruang Balai Adat LAMR tersebut yang dipenuhi ratusan undangan.

"Sebelumnya saya mohon maaf kata sambutan saya tulis agak panjang karena perasaan ini bercampur-campur. Rasanya duduk di pelaminan ini antara di sunat dengan nikah," kata ustad Abdul Somad yang disambut tawa riuh undangan yang hadir di gedung LAMR.

Ustad Abdul Somad juga kembali meminta maaf dengan panjangnya kertas yang akan dibacanya sehingga tertunda makan siang undangan yang hadir, ini juga bikin ketawa riuh ratusan undangan.

Menurut Ustad H Abdul Somad dalam penggalan penting sambutannya ada yang menuduh paksa dirinya difitnah anti Bhinneka Tunggal Ika diusir dari Pulau Dewata, dideportasi dari Negeri China tapi hati tak merasa hina. Semua itu belum ada apa-apanya bila dibanding Nabi Besar Muhammad SAW sampai kaki terluka namun tetap berbalas doa. Sungguh tak layak masuk surga jika busuk hati terus dipelihara. 

Orang Melayu 15 juta Gulden Belanda diderma untuk membela bangsa Sultan Syarif Kasim orang mulia dari Kerajaan Siak Sriindrapura. 

"Berdaulat ke Jogjakarta jangan kau ajar kami tentang cinta negara, kalau bukan kerana kami punya bahasa kaupun tak dapat bertutur kata," tegas Ustad Abdul Somad.

Menurutnya, dendam jangan masuk kepala masih banyak yang harus dirasa. 

Anak Sakai meniti pipa, 
anak Akit senyum menyapa, 
Talang mamak terus menganga, 
padahal minyak tiada terkira, 
tapi apa yang mau dikata, 
terlampau banyak yang diangkut ke Jakarta.

Awan berarak meniti senja, 
budak menuju surau musala, 
Quran di tangan dan alif bata, 
tak lupa rotan dibelah dua, 
tapi semua kini dah sirna, 
semua sudah berganti rupa. 

Budak asik bermain sega, 
play station warnet beraneka, 
dari Batman hingga Mahabrata, 
sampai Spiderman sarang laba-laba. 

Kalaulah tak ada usaha, 
budak Melayu kan hancur binasa, 
kerana AIDS dan narkoba.

Selepas masuk Belanda, 
banyak anak tak boleh tulis baca, 
huruf Arab dibuang serta, 
Melayu Riau boleh berbangga, 
huruf Arab merata-rata, 
dari masjid hingga kantor walikota. 

Tapi tiba bila saatnya, 
huruf Arab hanya mantra, 
dibaca saat sukacita, 
atau untuk pelet wanita, 
Maka masukkanlah anak ke sekolah agama.

Dari Presiden sampai Pak KUA, 
kita semua akan binasa, 
harta tiada dibawa serta, 
anak saleh jugalah yang mengalir ke kita.***

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Panglima TNI Hadiri Haul ke-125 Ulama Banten
Terminal BRPS Pekanbaru Mulai Dipadati Pemudik
Danramil Rambah Hadiri Launcing Padat Karya Tunai Tahun 2018
1 dari 200 Mubalig yang Direkomendasikan Kemenag Sudah Meninggal
Menteri Agama Mohon Maaf Soal 200 Mubaligh

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad