Home  / Puspen TNI
Panglima TNI: Hadapi Dampak Negatif Digitalisasi, Kita Bangun Pemuda yang Pintar
Sabtu, 24 Februari 2018 | 13:02:42
puspen tni
MALANG, riaueditor.com - Sabtu (24/2/2018), Menghadapi ancaman dampak negatif digitalisasi yang nyata saat ini, bangsa Indonesia harus membangun pemuda-pemuda yang mampu merubah dirinya menjadi pemuda yang pintar dan mampu menghadapi ancaman global.
 
Hal tersebut dikatakan Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.I.P. pada acara Silaturahmi dengan Tokoh Masyarakat Malang Raya, bertempat di Auditorium KH. Masjkur Yayasan Sabilillah Malang, Jawa Timur, Jumat malam (23/2/2018).
 
Panglima TNI menyampaikan bahwa kemajuan pesat yang tak terduga di berbagai bidang khususnya bidang digital, computing power, dan analisa data selalu memiliki paradoks yang membuka peluang ancaman. 

“Beberapa diantaranya yang paling signifikan adalah ancaman siber atau cyber threats, ancaman biologi atau bio-threats dan ancaman kesenjangan atau inequality threats,” ungkapnya.
 
“Bayangkan dengan teknologi digital siber, permasalahan kecil saja bisa dipelintir dan dimasukan ke media Facebook dan Twitter.  Masalah kecil dibesar-besarkan, akhirnya masyarakat menjadi resah,” kata Marsekal TNI Hadi Tjahjanto.
 
Lebih lanjut Panglima TNI  mengatakan bahwa  melalui teknologi digital     dengan memanfaatkan profiling data dan data analisis,  para aktor non state selalu memonitor pemuda-pemuda yang sering buka internet. Kemudian para pemuda tersebut ‘dibina’ menjadi apa yang sekarang kita kenal dengan Lone Wolf atau serigala tunggal.
 
“Saya sangat mendukung pemikiran Yayasan Sabilillah ini, untuk menjadikan Masjid Sabilillah bukan hanya sebagai tempat ibadah tetapi Masjid Sabilillah juga sebagai tempat peradaban. Bagaimana membangun bangsa menjadi bangsa yang unggul, bangsa yang benar-benar mampu menghadapi tantangan global,” ujar Panglima TNI.
 
Selain ancaman siber dan biologi, ancaman kesenjangan ekonomi atau inequality threats saat ini merupakan ancaman yang berdampak signifikan.  

Menurut Panglima TNI, ancaman penguasaan ekonomi oleh sekelompok orang akan menghasilkan keberlimpahan  namun tetap merupakan krisis bagi pihak yang tidak memilikinya.  Hal ini berpotensi menciptakan fenomena kesenjangan yang semakin lebar di masyarakat.
 
“Semakin besar kesenjangan ekonomi maka akan semakin banyak tumbuh bentuk-bentuk ekstrimisme, radikalisme dan populisme yang pada akhirnya berusaha mendeligitimasi otoritas pemerintah yang sah,” ungkap Panglima TNI.
 
Panglima TNI menjelaskan untuk mengantisipasi terhadap berbagai spektrum tantangan tersebut aparat keamanan tidak bisa berjalan sendiri, perlu kebersamaan dengan komponen-komponen bangsa lainnya.  

“Adanya sinergi yang erat antara TNI dan rakyat tersebut dapat memperkuat ketahanan nasional, sehingga menciptakan stabilitas yang diperlukan dalam melaksanakan pembangunan nasional,” tutupnya.(puspentni)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Yayasan Buddha Tzu Chi dan TNI Akan Bangun 3.000 Rumah Korban Gempa
Prajurit TNI Bangun MCK Darurat di Pengungsian Korban Gempa Palu
Polemik Pembangunan Jembatan Merangin II, Warga Minta Dihentikan Sementara
Peduli Kesehatan Masyarakat, Danramil 02 Rambah Bangun Jamban Warga
Yuyun dan Ardo jadi Pembicara Di Seminar Kirab Pemuda 2018

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad