Home  / Profil
Sukarno M. Noor, Aktor Legendaris yang Merayap dari Bawah
Jumat, 27 Juli 2018 | 10:16:01
tirto.id/Sabit
Sukarno M. Noor (13 September 1931-26 Juli 1986).
Sukarno M. Noor mungkin aktor kawakan yang sudah jarang sekali ditemui dalam sosok pemain film kekinian. Ayah dari Rano Karno tersebut menjalani kariernya dengan merayap dari bawah.

Sukarno lahir di Jakarta, 13 September 1931. Dia adalah anak seorang wartawan perantauan dari Bonjol, Sumatra Barat, bernama Muhammad Noer. Menurut S.M. Ardan dalam Jejak Seorang Aktor Sukarno M. Noor Dalam Film Indonesia (2004), nama Sukarno diberikan ayahnya karena terinspirasi Bung Karno yang konsekuen terhadap perjuangan.

Tentu saja, saat dewasa, ayahnya ingin Sukarno M. Noor memiliki karakter seperti Bung Karno. Sayangnya, Muhammad Noer tak menyaksikan anaknya tumbuh dewasa. Di usia anaknya yang baru dua tahun, Muhammad Noer wafat. Sukarno lantas pulang kampung bersama ibu dan adiknya, Ismed M. Noer.

Menurut Ardan, saat duduk di bangku SMP dia diboyong pamannya ke Pematang Siantar. Di sini, dia mulai bersentuhan dengan dunia sandiwara. Selain itu, dia gemar menonton bioskop.

"Saya keranjingan nonton film dan benar-benar mempengaruhi kehidupan saya. Hampir tidak pernah sehari pun absen nonton," katanya, seperti dikutip Ardan dari Variasi edisi 2-8 April 1976.

Kala Sukarno remaja, aktor Malaya (sekarang Malaysia), yakni P. Ramlee dan Roomai S. Noor, sangat populer di negeri kita. Sukarno lalu mengubah nama belakang "Noer" menjadi "Noor", mengikuti nama belakang Roomai.

Persentuhan dengan dunia sandiwara dan film membuat Sukarno tertarik menggeluti seni peran. Dia kemudian membujuk ibunya untuk kembali ke ibu kota, guna meraih mimpinya menjadi pemain film. Pada 1950, keluarga kecil ini merantau kembali ke Jakarta.

Moncer di Ibu Kota
Di Jakarta, Sukarno langsung gerilya. Dia mengirimkan lamaran ke sejumlah perusahaan film yang ada di ibu kota. Tapi, sayang sekali, banyak perusahaan film menolak lamarannya. Dia lantas bergaul dengan seniman Senen, yang biasa nongkrong tak jauh dari bioskop Grand. Banyak wawasan yang dia dapat dari seniman-seniman berbakat di Senen.

Majalah Varia edisi 9 Maret 1960 menulis, akhirnya pada 1953 Sukarno mendapatkan kesempatan bermain sebagai figuran dalam film Meratjun Sukma. Sukarno sangat yakin bakatnya di bidang akting, sampai-sampai meninggalkan pekerjaannya di Jawatan Pos, Telegram, dan Telepon (PTT) bagian telegram. 

Ketika itu, gajinya sebagai figuran hanya Rp25 hingga Rp75. Meski demikian, pekerjaan sebagai figuran tetap dia lakoni selama satu setengah tahun (1953-1955). Film-film yang ia bintangi di awal kariernya antara lain Abu Nawas, Musafir Kelana, Djakarta bukan Hollywood, Djubah Hitam, Bawang Merah Tersiksa, Sri Asih, dan Rentjong dan Surat.

Ketika Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) dibuka Usmar Ismail dan Asrul Sani pada 1955, Sukarno bergabung. Di sini kemampuan aktingnya kian terasah.

Peran yang agak penting baru dia dapatkan pada film Sampai Berdjumpa Pula, Tjorak Dunia, dan Daerah Hilang. Pada 1958, dia dikontrak Perfini, yang digawangi Usmar Ismail. Film pertamanya di Perfini adalah Sengketa. Sukarno muncul sebagai aktor utama yang diperhitungkan di dunia film saat bermain dalam Tjambuk Api, Anakku Sajang, Bunga Samurai, Sesudah Subuh, dan Bertamasja.

Saat namanya mulai disegani, pers menjuluki Sukarno "The bad boy on screen" dan "budak nakal". Aktor watak ini disebut Varia edisi 2 Juli 1958 sebagai "aktor muda tapi punya harapan besar, yang di kalangan orang-orang studio dikenal sebagai aktor yang tahu disiplin, selalu datang pada saat yang ditentukan, dan tak pernah mangkir".

Dari pernyataan Varia tersebut, tampak jelas harapan Muhammad Noer kepada anaknya yang diberi nama seperti sang proklamator ternyata tak sia-sia. Sukarno benar-benar menyerap karakter Bung Karno.

Sukarno pun mahir bermain sandiwara. Varia edisi 9 Juli 1958 menulis, permainan sandiwaranya begitu menarik, kala dia mementaskan lakon "Pintu Tertutup" yang disutradarai dosen ATNI, Asrul Sani. Cerita sandiwara tersebut adalah gubahan dari karya filsuf Perancis, Jean Paul Sartre. Pertunjukan yang diadakan di aula Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta itu merupakan bagian dari kegiatan mahasiswa ATNI yang akan menamatkan pendidikan dalam jurusan akting.

Pada 1960 kerja kerasnya membuahkan hasil. Dia diganjar penghargaan Aktor Terbaik dalam Pesta Film Indonesia ke VI (selanjutnya dikenal sebagai Festival Film Indonesia) untuk permainannya di film Anakku Sajang (1955). Lawan mainnya dalam film yang sama, Farida Arriany, juga mendapatkan gelar Aktris Terbaik.

"Saya kaget mendengar berita kemenangan saya sebagai Aktor Terbaik itu, karena sebagai saudara ketahui, malam putusan juri itu saya tak hadir dan baru tahu pada keesokan harinya, ketika saya bertemu seorang kawan. Saya sangat gembira sekali dengan julukan Aktor Terbaik itu, meskipun saya sebelumnya tak pernah mengira sama sekali akan ketiban nasib yang demikian," katanya, seperti dikutip dari Varia edisi 9 Maret 1960.

Diganjar Banyak Penghargaan
Pada 1963, selama dua tahun, Sukarno absen dari depan kamera. Pers mencarinya. Wartawan Varia menemui dia di daerah Senen. Menurut Varia edisi 20 November 1963, saat itu dia tengah sibuk ikut pentas sebuah rombongan pertunjukan musik. Tak disangka, dalam rombongan yang pentas ke daerah-daerah itu, Sukarno menjadi penyanyi dan penari. Varia menulis, saat itu dunia film memang sedang sepi. Sukarno sendiri tak tinggal diam, dan memilih ikut rombongan musik.

Berkat aktingnya, Sukarno diganjar aneka penghargaan. Menurut buku Apa Siapa Orang Film Indonesia 1926-1978, pada gelaran Pekan Apresiasi Film Indonesia 1967 dia mendapatkan predikat sebagai aktor terbaik untuk film Di Balik Tjahaja Gemerlapan (1966) dan Menjusuri Djedjak Berdarah (1967).

Selain itu, dua tahun berturut-turut, dia mendapatkan penghargaan Best Actor dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya untuk film Jembatan Merah (1973) dan Raja Jin Penjaga Pintu Kereta (1974).

Disebutkan di buku yang sama, Sukarno juga menjabat sebagai Ketua I Parfi periode 1972-1974, Ketua Umum Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) periode 1978-1980, dan anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) periode 1977-1979. 

Pada 1970, dia mencoba menjadi produser dan mendirikan perusahaan film PT Kartika Binaprama. Namun, sayangnya hanya menghasilkan satu film, yakni Honey, Money, and Djakarta Fair.

Pada 26 Juli 1986, tepat hari ini 32 tahun lalu, Sukarno pergi selamanya. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Tiga dari enam anaknya, yakni Rano Karno, Suti Karno, dan Tino Karno, mengikuti jejak sang legenda.

Dia mewariskan studio Karnos Film yang didirikan pada 1977 untuk atap anak-anaknya beradu peran. Karnos Film sukses bukan main ketika menayangkan sinetron Si Doel Anak Sekolahan pada 1990-an.

Nostalgia Si Doel Anak Sekolahan pun bakal tayang di bioskop pada awal Agustus 2018, berkat kerja sama Karnos Film dan Falcon Pictures. Sebuah warisan tak ternilai dari sang legenda, yang merangkak dari bawah.


(tirto.id - Fandy Hutari)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Kubah Lava Baru Gunung Merapi Terus Tumbuh
Eko Yuli Irawan Tambah Emas untuk Indonesia di Asian Games 2018
Cerita Mistis Penggali Kuburan Terdampak Tol Semarang-Batang
Kodim 0320 Dumai Bersama Polres Dumai Amankan Pelaku Karhutla
Mandul, YLBHR Minta Kepala Balai Gakkum Seksi II Pekanbaru Dicopot

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad