Home  / Profil
Mengenal Rohana Kudus, Pelopor Jurnalis Perempuan Indonesia
Minggu, 14 Mei 2017 | 11:55:51
(Foto: Wikipedia)
Rohana Kudus
TANAH Minang di Sumatera Barat tidak hanya dikenal banyak melahirkan negarawan yang tercatat dalam sejarah emas bangsa ini. Tapi ternyata juga melahirkan pionir serta jurnalis perempuan pertama Indonesia.

Selama ini kalau bicara Tanah Minang, sering kita terbersit tokoh-tokoh macam Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, H Agus Salim hingga Tan Malaka. Anda patut tahu pula bahwa jurnalis pertama Indonesia bernama Rohana Koeddoes (EYD: Kudus) juga berasal dari daerah yang sama.

Perintis atau pelopor jurnalis perempuan pertama yang juga penggerak emansipasi kaum hawa yang dianggap banyak pihak, lebih layak didaulat sebagai pahlawan ketimbang Raden Adjeng Kartini.

“Rohana Kudus, wartawati profesional pertama di Indonesia. Penggerak emansipasi wanita yang gigih dan sering dinilai lebih pantas mendapatkana gelar pahlawan daripada Kartini,” tulis Hasan Aspahani dalam bukunya ‘Chairil’.

Mau lebih jauh mengenalnya? Ada baiknya kita korek “biodatanya” yang ternyata, lahir di antara banyak tokoh negeri kita asal Tanah Minang: Rohana lahir di Koto Gadang, 20 Desember 1884 dari pasangan Kiam dan Mohamad Rasjad Maharadja Soetan (EYD: Sutan).

Kalau Anda mengira ayahnya punya nama belakang Sutan karena punya hubungan pula dengan eks Perdana Menteri pertama Indonesia Sutan Sjahrir, Anda tidak salah. Ya, Rohana sendiri nyatanya merupakan kakak tiri Sjahrir, sekaligus sepupu H Agus Salim dan bibi dari penyair legendaris Chairil Anwar lho!

Hubungannya dengan Sjahrir, Rohana seperti yang diuraikan di atas, lahir dari rahim Kiam, istri pertama Mohammad RM Sutan, di mana setelah Kiam tiada, Mohammad Sutan menikahi Siti Rabiah yang lantas melahirkan Sjahrir. Ya, jadi Rohana dan Sjahrir sama-sama anak pertama beda ibu dari ayah kandung Mohammad RM Sutan.

Mohammad RM Sutan sendiri awalnya juga seorang jurnalis yang keluarganya juga dekat dengan Jaksa Alahan Panjang. Berangkat dari situlah Rohana setidaknya mengenyam pendidikan agama, di saat masa-masa kala itu para perempuan Minang dilarang bersekolah, wajib dipingit dan hanya “dididik” untuk urusan dapur dan kasur kelak.

Pascapindah ke Pasaman, Rohana yang baru berusia 8 tahun saat itu sudah hobi membaca surat kabar. Surat kabar atau koran ‘Berita Kecil’ yang memang sengaja selalu dilanggankan Mohammad Sutan untuk Rohana.

Wawasannya pun mulai terbuka. Aspirasinya mulai muncul untuk bersuara lantang bahwa perempuan harus terdidik dan bersekolah. Kepada kawan-kawannya, baik perempuan maupun laki-laki, Rohana sudah sering “mengajar” di teras rumahnya.

Rohana memilih hidup mandiri dan tak turut ayah dan ibu tirinya (Rabiah, istri kedua M Sutan yang juga ibu kandung Sutan Sjahrir) pindah ke Kota Medan. Rohana juga kemudian disunting seorang notaris bernama Abdul Kudus di usia 24 tahun.

Meski melepas masa lajang, Rohana tak terkekang suaminya yang justru mendukung perjuangannya. Adapun di usia menginjak 27 tahun, perjuangan Rohana mengangkat derajat perempuan terbantu Ratna Puti, seorang istri dari Jaksa Kayutanam.

Di tahun 1911 itu, lewat sokongan Ratna Puti, Rohana mendirikan Kerajinan Amai Setia (KAS). Sebuah wadah untuk para perempuan diajarkan calistung alias membaca, menulis dan berhitung, hingga keterampilan lain macam menjahit dan menyulam.

Di samping itu, Rohana tak meninggalkan kegemarannya menulis puisi dan artikel. Sampai pada Juli 1912, Rohana “melahirkan” surat kabar perempuan pertama di Indonesia, ‘Sunting Melayu’. Surat kabar di mana pemimpin redaksi, redaktur dan penulisnya semuanya perempuan.

Pindah ke Bukittinggi pasca-problem pelik yang membawanya ke meja hijau pada 1916, Rohana membuka “Roehana School”. Sekolah yang didirikannya sendiri tanpa sponsor dari manapun dengan model yang sama seperti KAS.

Di sepanjang hidupnya, Rohana terus mengajar sekaligus melanjutkan profesinya sebagai jurnalis perempuan dengan memimpin koran ‘Perempuan bergerak’, menjadi redaktur koran ‘Radio’ dan koran ‘Cahaya Sumatera’.

Rohana mengembuskan nafas terakhir pada 17 Agustus 1972 pada usia 88 tahun di Jakarta. Namanya jarang dikenal perempuan Indonesia, baik masyarakat awam maupun tokoh perempuan Indonesia zaman sekarang. Namanya juga tak seharum Kartini yang diangkat Pahlawan Nasional oleh Presiden Ir Soekarno pada 1964.

Nama Rohana sekadar dikenal segelintir masyarakat negeri kita, khususnya di dunia insan pers, meski setidaknya diakui pemerintah daerah lewat tanda jasa dari Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.

Emansipasi perempuan menurutnya, kaum hawa tidaklah harus melampaui laki-laki. Baginya, yang terpenting adalah perempuan tetap pada kodratnya, namun mesti berpendidikan dan mendapat perlakuan yang lebih baik.

“Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibanya. Yang harus berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Perempuan harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan”.


(raw/okezone)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Asiyah Perempuan Paling Mulia
Dipenjara karena Rekam Perempuan di Ruang Ganti
Lihat Kondisi APBD P, Ranperda Perempuan dan Anak Baru Dibahas
Zulaikha Wardan: Keberhasilan Berbangsa dan Bernegara Tidak Terlepas Dari Peran Perempuan
LBH-PWI Riau Desak Kepolisian Tangkap Ajudan Kadispenda Pekanbaru

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU