Home  / Politik
Cerita Jubir Prabowo-Sandiaga Uno Dituding Radikal Karena Tidak Dukung Ahok
Jumat, 5 Oktober 2018 | 19:07:34
(Doc. Net)
Koordinator Juru Bicara Prabowo-Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak
JAKARTA - Koordinator Juru Bicara Prabowo-Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak bercerita pernah menjadi korban stigmatisasi politik karena tidak mendukung Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu. Akibat pilihannya itu, Dahnil dianggap radikal.

Bahkan kata Dahnil, selama ini semakin banyak pihak-pihak yang ikut memproduksi stigma politik. Misalnya Gerindra dianggap mendukung khilafah dan radikal. Bahkan Rocky Gerung yang dikenal liberal juga ikut dituding radikal.

"Yang terjadi hari ini itu stigmatisasi-stigmatisasi itu diproduksi bahkan terhadap Gerindra yang plural bisa di-stigma sebagai pendukung khilafah, itu nggak masuk akal. Jadi Gerindra yang plural itu dituduh radikalis. Rocky Gerung yang liberal dibilang radikalis, kan sakit jiwa," kata Dahnil dalam seminar kebangsaan Fraksi Gerindra MPR RI di Hotel Santika, Depok, Jawa Barat, Jumat, (05/10/2018).

Dahnil juga menyinggung ada kelompok pendukung Jokowi dan Ahok yang memiliki stigma yang sama. Situasi ini kata Dahnil jika dibiarkan dapat menciderai masa demokrasi Indonesia.

"Saya Presiden Religion for Peace Asia and Pacific Youth Interfaith Network (RfP-APYIN) juga dituduh radikalis karena nggak dukung Ahok, jadi dulu kalau dukung Ahok (dianggap) pluralis, toleran. Kalau dukung Jokowi hari ini itu toleran, pancasilais. Di stigma orang, beda politik itu kemudian distigma radikal atau disebut pendukung HTI. Ini mengerikan," ucapnya.

Dahnil menegaskan stigama politik muncul karena dipicu oleh kedangkalan nalar dan kesesatan berpikir.

"Ini juga jadi ancaman serius bagi saya dan anak muda, bagi demokrasi kita di masa depan. Demokrasi kita hari ini demokrasi model stigmatisasi itu maka kemudian dia memproduksi demokrasi yang istilahnya Rocky Gerung itu demokrasi nirnalar. Nalarnya ndak hadir atau absen akal sehatnya, itu yang terjadi hari ini," papar Dahnil.

Bagi Dahnil, demokrasi seharusnya bisa menjadi jembatan munculnya pikiran dan sikap saling menghargai. Kontestasi politik menurut Dahnil, harus menjadi sarana adu konsep dan gagasan.

"Maksud saya politik kita tampil jadi politik baper, politik karena modalnya HP dan ngafe tadi, politiknya jadi politik alay. Pokoknya kalau lu beda sama gua, lu musuh gua," ucap Ketum PP Pemuda Muhammadiyah itu.

"Bagi saya politik itu seni merangkai argumentasi, seni membangun nalar sehat tadi, karena nggak mampu merangkai argumentasi, nggak mampu merangkai narasi dengan baik, yang terjadi saling menjelekan," lanjut Dahnil.

Dalam acara seminar kebangsaan ini turut hadir Sekjen Gerindra Ahmad Muzani dan Rocky Gerung.

(jarrak.id)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Soal 41 Masjid Pemerintah Terpapar Radikalisme, MPR Minta BIN Jangan Buat Kegaduhan
Survei: 41 Masjid di Kantor Pemerintahan Terindikasi Sebar Radikalisme
Banser Pembakar Bendera HTI Divonis 10 Hari dan Denda Rp2 Ribu
Pemerintah Sebut Aksi Bela Tauhid Hanya Buang-buang Energi
Menag Lukman Ajak Umat Akhiri Debat Pembakaran Bendera Bertuliskan Kalimat Tauhid

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad