Home  / Politik
Pengakuan Tim Medsos Ahok: Akun Palsu, Perang, Jijik hingga Bekerja di Rumah Mewah
Selasa, 24 Juli 2018 | 10:26:52
Ilustrasi Foto/Shutterstock
NAMANYA ALEX. Ini bukan nama sebenarnya. Pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017, Alex bersama timnya membangun kekuatan di dunia media sosial untuk mendukung Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Laporan investigasi The Guardian, menyebutkan bahwa Alex selama beberapa bulan saat Pilkada DKI, memiliki pasukan yang terdiri dari 20 orang.

Alex bersama timnya akan membuat akun media sosial palsu. Beberapa avatarnya atau foto profilnya, ada yang menggunakan perempuan muda—bahkan disarankan. Alex dan timnya diberitahu akan "berperang".

"Ketika Anda sedang berperang, Anda menggunakan apa pun yang ada untuk menyerang lawan," kata Alex. "tetapi kadang-kadang saya merasa jijik dengan diri saya sendiri."

"Mereka mengatakan kepada kami bahwa Anda harus memiliki lima akun Facebook, lima akun Twitter dan satu Instagram," Alex melanjutkan.

"Dan mereka mengatakan kepada kami untuk merahasiakannya. Mereka mengatakan itu adalah 'waktu perang' dan kami harus menjaga medan perang dan tidak memberi tahu siapa pun di mana kami bekerja."

Alex mengatakan timnya dipekerjakan untuk melawan arus sentimen anti-Ahok, termasuk tagar yang mengkritik Ahok.

Dalam laporan ini, Alex tidak menceritakan kepada siapa ia bekerja. Alex hanya menceritakan bagaimana ia bekerja dan membangun opini dengan akun palsu hingga menciptakan berita palsu.

Tim Alex, terdiri dari para pendukung Ahok. Ada juga para mahasiswa yang mendapat bayaran sekira Rp3.900.000 dalam sebulan.

Alex dan timnya diduga bekerja di "rumah mewah" sekitaran Menteng, Jakarta Pusat. Mereka masing-masing bisa me-twit 60 hingga 120 kali dalam sehari di akun palsu Twitter dan Facebook.

Pasukan Khusus

Indonesia termasuk lima besar pengguna Twitter dan Facebook di dunia. Alex bersama timnya juga dikenal sebagai buzzer. Tugas mereka menguatkan dan menciptakan opini di media sosial. Meskipun tidak semua buzzer menggunakan akun palsu, tetapi ada yang melakukannya.

Alex mengatakan timnya yang terdiri dari 20 orang, masing-masing memiliki 11 akun media sosial, dan akan menghasilkan 2.400 unggahan di Twitter dalam sehari.

Operasi dikoordinasikan melalui grup WhatsApp bernama Pasukan Khusus, yang diperkirakan Alex terdiri sekitar 80 anggota. Tim itu memberi masukan konten apa yang akan dibahas hingga tagar.

Alex menjelaskan, foto yang digunakan untuk membuat akun palsu diambil secara sembarangan.

"Mereka tidak ingin akun tersebut menjadi anonim (tanpa foto) sehingga mereka meminta kami untuk mengisi foto profil, jadi kami mengambilnya dari Google, atau terkadang kami menggunakan gambar dari teman-teman kami, atau foto dari grup Facebook atau WhatsApp," kata Alex.

"Mereka juga meninta kami agar menggunakan (foto) akun wanita cantik untuk menarik perhatian. Banyak akun yang seperti itu. "

Bahkan untuk di Facebook ada beberapa akun yang menggunakan foto profil aktris asing yang terkenal.

Pasukan khusus Alex bekerja melalui ruangan-ruangan yang tersedia dalam rumah mewah di Menteng.

"Ruang pertama untuk konten positif, di mana mereka menyebarkan konten positif tentang Ahok. Ruang kedua untuk konten negatif, menyebarkan konten negatif dan pidato kebencian tentang oposisi, " kata Alex, yang mengatakan ia memilih kamar yang positif.

Banyak dari akun tersebut hanya memiliki beberapa ratus pengikut, tetapi dengan mendapatkan tren hashtag mereka, sering setiap hari, mereka secara artifisial meningkatkan visibilitas mereka di platform. Dengan memanipulasi Twitter, mereka memengaruhi pengguna nyata dan media Indonesia, yang sering mengacu pada hashtag yang sedang tren sebagai barometer suasana nasional. Rasidi mewawancarai dua buzzer Ahok yang berbeda, yang menggunakan akun palsu dengan cara yang sama seperti yang dijelaskan oleh Alex. Keduanya menolak berbicara dengan Guardian.

Pekerjaan Alex dan timnya juga menangkis serangan dari kubu sebelah yang gencar menyerukan agar Ahok di penjara karena kasus penistaan agama.

Pradipa Rasidi, yang pada Pilkada DKI bekerja di lembaga traspransi internasional di Indonesia, memperhatikan fenomena buzzer ini.

"Pada saat pertama, mereka tampak normal, tetapi kemudian mereka kebanyakan hanya me-twit tentang politik," katanya.

Rasidi mewawancarai dua buzzer Ahok yang berbeda, yang menggunakan akun palsu dengan cara yang sama seperti yang dijelaskan oleh Alex. Keduanya menolak berbicara dengan Guardian.

Pakar strategi media sosial yang bekerja di salah satu kampanye melawan Ahok mengatakan bahwa buzzer adalah industri besar.

"Beberapa orang dengan akun berpengaruh dibayar sekitar Rp20 juta hanya untuk satu twit. Atau jika Anda ingin mendapatkan topik yang sedang tren selama beberapa jam, harganya antara Rp1-4 juta rupiah, " kata Andi, yang hanya ingin ditulis nama depannya.

Berdasarkan penelitian tentang industri buzzer di Indonesia, peneliti dari Pusat Penelitian Inovasi dan Kebijakan (CIPG) mengatakan, semua kandidat dalam pemilihan Jakarta 2017 menggunakan tim buzzer—dan setidaknya satu dari lawan Ahok menciptakan "ratusan bot" yang saling terkait agar untuk terhubung ke dalam sebuah portal berita yang mendukung paslin tertentu.

Seorang juru bicara dari Twitter menolak memberikan data soal berapa banyak akun palsu Twitter di Indonesia yang telah diidentifikasi atau dihapus dari platformnya pada tahun lalu. Perusahaan itu mengatakan telah "mengembangkan teknik baru dan mesin eksklusif untuk mengidentifikasi konten berbahaya".

Ahok kalah dalam Pilkada, dan berakhir di penjara. Alex mengatakan dia tidak dapat memastikan seberapa efektif timnya.

Sementara Ulin Yusron, juru bicara tim kampanye Ahok menolak mengomentari tuduhan tertentu tetapi mengatakan kampanye melalui buzzer.

"Penggunaan fitnah, kebencian dan berita palsu sangat besar," katanya. "Secara alami, tim membentengi diri dengan pasukan pendukung, termasuk di media sosial. Itu bukan sesuatu yang baru dalam politik. "

Peneliti Rasidi mengatakan tim buzzer beroperasi dengan cara yang sama seperti gosip.

"Ketika semua orang berbicara tentang hal yang sama, Anda mungkin berpikir bahwa mungkin itu benar, mungkin ada beberapa manfaatnya. Di situlah letak dampaknya. "


(okezone.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Sengaja Tak Halau Bola, Tanda Thailand Bantu Indonesia Lolos Fase Grup Piala AFF?
Perjudian Timnas Indonesia Berbuah Malapetaka
3 Tokoh Penting Ini Gabung Kubu Jokowi Setelah Dilobi Erick Thohir
Sempat Tertinggal, Timnas Indonesia Tekuk Timor Leste
Hina Kualitas Rumput GBK, Pelatih Timor Leste: Lebih Buruk dari Thailand!

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad