Home  / Pendidikan
SPP jadi Uang Komite, SMAN 9 Pekanbaru Pungut Lagi Rp1 Juta untuk Musholla
Minggu, 2 Desember 2018 | 07:41:59
ist.
SMA Negeri 9 Pekanbaru
PEKANBARU, riaueditor.com - Pasca dibebaskannya uang Iuran Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) SMA/SMK di Riau menjadi sia-sia dengan adanya pungutan dari komite sekolah yang mau tak mau memaksa orang tua peserta didik kembali merogoh koceknya sebesar lebih kurang Rp250 ribu setiap bulannya. Pungutan uang komite ini berlaku di SMA Negeri 9 kota Pekanbaru.

Meski Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016 tentang Komite Sekolah menegaskan, baik perseorangan maupun kolektif dilarang melakukan pungutan dari peserta didik, orangtua atau wali peserta didik. Hal ini juga tidak berlaku di sekolah ini.

Tak cukup sampai di situ, Ketua Komite SMA Negeri 9 Pekanbaru kembali gunakan jurus aji mumpung dengan memungut sumbangan dari masing-masing siswa sebesarkan Rp 1 juta, yang katanya untuk membangun musholla sekolah.

Dengan jumlah lebih dari 1200 siswa, andai saja semua terkumpul maka diyakini musholla SMA Negeri 9 Pekanbaru akan menjadi musholla sekolah termegah di Asia.

Sayangnya beberapa orangtua siswa mengeluhkan kebijakan komite sekolah tersebut, "Saya punya dua anak di sekolah itu, meski saya seorang PNS, saat gajian setelah dipotong buat kredit rumah dan sebagainya, tak seberapa duit yang dibawa pulang, sementara segala bentuk tunjangan pegawai sudah tak ada lagi," kata salah seorang orangtua peserta didik.

Orangtua peserta didik yang tak bersedia ditulis namanya itu juga menyesalkan kebijakan komite sekolah yang kembali membuat edaran sumbangan Rp 1 juta dengan alasan untuk pembangunan musholla sekolah.

"Ini kan seolah pemaksaan, jika sekedar untuk merehab musholla agar lebih bagus, kan bisa dengan mendidik anak-anak kita menyisihkan uang jajannya seribu atau dua ribu rupiah perhari ke kotak wakaf musholla, saya yakin tak sampai setahun musholla sudah jadi," katanya.

Sambungnya, "Nah dengan satu juta per siswa, memangnya mau bangun masjid," timpalnya.

Terkait pungutan komite yang dikeluhkan orangtua peserta didik, Kepala SMA Negeri 9 Pekanbaru, Zuraida dikutip dari fokusriau.com mengatakan, pihaknya merasa tidak tepat untuk menyampaikan perihal tersebut. Namun dia mengakui adanya pungutan untuk pembangunan musholla tersebut, bahkan juga ada pungutan komite bulanan sebesar Rp250 ribu per siswa.

Untuk keterangan lebih lanjut, Zuraida kemudian mengarahkan kepada Ketua Komite SMAN 9, Ridarman.

Ketua Komite SMA Negeri 9 Pekanbaru, Ridarman menegaskan soal pungutan tersebut sudah sesuai dengan kesepakatan para wali murid. Sebelum pungutan Rp1 juta itu diberlakukan, pihaknya sudah mengadakan rapat dengan para wali murid.

"Ada sekitar 20-30 wali murid yang hadir saat itu, kita sepakat Rp1 juta untuk sumbangannya, bahkan saat ini sudah terkumpul Rp100 juta lebih." kata Ridarman yang mengaku sebagai mantan wartawan dan anggota LSM ini.

Ketika ditanya apakah 30 wali murid yang hadir dalam rapat saat itu mewakili suara sekitar 1000-an wali murid lainnya, Ridarman tak bisa berkomentar banyak. Yang jelas pihaknya sudah mengundang seluruh wali murid untuk hadir dalam rapat.

"Ini yang kita sayangkan, orang tua siswa tak mau hadir saat diundang rapat. Tahu-tahu belakangan muncul keberatan," katanya lagi.

Sama halnya dengan pungutan komite Rp250 ribu per siswa setiap bulannya yang diterapkan kepada seluruh wali murid. Ridarman beralasan pungutan itu karena dana BOS dan BOSDA tidak cukup untuk operasional sekolah.(har/af)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Bocoran Survei Internal Prabowo: Jokowi Masih Unggul Tipis
Disinyalir, APBD Kampar 2019 Belum Ditandatangani Ketua DPRD Kampar
November 2018 Riau Alami Inflasi 0,49 Persen
Sebulan Lagi, 4 Uang Kertas Ini Tak Bisa Ditukar Lagi
Korem 031/WB Gelar Karya Bakti Dalam Rangka Hari Juang Kartika 2018

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad