Home  / Parlemen
HUT Riau Ke-60, Dewan Sesali Penderita Gizi Buruk di Pekanbaru
Rabu, 9 Agustus 2017 | 21:33:01
Penderita Gizi Buruk (ilustrasi)
PEKANBARU, riaueditor.com - Ternyata tidak hanya persoalan Demam Berdarah Dengue (DBD), kasus gizi buruk saat ini juga menimpa 4 warga Kota Pekanbaru, ibu kota Provinsi Riau.

Untuk itu, agar persoalan gizi buruk ini tak semakin memprihatinkan dan jadi prestasi buruk bagi intansi-intansi terkait, termasuk Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Pekanbaru, diminta Diskes tanggap dan melakukan berbagai upaya antisipasi dan pendekatan kepada masyarakat. Seperti telaah apa penyebab gizi buruk terjadi di tengah-tengah Kota Pekanbaru.

"Seharusnya di era sekarang tidak ada lagi terkait gizi buruk. Kalau ini memang ada tentunya sangat disayangkan. Untuk itu, kami minta kepada Dinas Kesehatan untuk berperan aktif supaya sering memberikan tinjauan dan imbauan," kata Eri Pribasuki, Anggota Komisi III DPRD Kota Pekanbaru pada awak media, Rabu (9/8/2017).

Selain itu, Politisi PDI-Perjuangan ini juga meminta Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru dapat bekerjasama dengan pihak lainnya seperti Posyandu, Kelurahan serta Kecamatan untuk betul-betul mendata apa masih ada masyarakat yang mengalami gizi buruk.

"Kami harapkan RT RW juga melakukan pendataan di setiap kecamatan dan ini dilakukan apakah ada yang lainnya mengalami gizi buruk," imbaunya.   
 
Seperti disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru, Helda S Munir melalui Kepala Bidang Masyarakat Ely Farsya, bahawa pihaknya menemukan 4 orang mengalami kasus gizi buruk di daerahnya yang tersebar di beberapa kecamatan, dari total temuan itu, para pasien telah ditangani.

"Total pasien gizi buruk ini tersebar di empat Kecamatan, pertama di Kecamatan Limapuluh, Kecamatan Tampan, Kecamatan Rumbai Pesisir, Kecamatan Sukajadi," jelasnya.

Semua kasus gizi buruk yang didata Diskes kota Pekanbaru ini kata Ely, dipantau secara berjenjang mulai dari tingkat posyandu, puskesmas hingga dinas kesehatan. Di tingkat kota, Diskes menyiapkan program pemulihan lewat penyediaan pemberian makanan tambahan (PMT), dan juga makanan pendamping air susu ibu (Formula).

"Penanganannya telah kami tangani segera dan semaksimal mungkin, dari jumlah kasus sebelumnya gizi buruk ini telah menurun dimana pada tahun sebelumnya jumlah kasus gizi buruk 2016 sebanyak 12 orang," ungkapnya.

Dia juga mengungkapkan bahwa dari total temuan itu, 4 pasien sudah ditangani dan tidak karena masalah ekonomi keluarga melainkan karena adanya penyakit penyerta.

"Bukan karena masalah ekonomi, pasien mengidap penyakit gizi buruk, tapi mungkina adanya penyakit penyerta," ulasnya.

Ely juga mengimbau untuk mengantisipasi hal ini, agar masyarakat peduli memantau status gizi dan memeriksakan kesehatan dan kecukupan gizi anaknya ke Posyandu, Puskesmas, maupun rumah sakit terdekat.***

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Ade Irfan Penderita Kanker Otak Menunggu Uluran Tangan Dermawan
Dapot Sinaga: Kinerja Pemko Pekanbaru Dinilai Buruk
Rumah Zakat Bagikan Hewan Kurban ke Muslim Myanmar
Erdogan Sebut Pembunuhan Etnis Rohingya di Myanmar Genosida
Lebih dari 2.600 Rumah Warga Rohingya Dibakar

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad