Home  / Opini
Kematian Memalukan Mussolini yang Tak Ingin Ditiru Hitler
Minggu, 29 April 2018 | 08:16:23
tirto.id/Sabit
Ilustrasi diktator fasis Italia Benito Mussolini (1883-1945).
Sepanjang hidup, Benito Mussolini kenyang dengan percobaan pembunuhan. Pertama kali terjadi pada 7 April 1926 oleh Violet Gibson, perempuan Irlandia dan anak dari pengacara Lord Ashbourne. Usai digagalkan, Gibson ditangkap dan ayahnya dideportasi ke negara asal.

Upaya-upaya selanjutnya muncul dari golongan anarkis Italia. Pada 31 Oktober 1926, anarkis berusia 15, Anteo Zamboni, mencoba membunuh Il Duce (Sang Pemimpin) di Bologna, tapi gagal, dan Zamboni digantung di lokasi kejadian. Kegagalan serupa dialami anarkis Gino Lucetti di Roma. Michele Schirru bahkan gagal saat baru melangkah di tahap perencanaan sebab ditangkap aparat lalu dihukum mati.

Bukan sebab Musolini punya keberuntungan yang melimpah-ruah, namun posisinya sebagai orang nomor satu di Italia memang memerlukan penjagaan super-ketat. Dan saat keistimewaan ini tak lagi ia rengkuh, Mussolini semakin terdesak dan kian dekat dengan kematian. 

Mayat yang Diludahi Orang Satu Kota

Kisahnya bermula pada 25 April 1945 ketika tentara Sekutu hampir mendekati wilayah Republik Sosial Italia, negara boneka NAZI Jerman yang diperintah Musolini sejak ia dipecat dari jabatan perdana menteri Italia oleh Raja Victor Imanuell III pada 25 Juli 1943. Jabatan itu adalah simbol kebaikan hati kawan fasisnya, sang fuhrer Adolf Hitler. 

Sebagaimana dituturkan John Toland dalam The Last 100 Days (1994), Mussolini dan kekasihnya Clara Petacci berupaya kabur ke Swiss sebelum naik pesawat ke Spanyol untuk meminta perlindungan dari pemimpin fasis Fransisco Franco. Sayangnya, pada 27 April 1945, keduanya ditangkap di desa Dongo oleh dua gerilyawan komunis Italia, Valerio dan Bellini. 

Mussolini dan Petacci sempat diinapkan di rumah keluarga De Maria di Desa Mezzegra. Keesokan harinya, pada 28 April 1945, tepat hari ini 73 tahun lalu, sepasang kekasih itu dieksekusi regu tembak bersama 15 orang menteri dan pejabat Republik Sosial Italia. 

Esoknya, mayat Mussolini dan yang lain diangkut truk ke Milan. Pada pukul 15.00, mayat-mayat dibuang begitu saja di area gedung Piazzale Loreto (yang berganti nama menjadi 'Piazza Quindici Martiri' untuk menghormati 15 aktivis anti-fasis yang sebelumnya dieksekusi di tempat tersebut).

Warga berkumpul di sekitar mayat, meludahi, menendangi, lalu menggantung mereka secara terbalik di atas atap pom bensin Esso. Orang-orang lanjut melemparinya dengan batu, penuh dengan amarah. Tujuannya untuk balas dendam maupun untuk mengikis semangat sisa-sisa tentara Mussolini yang masih aktif di medan pertempuran maupun bergerilya.

Tapi ideologi memang menakjubkan jika sudah merasuki otak manusia. Contohnya Achile Starace, loyalis Mussolini yang tertangkap dan dibawa untuk melihat mayat Il Duce. Alih-alih ketakutan, ia justru mengambil salam ala fasis dan berbisik “Dia adalah tuhan”. “Dor!”â€"Starace dieksekusi seketika itu juga. Mayatnya lalu digantung di sebelah Mussolini.

Konco Kenthel Hitler

Richard J.B. Boswort dalam bukunya, Mussolini (2002), menarasikan Benito Amilcare Andrea Mussolini lahir pada 29 Juli 1883 di Dovia di Predappio. Dovia di Predappio berada di Provinsi Forli, Romagna, saat masih berada menjadi bagian dari wilayah Kerajaan Italia. Kota kecil itu kini jadi tujuan ziarah orang-orang yang tertarik mendalami sisi personal Mussolini. 

Dalam hidup yang cenderung nomaden, Mussolini muda mula-mula belajar banyak serta memiliki ketertarikan dengan sosialisme. Seiring berjalannya waktu, ia memandang ideologi tersebut sudah tidak relevan lagi, lalu beralih ke nasionalisme yang berwatak fasisme. Egalitarianisme serta pertentangan kelas ia tinggalkan, dan kemudian mendirikan Partai Fasis Nasional (PNF) pada 1921.

Peristiwa berbaris menuju Roma pada Oktober 1922 mengangkat dirinya ke posisi perdana menteri termuda Italia. Sifat kediktatorannya muncul pelan-pelan dalam lima tahun pertama. Ia menyingkirkan seluruh elemen oposisi politik, membangun negara totaliter dengan sistem satu partai, juga melarang mogok kerja buruh. 

Konstitusi negara ia utak-atik demi mengubah Italia menjadi negara totaliter secara legal. Para penentang ditahan atau dieksekusi mati. Ia membangun propaganda agar masyarakat Italia mengkultuskan dirinya untuk melanggengkan kekuasaanya. Termasuk agar mendukung secara materiel maupun morel ekspansi negara ke wilayah-wilayah lain melalui perang.

Pada akhir 1930-an, ia mendekat kepada Hitler dan membikin poros yang kian kokoh saat Italia dan Jerman bertempur di Perang Dunia II. Meski kenyataan bikin Mussolini pusing: kekalahan didera Italia di mana-mana. Kalah oleh Tentara Merah-nya Uni Soviet, kolaps di Afrika Utara, dan pasukan Sekutu justru berhasil menginvasi Sisilia.

Konsekuensinya, pada 25 Juli 1943, Dewan Besar Fasisme menyampaikan mosi tidak percaya kepada Mussolini, dan di hari yang sama Mussolini dipecat dari jabatannya. Sebelum diberikan mandat sebagai pemimpin Republik Sosial Italia, Hitler berhasil membebaskan Mussolini yang ditahan di Hotel Campo Imperatore. Peristiwa yang terjadi pada 12 September 1943 ini dikenang sebagai peristiwa Penyerbuan Gran Sasso.

Persahabatan manis dua diktator runtuh selaras dengan hantaman Sekutu ke pusat pertahanan NAZI Jerman. Merujuk laporan Foreign Policy, beberapa sejarawan berpendapat bahwa kematian Mussolini, yang sampai ke telinga Hitler melalui radio pada 29 April 1945, memengaruhi keputusannya untuk bunuh diri di akhir perang

“Itu tidak akan terjadi padaku,” kata Hitler sebagaimana dikatakan pejabat elite NAZI Hermann Goring saat pengadilan Nuremberg dan dicatat sejarawan Hugh Trevor-Roper dalam The Last Days of Hitler (1987).

Dalam surat wasiat yang ditulis pada hari yang sama, Hitler menulis, “ Aku tidak berharap (mayatku) jatuh ke tangan musuh yang membutuhkan tontonan yang diadakan orang Yahudi untuk hiburan dan histeria massal mereka.”

Untuk mencapai tujuan ini, Hitler sudah memerintahkan para bawahan yang menjaganya di sebuah bunker di Berlin untuk membakar mayatnya usai bunuh diri. Hitler menembak kepalanya sendiri dengan sepucuk pistol pada 30 April 1945 atau dua hari usai kematian Mussolini. Istri Hitler, Eva Braun, memilih untuk menenggak sianida.

Beberapa pejabat elite NAZI membawa mayat Hitler dan Braun ke kebun belakang bunker, lalu menyulutnya dengan api. Kala bau daging terbakar menguar ke udara dan mayat kian menghitam legam, mereka mengangkat telapak tangan kanan ke udara, memberi salam terakhir untuk diktator fasis itu.


(tirto.id - Akhmad Muawal Hasan)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Memahami Manajemen Kematian dan Pengurusan Jenazah
Inilah Perubahan Pada Tubuh Menjelang Kematian
Kematian Patmi dan Nasib Petani Gunung Kendeng
Polisi Autopsi Jenazah Manajer Jkt48
Korem 031/Wirabima Beri Santunan Kematian Kepada Ahli Waris Keluarga Prajurit

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad