Home  / Opini
Penutupan Alexis dan Warisan Bisnis Prostitusi Era Belanda
Oleh: Alwi Shahab
Kamis, 29 Maret 2018 | 08:07:02
ist.
Penutupan Alexis dan Warisan Bisnis Prostitusi Era Belanda
Pemberitaan penutupan Alexis menjadi pembicaraan hangat di masyarakat setelah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan telah resmi mencabut tanda usaha izin pariwisata (TDUP) PT Grand Ancol Hotel selaku pengelola Hotel Alexis. Pencabutan izin usaha ini berarti menghentikan seluruh unit usaha yang ada di Hotel Alexis untuk beroperasi.

Hotel yang disebut sebagai salah satu sarang kupu-kupu malam terbesar di Indonesia itu ternyata bukan satu-satunya tempat prostitusi di Jakarta. Praktik jual beli nafsu di Jakarta sudah berlangsung berabad-abad, bahkan sejak Belanda menjajah Indonesia.

Satu kawasan yang dikenal sebagai pusat maksiat adalah Mangga Besar. Kepolisian menyatakan kawasan Mangga Besar sebagai salah satu pusat transaksi narkoba di Jakarta.

Penyebabnya karena kawasan di Jakarta kota ini dipadati berbagai tempat hiburan: pelacuran, klab malam, panti pijat, perjudian, dan entah apa lagi namanya. Saya sempat mewawancarai seorang petugas di kelurahan Mangga Besar, ia mengemukakan pada malam hari penduduk kelurahannya meningkat dua kali lipat dibanding siang hari. Entah berapa ratus miliar uang dihabiskan mereka dalam semalam mencari hiburan di sana.

Pelacuran memang sudah merajelela sejak awal berdirinya Kota Batavia. Akibat kurangnya jumlah wanita saat itu, bisnis pelacuran pun menggeliat. Seperti pada 13 Agustus 1625, hanya enam tahun setelah JP Coen mendirikan Batavia, seorang perempuan pribumi, Maria, mengadukan suaminya, Manuel, pada polisi. Manuel memaksa dirinya dan budak perempuannya untuk mencari nafkah haram dengan menerima uang lendir setiap hari.

Pada Agustus 1631 diketahui beberapa perempuan telah melakukan zina dengan orang-orang Cina dan Banda. Sementara sejumlah orang yang memelihara budak-budak perempuan memerintah mereka untuk melacur setiap harinya. Sementara si pemilik budak tinggal memetik penghasilan besar.

Pelacuran di Jakarta sudah dikenal sejak awal munculnya VOC. Dalam sejarah Betawi tidak dikenal pekerjaaan serupa baik pada masa pra Islam maupun di masa Islam. Orang Betawi sendiri pada awalnya tidak mengenal istilah pelacur yang kemudian dilunakkan sebutannya jadi WTS (Wanita Tuna Susila) dan kini lebih diperlunak lagi jadi PSK (Pekerja Seks Komersial). Orang Betawi menyebutnya dengan cabo yang merupakan adaptasi dari bahasa Cina caibo dan moler berasal dari bahasa Portugis. Sebutan lainnya adalah kupu-kupu malam.

Seperti Mangga Besar yang berdekatan Glodok sekarang, sejak dulu tempat operasi WTS selalu dekat dengan kawasan niaga dan perhotelan. Tempat konsentrasi pelacur pertama di Batavia adalah Macao Po yang kala itu berdekatan dengan hotel-hotel di depan Stasion Beos (Jakarta kota). Lokalisasi pelacuran ini memang untuk kalangan atas alias mereka yang berkantong tebal. Karena para pelacurnya didatangkan dari Macao oleh jaringan germo Portugis dan Cina.

Seperti juga sekarang ini, banyak klub malam yang menghadirkan penghibur dan pelacur dari Hongkong, Taiwan, Pilipina, dan berbagai negara lain. Di Macao Po para pejajannya adalah para petinggi VOC yang dikenal korup dan taipan atau orang berduit keturunan Cina.

Di dekat Macao Po, masih di kawasan Glodok terdapat pelacuran kelas rendah Gang Mangga. Tidak heran kalau sakit ‘perempuan’ kala itu disebut ‘sakit mangga’. Kemudian dikenal dengan sebutan raja singa atau sipilis. Di abad ke-19, sipilis termasuk penyakit yang sulit disembuhkan karena saat itu belum ditemukan antibiotik. Penyakit itu mungkin bisa dikatakan seragam dengan AIDS/HIV sekarang ini yang sudah menginfeksi sekitar 130 ribu hingga 150 ribu orang di Indonesia yang 80 persen diantaranya usia produktif 15-29 tahun.

Kompleks pelacuran Gang Mangga ini kemudian tersaingi oleh rumah-rumah bordir yang didirikan orang Cina yang disebut soehian. Lokalisasi ini ditutup pada awal abad ke-20 karena sering terjadi keributan. Tapi kata soehian tidak pernah hilang dalam dialek Betawi untuk menunjukkan kata sial. Dasar suwean (sialan).

Setelah penyerahan kedaulatan, kompleks pelacuran terdapat di berbagai tempat di Jakarta. Seperti Gang Hauber di Petojo yang terdiri dari Gang Hauber I, II, dan III yang oleh Wali Kota Sudiro pada pertengahan 1950-an diganti Gang Sadar. Tapi, si pelacur dan laki-laki hidung belang tidak sadar-sadar karena sampai awal 1980-an masih beroperasi.

Di Sawah Besar terdapat kompleks pelacuran Kaligot, mengambil nama sandiwara Prancis Aligot yang pada 1930-an manggung di Batavia. Sedangkan, di daerah Senen terdapat kompleks pelacuran Planet. Nama planet ini diambil ketika terjadi persaingan antara AS dan Uni Soviet untuk meluncurkan sputnik ke Planet pada 1960-an. Spuntik adalah misi dikirimnya pesawat luar angkasa oleh Uni Soviet. Pesawat pertama, Spuntik I, mengirim objek buatan manusia pertama ke orbit Bumi. Peluncuran ini dilaksanakan pada 4 Oktober 1957.

Selain Planet Senen, ada juga tempat pelacuran Malvinas di Bekasi yang menjulang saat terjadi perang antara Inggris dan Argentina memperebutkan kepulauan Malvinas (Folkland) di pada 1980-an. Di Planet Senen, pelacuran kelas bawah ini berlangsung di gerbong-gerbong kereta api antara Stasiun Senen hingga Jl Tanah Nyonya (Gunung Sahari) yang panjangnya beberapa ratus meter. Selain itu, operasi juga ngamar di rumah-rumah kardus dekat rel kereta api.

Tempat pelacuran yang tiap hari didatangi ribuan orang ini dibersihkan pada masa Gubernur Ali Sadikin (1971). Pekerja seksnya dipindahkan ke Kramat Tunggak, Jakarta Utara. Sebelum ditertibkan Bang Ali, di sekitar Senen dari depan bioskop Rivoli di Palputi hingga depan Bioskop Grand (Kramat) ratusan becak berseliweran dengan muatan para pelacur.

Hiburan bergengsi di Jakarta baru dimulai pada masa Ali Sadikin. Dipelopori tokoh perfilman Usmar Ismail yang mendirikan klub malam Mirasa Sky Club di puncak Gedung Sarinah di Jl Thamrin. Setelah ini berjamuran puluhan klab malam, panti pijat, diskotek, pub, salon, dan lokalisasi liar muncul di Jakarta. Striptease yang sebelumnya hanya bisa dinikmati di Singapura hadir pula di panggung Jakarta. Sebelumnya Jakarta sempat dijuluki The Big Village atau kampung besar.


(sumber: republika.co.id)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
UNESCO Tetapkan Kota Tua Medina Azahara Dekat Cordoba sebagai Situs Warisan Dunia
Bank Riau Kepri Koordinir Rakor Bisnis BPD se Sumatera
Mahasiswa Administrasi Bisnis PNB Taja Workshop Psikotes untuk Pencari Kerja
Kopertis Rekomendasikan Penutupan 7 Kampus Swasta di Sumut
Diintimidasi Sekuriti Alexis, Wartawan Lapor Polisi

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad