Home  / Opini
Undercover
Menelisik Kehidupan Malam Pekanbaru
Rabu, 7 Maret 2018 | 14:04:18
Kepolisian saat melakukan razia
PEKANBARU, riaueditor.com - Kota Pekanbaru yang indentik dengan sebutan Kota Bertuah yang Madani, kental dengan ragam budaya Melayu yang masih melawan arus sejumlah warganya. 

Pasalnya jika lebih dalam melihat kondisi Kota Pekanbaru sebenarnya, ternyata masih banyak berkeliaran penjaja seks yang dikemas begitu rapi dan tertutup. 

Hasil investigasi yang dilakukan Riaueditor.com Ahad (4/03/20180 dini hari, penjaja seks ini tidak melulu dilakukan perempuan dewasa dari provinsi Riau, namun banyak juga dari luar Riau.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, saat menelisik kehidupan malam di Kota Pekanbaru, penjaja seks bisa dipisahkan menjadi dua, yakni penjaja seks tidak langsung dan penjaja seks langsung. 

Kehidupan malam selalu dicari sekelompok orang yang mencari kepuasan pribadi atau mencoba mencari oase pembebasan dari belenggu aktifitas rutin sehari-hari. 

Ini menjadi semacam magnet yang menarik siapa saja yang ada di sekelilingnya. Ujung- ujungnya, tak jauh dari seks dan uang.

Mungkin karena desakan ekonomi atau mungkin karena gaya hidup yang sudah berubah, mencari tempat hiburan malam atau pun dunia kenakalan malam tidak lagi susah di Kota Bertuah ini.

Saat menulusuri malam di Kota Pekanbaru ini ada beberapa titik yang menjadi tempat mangkal wanita kupu-kupu malam atau Pekerja Seks Komersil (PSK) dari berbagai usia kisaran antara 18 tahun sampai umur 28 tahun.

Seperti terlihat di Komplek Jondul Lama, Jalan Teuku Umar, Jalan Sudirman dan sejumlah kafe remang-remang yang ada di Kecamatan Payung Sekaki.

Motif yang dilakukan PSK ini ada yang bermodus pekerja panti pijat, berdiri dipinggir-pinggir jalan dan dengan berdiam di sejumlah warung-warung remang.

Di sepanjang Jalan Sudirman sendiri ada beberapa titik yang menjadi tongkrongan, seperti di depan May Bank, depan Van Hollano dan simpang Jalan Teuku Umar.

Saat berhenti sejenak atau membeli rokok, dapat dilihat para WTS ini, tinggal para hidung belang yang membuka pembicaraan kepada mereka.

Sapaan pertama dan menjalin komununikasi keakraban untuk memulainya transaksi esek-esek, dengan ramah wanita tersebut berkomunikasi hingga mengadu harga mulai Rp350 ribu hingga Rp500 ribu sekali berhubungan badan

“Mau sort time apa long time,” kata Bunga (28) bukan nama sebenarnya. Dengan bahasa sort time (waktu yang singkat) atau long time (waktu yang lama) menjadi gaya bahasa untuk menentukan berapa lama harus memuaskan oase biologis tersebut.

Setelah transaksi deal harga, para hidung belang tinggal mengajak Bunga ke hotel terdekat atau hotel kelas melati lainnya yang dikehendaki.

“Kami nangkring disini karena kalah saing dengan cewek-cewek yang nongkrong di Discotige & Karaoke MP dan Discotiqe SP dan lainnya, transaksi bisa berjalan cepat,” katanya.

Jenis hotel yang sering digunakan Bunga sendiri tergantung pada keinginan tamu atau hidung belang, bahkan jika harganya cocok, Bunga langsung cabut meski harus menginap.

Jika suruh menginap bersama tamu, saya temani. tapi setelah harga cocok dulu,” jelasnya.

Sejumlah latar belakang faktor masuknya dunia hitam, Bunga berawal mengalami kehidupan pahit bersama suaminya, yakni Bunga diperlakukan secara tidak wajar menjadi seorang istri, yaitu dtinggal pergi seenaknya, bahkan tidak pernah memberikan nafkah untuk buah hatinya tercinta dan lapangan kerja serta keahlian yang tak dipunyainya.

Sehingga beban ekonomi yang begitu berat menjadi solusi untuk mencoba bergaul dan cara praktis dalam mendapatkan uang tanpa susah bekerja.

“Awalnya faktor ekonomi, saya lalu diajak teman, pada awalnya saya takut. Namun karena sudah kebiasaan menjadi hal saya anggap enjoy saja,” ucapnya.

Dalam hitungan sehari pendapatannnya tak menentu, melihat pada cuaca dan waktu ramai, terkadang Bunga hanya bisa gigit jari tidak mendapatkan tamu atau uang. Tapi jika lagi bagus atau pada malam Sabtu dan Minggu bisa meraup Rp 600 ribu sampai 1 juta dalam semalam.

“Sehari saya bisa melayani tamu gak tentu, bisa dua hingga tiga kalilah, kadang juga gak ada tamu," cetusnya.

Keberadaanya bekerja di dunia hitam tersebut, Bunga masih ada naluri rasa untuk berubah dan mengakui bahwa pekerjaanya salah atau tidak benar. 

Tapi lagi-lagi melihat kebutuhan anaknya yang harus mengocek Rp100 ribu perhari untuk kebutuahn anaknya dikampung, mulai dari susu, makanan dan jajan belum lagi kosannya.

“Demi anak saya berani berbuat apa saja. Karena semua orang belum tentu peduli kepada saya dan anak saya,” sesalnya. 

Praktik prostitusi secara terbuka memang jarang digemari karena perempuan tersebut rata-rata berusia diatas 26 tahun.

Selanjutnya penelusuran dilakukan disejumlah panti pijat yang ada di lokasi Perum Jondul Lama. Kawasan ini sudah dikenal sebagai tempat kosan Texas dan tempat sejumlah panti pijat esek-esek.

Pada malam hari, komunikasi atau transaksi yang dilakukan tepat di depan panti pijat esek-esek itu. Sekalipun razia dilakukan, dikawasan ini tidak susah untuk mencari hiburan seks dengan modus panti pijat sehat.

"Mereka hanya sembunyi kalau dirazia oleh Polisi dan Satpol PP, kalau sama yang lain mah pastilah tidak sembunyi,” ujar seorang warga yang enggan menyebutkan namanya yang tinggal tak jauh dari lokasi esek-esek itu.

Soal tarif, lagi-lagi menyebut paket hemat. “Cukup dengan beberapa lembar ratusan ribu aja,” ujarnya.

Dia memberikan tips, kalau mau mendapatkan harga murah maka datanglah pada tengah malam. “Kian larut kian murah,” ujarnya sambil tersenyum.

Lalu di sekitar Arengka tepatnya di Jalan Soekarno Hatta dan Jalan SM Amin yang sering mangkal waria (bencong) yang suka nongkrong di kawasan itu. 

Selain itu kawasan ini diakui oleh mereka para bencong sebagai tempat yang nyaman untuk mangkal. Apalagi lampu penerangan di kawasan tersebut masih minim. 

Terakhir, kami mengunjungi sejumlah tempat hiburan malam besar seperti MP Club dan SP Club di Jalan Teuku Umar, C7 Jalan Cempaka, Arena Jalan Tuanku Tambusai, Paragon Pub & KTV Jalan Sultan Syarief Kasim, Dragon Pub & KTV Jalan Kuantan Raya, S Club Jalan Sudirman, RP Club di Hotel Grand Elit dan Furaya Karaoke & KTV serta KTV di Hotel Grand Central Jalan Sudirman.

Ditempat hiburan besar ini, penampilan mereka lebih cantik dan sensual. Apalagi dengan balutan rok mini dan pakaian seksi serba menggoda.

Sebutannya wanita pemandu lagu alias PL. Sering juga disebut purel atau kadang Lady Escort alias LC. Tapi semua nama itu artinya sama saja. 

Tugas wanita-wanita ini menemani tamu berkaraoke ria dan menyuguhkan minum. Mereka ini dikomandoi para mami/papi julukan buat sang mucikarinya.

Untuk menarik tamu, para wanita muda ini berpakaian seksi. PL adalah daya tarik utama sebuah tempat karaoke. Selain cantik, PL yang ramah dan pandai menyanyi disukai para tamu karaoke. Mereka ini terdiri dari tamatan SMA bahkan para mahasiswi yang masih kuliah.

Harga cas mereka bervariasi tergantung tempat karaokenya. Sekali cas para LC ini berkisar Rp 550 hingga Rp 600 ribu perlima jam. Itu pun diluar tips mereka.

Nah, seringnya wanita pemandu lagu ini juga bisa dibooking. Setelah suasana panas dalam ruang karaoke, biasanya berlanjut ke hubungan yang lebih intim ke hotel.

Parahnya lagi, sejumlah tempat karaoke besar di Kota Pekanbaru ini separti di MP, SP, C7, Arena dan ruang VIP malah disediakan kamar tidur tempat untuk berhubungan intim selama para tamu menggunakan fasilitas kamar karaoke itu.

Diakui seorang Pemandu Lagu, Putrie (25), memang karaoke hanya pemanasan. Wanita berparas cantik dan rambut sebahu asal Jawa Barat ini sudah biasa dirangkul atau dicolek tamu di dalam room karaoke.

"Biasanya mereka penasaran, dan ngajak lanjut. Saya lihat-lihat orangnya. Tapi biasanya saya tawarin Rp 1 juta sampai 1,5 juta sekali sort time. Ya kurang dikit bolehlah, untuk sekali main, itu semua diluar harga cas sebagai LC," kata Putrie.

Putrie mengaku belum setahun bekerja sebagai LC. Sebelumnya dia hanya ibu rumah tangga, setelah bercerai seorang teman mengajaknya bekerja di karaoke di Pekanbaru. Setelah dicoba, Putrie kerasan dengan profesi barunya. Alasannya apalagi kalau bukan uang demi menghidupi anaknya yang tinggal bersama orang tuanya.

"Ya inginnya sih nggak kerja kayak gini, tapi terpaksa dikerjain aja. Susah cari kerja, apa lagi saya janda anak satu," ucap Novi.

Awalnya karaoke merupakan hiburan yang sangat populer bagi para pekerja di Jepang untuk melepas stres. Seiring membanjirnya alat elektronik dari Jepang, budaya karaoke pun mulai marak di Indonesi.

Tingginya permintaan kaum adam membuat bisnis ini tak pernah mati. Di Kota Pekanbaru sendiri, nyaris setiap malam tempat karaoke selalu dipadati pengunjung. 

Baik pengunjung yang merupakan warga Pekanbaru sendiri dan pengunjung dari Kabupaten/Kota lainnya di Provinsi Riau.

Sebagian besar kaum hidung belang karena ingin dibelai oleh para pemandu lagu yang cantik dan berujung pada hubungan intim.

Keberadaan perempuan LC dilokasi karaoke menjadi salah satu ‘gula’ untuk mendatangkan konsumen sebanyak-banyaknya. Meski kerap dipandang miring oleh masyarakat, para PL/LC ini tak mau ambil pusing.

Bagi mereka yang penting pundi-pundi rupiah dapat dikantongi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka.

Inilah modus prostitusi berkedok wanita pemandu lagu karaoke. Bernyanyi sambil merangkul mesra para gadis seksi ini ternyata hanya pemanasan. 

Sesi yang lebih intim selanjutnya dilakukan di hotel-hotel kelas menengah atas dengan mengajak ST (short time) atau BO (booking order) para pemandu lagu tersebut dengan harga diatas Rp1,5 juta - Rp 2 juta. (big D)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Atasi Banjir, FWH Minta PUPR Ekspos Pekerjaan Yang Dilakukan
Polda Riau OTT Oknum Lurah di Pekanbaru
Pansus RPIK Kunjunngi Kawasan Industri Tenayan
Matangkan Pembahasan, Pansus RPIK Koordinasi ke Dinas Perindustrian Provinsi
Insiden Ambruknya Pagar SDN 141 Pekanbaru, Dewan Nilai Kontruksi Pagar Tidak Layak

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad