Home  / Opini
Rambo dan Pengkhianatan G30S PKI: Mengapa Kalau Propaganda?
Selasa, 19 September 2017 | 19:02:11
Poster Film G 30 S PKI
Film "Pengkhianatan G 30 S PKI" film propaganda? Jawabnya, kalau propaganda memang kenapa? Sebab, faktanya memang semua film adalah propaganda!

Pada kenayataannya genre film juga tak tunggal. Film itu banyak "genre"nya. Dan andai Arifin yang anak tukang sate di Cirebon itu memilih genre tersebut, itu pun absah saja. Apalagi, semua sutradara itu bebas memilih visi dan ideloginya. Seni tak pernah melarang seniman punya pilihan. Sebab karya apapun adalah ekspresi.

Saya sebut "andai Arifin", karena film "Pengkhianatan G 30 S PKI" bukan film propaganda. Arifin mempropagandakan apa? Dia seniman bebas. Setahu saya, Arifin bukan kelompok Manikebu yang bertarung dengan Lekra, macam Goenawan M dan Wiratmo Sukito. Arifin di masa ‘pertarungan’ 1965 saat itu hanyalah anggota kelompok Teater Muslim di Yogyakarta yang dipimpin sastrawan Mohammad Diponegoro.

Kala itu, Arifin dan Mohammad Diponegoro memang terlibat dalam pertarungan gagasan dengan kelompok seniman Komunis yang berhimpun di dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang menjadi organisasi sayapnya PKI. Bila Lekra di sekitar Jogjakarta (wilayah kawasan kaki gunung Merapi, dan Merbabu) sibuk mementaskan teater tradisional ‘Ketoprak’ dengan lakon mengolok-olok ajaran agama seperti ‘Patine Gusti Allah’ dan ‘Gusti Allah Mantu’, maka Arifin bersama teater Muslimnya melakukan antitesis dengan menampilkan teater atau drama moderen dengan naskah bernuansa Islam seperti berjudul ‘Iblis’. Isi cerita naskah ini bertema tentang pengorbanan Nabi Ibrahim.

Dari jejak karyanya, Arifin adalah seniman yang menyuarakan nilai-nilai ideal, yang diolah dari realitas sosial. Selepas dari Teater Muslim dan pindah ke Jakarta, Arifin kemudian mendirikan Teater Ketjil. Di sini dia menulis banyak naskah teater yang menjadi legenda: Umang-umang dan serial Orkes Madun. Dalam naskah ini Arfin dengan sangat baik mengabungkan ide pertunjukan teater rakyat yang bersifat komunal dengan teater moderen yang cenderung individual.

Lalu seperti apa sosok Arifin C Noer di mata ‘anak asuhnya’ di Teater Ketjil? Pada soal ini ada satu jawaban dari sesepuh Teater Koma, Ratna Riantiarno. "Arifin adalah guru yang baik. Berkomitmen tinggi dan sangat disiplin. Kalau bekerja dengan dia dintuntut harus tolal," kata Ratna.

Dan, setelah cukup lama berkecimpung dalam dunia pertunjukan teater, Arifin mulai pertengahan dekade 70-an, memberanikan diri menjajal dunia film. Karya film pertamanya adalah ‘Suci Sang Primadona’. 

Di antara sekian banyak karya film Arifin, salah satu yang terus ramai diperbincangkan, terutama setiap kali datang bulan September adalah adalah film ‘Penghianatan G 30 S PKI’. Pada awalnya pembuatan film ini ditawarlan kepada seorang sutradara kondang dan pengasuh kelompok Teater Popular: Steve Liem atau lebih dikenal dengan nama Teguh Karya. Namun tawaran ini ditolak oleh Teguh dengan alasan tak mampu membuatnya. Dia kemudian merekomnedasikan orang yang dianggapnya lebih mampu dengan merujuk nama Arifin C Noer."Arifin pasti bisa!"

Arifin pada suatu kesempatan secara langsung mengaku memang tertarik menyutradarai film ini lantaran melihat fakta-fakta kudeta PKI 1965. Dan itu ia sampaikan saat saya mewancarainya di Taman Ismail Marzuki tahun 1989. Ia mengakui, salah sumber cerita film G 30 S PKI adalah hasil sidang Mahmilub. Tapi itu salah satunya, sebab Arifin mengatakanjuga  melakukan studi fakta pembanding. Sayang ia tak mau menyebut sumber fakta pembanding yang dia katakan.

"Kalau kamu cermati, bisa dirasakan dan ketemu (fakta pembanding)," kata Arifin saat itu.

Jadi mengapa sekarang publik heboh dengan film ‘Penghianatan G 30 S PKI’ itu? Bukankah film itu tak menyebut bahwa film dokumenter, yang dituntut presisi alur dan faktanya? 

Menurut saya, Film Pengkhianatan G 30 S PKI adalah film hiburan bervisi. Tak beda seperti film Rambo garapan Hollywood, tak ada yang sempurna. Ada aja yang terasa hyperbol. Itulah indahnya film.

*Teguh Wijaya, wartawan film senior.

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Pemerhati Sinema Sayangkan Film Naura dan Genk Juara
Panglima TNI: Festival Film Nusantara Tumbuhkan Rasa Nasionalisme
Pasukan Garuda TNI Unifil 2017 Nonton Bareng Film G30S/PKI Di Daerah Misi Lebanon
Ribuan Masyarakat Pekanbaru Penuhi Nobar G30S/PKI Di Lapangan Makorem 031/WB
Koramil 08/Mandah Gelar Nobar Film G30S/PKI

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad