Home  / Nasional
Koalisi Prabowo Sesalkan Cara Represif Polisi Tangani Demo HMI di Sumut dan Bengkulu
Sabtu, 22 September 2018 | 06:52:02
ilustrasi (Doc. Net)
JAKARTA - Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan cara polisi dalam menangani aksi demonstrasi mahasiswa di Medan, Sumatera Utara dan Bengkulu sangat berlebihan.

Sikap represif aparat kepolisian kata Dahnil, tidak dibutuhkan karena aksi demonstrasi mahasiswa tidak mengancam keamanan.

"Saya pikir represif dan berlebihan, dan agak lebay," kata Dahnil di kediaman Prabowo, Jalan Kertanegara Nomor 4, Jakarta Selatan pada Jumat, (21/09/2018).

Dahnil meminta agar persoalan seperti itu tidak terjadi lagi di masa-masa berikutnya. Pasalnya kata Dahnil, di era demokrasi seperti saat ini seharusnya unjuk rasa dijadikan ajang beradu pendapat. Menurutnya, penyampaian pendapat dalam bentuk kritik tidak perlu disikapi secara berlebihan.

"Saya berulang kali mengingatkan kepada kepolisian untuk tidak represif. Demonstrasi itu biasa, apalagi di era demokrasi saat ini," ujarnya.

Sebelumnya aksi unjuk rasa mahasiswa berujung ricuh terjadi di Medan dan Bengkulu dalam sepekan terakhir. Sejumlah mahasiswa, masyarakat dan aparat kepolisian pun mengalami luka-luka dalam dua aksi unjuk rasa yang bertujuan untuk menyampaikan kritik terhadap kinerja Pemerintahan Joko Widodo itu.

Mantan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Bengkulu Abdul Aziz menyatakan salah satu anggota organisasi itu, Ahmad Deka, terkena tembakan polisi dalam aksi unjuk rasa beberapa hari lalu. Bahkan menurut dia, aparat menggunakan peluru tajam dan gas air mata menghadapi para mahasiswa.

Alih-alih meminta maaf, kata Aziz, jajaran Polda Bengkulu saat ini justru menebar teror kepada kader HMI dan mahasiswa yang ikut aksi dengan tujuan agar kasus ini tidak jadi melapor ke Komnas HAM. Teror itu bentuknya bermacam, mulai dari pesan singkat dan telepon gelap, hingga ada ancaman fisik.

"Untuk itu kami menuntut Kapolda Bengkulu segera dicopot. Ini sudah di luar batas, mahasiswa diperlakukan tidak manusiawi," ungkapnya.

Perlakuan ini juga ditunjukkan saat polisi dengan sengaja membawa anjing pelacak dalam memburu sebagian peserta aksi. Aziz menyebut secara keseluruhan ada lima korban, tetapi Ahmad Deka yang paling parah kondisinya.

Bahkan kata Aziz, gas air mata aparat kepolisian juga mengenai gedung Sekolah Dasar (SD), yang dikhawatirkan dapat memberikan dampak psikologis terhadap anak-anak. Aziz menegaskan, ada anak SD yang turut jadi korban.

"Jadi ada sekolah SD di belakang masjid di dekat gedung DPRD yang kena sasaran gas air mata. Ada anak yang jadi korban, kita lagi kumpulkan buktinya," tuturnya.


(jarrak.id)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Ajak Bunga Gituan Lewat SMS, Karyawan PT IIS Dicokok Polisi
KPK Tahan 35 Anggota DPRD Sumut Terkait Kasus Suap Gubernur Gatot
Komunitas Relawan Prabowo-Sandi Provinsi Riau Silaturahmi Satukan Visi
Selasa 27 November, Polisi akan Periksa Rocky Gerung
Beredar Surat Polisi Panggil Rocky Gerung

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad