Home  / Lingkungan
Tolak Uang Sagu Hati Rp300 Juta
Massa AMABNLH Desak PT EMA Realisasikan 7 Tuntutan Enam Desa di Kepenuhan
Rabu, 25 Oktober 2017 | 18:58:51
alfa
Aksi demo massa AMABNLH di depan gedung administrasi PKS PT EMA Kota Tengah Kecamatan Kepenuhan Kabupaten Rokan Hulu, Riau, Senin 23 Oktober 201 siang.
KEPENUNUHAN, riaueditor.com - Seratusan massa Aksi Masyarakat Adat Bela Nelayan dan Lingkungan Hidup(AMABNLH), melakukan aksi unjuk demo di depan gedung administrasi PT Ema PKS Kota Tengah Kecamatan Kepenuhan Kabupaten Rokan Hulu, Riau, Senin 23 Oktober 201 siang. 
  
Aksi demo yang dilakukan massa AMABNLH ini, merupakan gabungan dari warga lima desa dan 1 kelurahan di kecamatan Kepenuhan bersama Mahasiswa Se-Kabupaten Rokan Hulu, guna menuntut dan menolak keberadaan perusahaan yang sudah kekecewaan warga, akibat pencemaran limbah cair dari PKS PT EMA.

Dalam aksi itu, Anton Adiputra selaku kordinator aksi yang juga Presiden Mahasiswa Universitas Pasir Pengaraian (Presma UPP) melalui Ziaul Al Faruq menyampakan dalam orasinya bahwa tanggungjawab sosial kepada masyarakat atas dampak pencemaran limbah cair PKS PT Eluan Mahkota (EMA) Kebun Kota Tengah dinilai tidak manusiawi.

"Pemberian dana sagu hati yang diberikan kepada warga untuk 5 desa dan 1 kelurahan di Kepenuhan yang diberikan PT EMA adalah tindakan yang tidak baik dan tidak peduli dengan nasib warga sekitar tersebut," teriak Ziaul Al Faruq kepada pimpinan PKS PT EMA.

Mengapa demikian lanjut Ziaul Al Faruq, akibat adanya pencemaran limbah cair yang dilakukan PKS PT EMA di sepanjang Sungai Rokan dan Pemukiman warga di 6 desa tersebut. Saat ini ratusan ribu masyarakat yang tinggal di dekat PKS ini terancam dari segi kesehatan dan ekonomi masyarakat menjadi menurun drastis.

"Kenapa begitu, karena perusahaan ini telah merusak ekosistem hayati dan lingkungan hidup di sekitar warga, kesehatan masyarakat terganggu, mata pencaharian masyarakat sebagai nelayan menjadi terputus. Dan masyarakat yang hendak Mandi, Cuci dan Kakus menjadi terancam akibat dampak limbah PKS itu," ulas Ziaul Al Faruq.

Yang parah lagi lanjut Ziaul, perusahaan ini mencoba melakukan negosiasi dengan aparat kelurahan, desa dan kecamatan agar masyarakat di enam desa ini menerima uang dana sagu hati sebesar Rp 300 juta yang akan dibagikan kepada masing masing desa sebesar Rp 50 juta tiap desa.                 

"Luar biasa perusahaan ini yang sudah membodohi dan menzolima masyarakat setempat. Untung saja kami mendapat informasi dari warga sekitar bahwa mereka diundang di aula kantor Lurah Kepenuhan Tengah, Sabtu (21/10/2017) malam untuk merundingkan itu, tapi warga tetap menoloknya," tegas Ziaul.  

Diceritakanya, kegiatan itu dipimpin langsung oleh Camat Kepenuhan, Recko Roeandra S.STP dan dihadiri seluruh Kepala Desa dan Lurah yang terdampak limbah pabrik, Manajer PKS PT EMA Hasoloan Sianturi, H. Ketua LKA Luhak Kepenuhan Bahtiar AH, tokoh masyarakat, Mahasiswa, Pemuda dan undangan lainnya. 

"Akan tetapi lanjutnya, masyarakat, mahasiswa dan tokoh adat setempat kurang setuju dengan hasil mediasi pada Sabtu malam (21/10/2017) itu. Dan hari ini kita turun ke lokasi perusahaan untuk menyampaikan aspirasi dan menuntut perusahaan bersikap adil kepada masyarakat ini," tambahnya.  

Ziaul Al Faruq juga menyatakan kendati pemerintah kecamatan dan pemerintah desa sudah menyatakan bahwa PT. EMA bertanggungjawab atas pencemaran yang sudah dilakukan mereka dan memberikan sagu hati Rp 300 juta kepada 6 (enam) desa tersebut menurutnya belum cukup untuk membantu masyarakat 5 Desa dan 1 kelurahan yang ada di Kepenuhan ini.

Yang parahnya lagi, lanjut Ziaul Al Faruq, perusahaan melalui Dirut PT Ema pernah berjanji akan menutup PT selama seminggu operasional PKSnya. Akan tetapi, kesepakatan itu dilanggar oleh PT EMA.

Lantaran Surat Perjanjian yang sempat dilakukan mahasiswa bersama masyarakat tidak mau ditandatangai oleh manajer perusahaan, dengan dalil bukan wewenangnya untuk melakukan kesepakatan melainkan wewenang direktur utamanya yang berkantor di Pekanbaru.

Adapun isi surat pernyataan yang di buat oleh masyarakat dan mahasiswa tersebut yang tidak di tanda tangani oleh pihak perusahaan, sebagai berikut :

1. Menghentikan operesional  PKS PT EMA sampai ada kesepakatan penyelesaian dan realisasi tuntutan aksi masyarakat adat bela nelayan dan lingkungan hidup ( AMABNLH),

2. Melibatkan tokoh Adat Luhak Kepenuhan dan LAMR Rokan Hulu dalam setiap tahapan Penyelesaian masalah ini.

3. Mengumumkan hasil uji labor terakreditasi meliputi kandungan dan bahaya limbah PKS PT.  Ema yg mencemari sungai Rokan dan Anak Sungai sekitarnya.

4. Melakukan upaya hingga tuntas pemulihan anak sungai dan sungai rokan, minimal meliputi :

a. Penanaman / reboisasi lima belas meter kiri kanan sepanjang anak sungai yg masuk dalam HGU PT EMA;

b. Penebaran satu juta ekor bibit ikan meliputi jenis ikan Baong, ikan patin, ikan selais, ikan Lomak, ikan bolido, udang Galah.

5. Mengumumkan bentuk dan besaran bantuan sosial (csr)  PT. ema Kepada Masyarakat Kepenuhan 5 (lima)  tahun terakhir.

6. Menghitung Kerugian materiil dan imateriil pengguana/pemanfaat sungai rokan secara proporsional sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

7. Menandatangani tuntutan aksi masyarakat adat bela nelayan dan lingkungan hidup. Apabila tidak ditanggapi dan merealisasikan tuntunan ini dalam waktu 7 (tujuh) hari terhitung mulai tanggal 23 Oktober 2017, maka kami akan melakukan aksi yang lebih besar lagi.

Afrizal, S.Sos selaku tokoh masyarakat dan sekaligus tokoh adat Kepenuhan yang hadir dalam aksi tersebut mendukung langkah yang sudah dilakukan masyarakat bersama mahasiswa tersebut. 

Ia juga sempat menyebutkan, jika saja pihak perusahaan tak mengindahkan tuntutan masyarakat, agar aksi selanjutnya masyarakat segera melakukan penutupan akses pintu masuk perusahaan dengan cara meblokir jalan masuk ke PKS PT EMA. 

"Kita minta pihak hukum proses kejadian pencemaran lingkungan ini sesuai hukum yang berlaku. Dan kita minta juga Dinas terkait untuk intens mengawasi limbah pabrik perusahaan, agar kejadian ini tak terulang kembali," tegasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Alfa Syahputra selaku tokoh muda masyarakat Kepenuhan. Ia berharap agar kejadian pencemaran limbah cair ini akan menjadi kejadian yang terakhir yang di lakukan oleh PT EMA. 

"Kedepan masyarakat dan mahasiswa tidak mau lagi ada ulah ke bocoran limbah dari PKS PT. EMA. Kita meminta perusaah segera mengoptimalkan perbaikan tanggul limbah nya agar tidak bocor itu, pintanya.

Alfa yang juga Gubernur BEM Fekon UPP itu mendapatkan informasi dari masyarakat bahwa limbah tersebut, bukan kali ini saja terjadi, akan tetapi ketika air naik juga ada limbah yang diturunkan dengan dibuktinya air yang busuk dan pohon sawit yang mati, akan tetapi warga tidak bisa menuduh begitu saja karna belum ada bukti yang kuat dari instansi terkait.

"Saat peninjuan di kolam renang bersama peserta aksi, kita sempat menemukan kolam limbah yang kedalamannya tidak sesui standar, saya berharap kepada perusahaan agar segera memperdalam tanggul tersebut," harap Alfa.(*/ars)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Kapolda Riau Diminta Evaluasi Keberadaan Brimob di PT RCM
Warga Nias Demo PT RCM, Ratusan Personil Kepolisian Bersiaga
PT Musim Mas Diduga Kuasai 2000 Ha Lahan Peladangan Masyarakat
Bentuk Tim Cyber, Polisi Buru Penyebar Video Sejoli Diarak & Ditelanjangi
UPTD Pendidikan Dihapus, Mereka Berharap Diberdayakan

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad