Home  / Khazanah
Mengapa Masjid dan Gereja di Palu Tetap Kokoh Meski Diterjang Tsunami?
Kamis, 11 Oktober 2018 | 16:19:24
(Foto: Putri Sarah Arifira)
Masjid Kokoh Berdiri Meski Diterjang Tsunami
Empat masjid serta satu gereja di Palu dan Donggala tetap berdiri kokoh meski diguncang gempa dan dihantam tsunami. Adalah masjid Ar Rahman, masjid Babul Jannah, masjid Al Amin, Masjid Terapung Arwam Bab Al Rahman, dan Gereja International Full Gospel Fellowship (IFGF) yang menjadi tempat kokoh itu. Rumah-rumah ibadah itu "tegar" berdiri di antara bangunan-bangunan yang telah porak-poranda. 

Kondisi tersebut menurut seorang pakar konsultan struktur, Josia Irwan Rastandi, bisa dijelaskan secara ilmiah. Dari segi teknis, bangunan umum seperti rumah ibadah memang biasa dibangun lebih kuat daripada bangunan lain. Hal tersebut merujuk kepada peraturan pembangunan di Indonesia yang sudah lama termaktub sejak tahun 80-an. 

"Tempat-tempat ibadah tempat umum termasuk sekolah, masjid, gereja, vihara itu harus dibuat istilah awamnya 1,5 kali lebih kuat ya. Jadi dia direncanakan untuk menerima gaya satu setengah kali lebih besar dibanding yang lainnya," kata Josia kepada kumparan, Selasa (9/10).

Di samping itu, ada semacam psikologis pembangunan yang kemungkinan dialami beberapa pihak yang terlibat. Dalam hal ini, Josia menyebut ada semacam pemikiran dari kontraktor untuk lebih serius dalam melaksanakan tugasnya. Oleh sebab itu, untuk kondisi mengurangi material-material bangunan dapat dihindarkan sehingga bangunan yang ada memang lebih kuat. 

Aturan dan psikologis tersebut bukan tanpa maksud. Ketentuan itu adalah bagian dari mitigasi bencana yang bersifat preventif. Bila kelak bencana semisal gempa mengguncang, bangunan umum itu akan difungsikan sebagai tempat berlindung atau mengungsi masyarakat. 

Kemudian, bila dilihat dari bentuk bangunan, masjid-masjid biasa memiliki celah berupa jendela yang lebih banyak dari rumah pada umumnya. Jendela itu biasa hancur kala diguncang gempa atau dihantam tsunami. Dengan hal itu, air bisa lolos dari masjid sehingga gaya yang diterima lebih ringan. Dari situ, potensi kehancuran yang dihadapi pun semakin kecil.

Hal-hal teknis tersebut memang bisa diterima dengan akal sehat. Namun, Josia menyebut ada perihal non-teknis yang dipercaya masyarakat awam dewasa ini. Sebagai contoh, oleh karena masjid-masjid ini merupakan tempat ibadah sehingga "ada yang melindungi." Perihal non-teknis tak ditampik oleh Josia bisa turut memengaruhi kokohnya masjid-masjid itu di tengah porak porandanya bangunan lain. 

Teori vs Fakta

Empat masjid dan satu gereja yang ada dalam bahasan ini memiliki bentuk dan usia yang berbeda. Namun, di tengah perbedaan yang ada, tempat-tempat ibadah itu berdiri di area yang serupa, yaitu tak jauh dari bibir pantai. Sebut saja masjid Babul Jannah yang berdiri 50 meter dari bibir pantai dan masjid Al Amin yang berjarak 20 langkah kaki menuju pantai.

Josia sebelumnya menyebut, hal-hal teknis dan non teknis berpengaruh dalam kekuatan bangunan.

Dia mencontohkan, kemungkinan ada hal non teknis seperti pengalaman masyarakat setempat terkait kebencanaan. Dalam hal ini, Josia mencontohkan kondisi yang ada di Masjid Al Amin.

"Pengalaman masyarakat setempat mungkin pernah gempa atau apa daerah situ yang lebih aman. Dibangunlah masjid itu. Ada juga local wisdom, oh di sana itu yang lebih aman, jadi di situ dibangun ini untuk tempat ibadah bisa jadi," tutur pakar yang juga menjadi dosen teknik sipil Universitas Indonesia itu.  

Ya, wajar saja daerah Donggala yang menjadi lokasi berdirinya masjid punya sejarah panjang soal gempa. Dari pemetaan Badan Geologi tahun 2012, Donggala dan sekitarnya memiliki potensi likuefaksi--perubahan material yang padat (solid), dalam hal ini berupa endapan sedimen atau tanah sedimen, yang akibat kejadian gempa, material tersebut seakan berubah karakternya seperti cairan--yang rawan.

Sementara, bila ditilik secara teknis, masjid Al-Amin di Donggala dibangun tahun 1906. Pada tahun tersebut, menurut Josia, masyarakat Indonesia belum mengenal tradisi membangun dengan beton. 

"Pasti yang masjid yang (dibangun tahun) 19 sekian itu itu enggak ada betonnya karena beton di Indonesia itu mulai 1915 (oleh) Semen Padang kalau enggak salah. Jadi sebelum itu sudah pasti bata semua itu,"  sebut Josia. 

Terlebih, bata-bata zaman dulu berukuran lebih besar daripada yang banyak ditemui saat ini. Oleh sebab itu, wajar bila masjid Al-Amin tetap kokoh meski diterjang tsunami. Selain itu, masjid ini juga menjadi cagar budaya daerah sehingga pemeliharaan masjid tetap dilakukan. 

Secara kasat mata, bangunan masjid Al-Amin memang tetap berdiri. Beberapa jendela yang ada mengalami rusak ringan. Saat tsunami, air masuk ke dalam masjid. Hal tersebut membuat lantai masjid berlumpur dan beberapa barang di dalam tercecer berantakan.

Selain masjid Al Amin, masjid di Kota Palu, Masjid Terapung Arwam Bab Al Rahman juga disebut-sebut kokoh dari hantaman tsunami. Tetapi, bila dilihat dari kasat mata, masjid ini tampak tidak lebih kuat dari masjid Al Amin. Masjid yang dibangun tahun 2011 itu terlihat miring setelah dilanda tsunami. 

"Kalau saya lihat masjid apung (Masjid Terapung Arwam Bab Al Rahman) itu tujuan dibangunnya untuk apa, untuk ikon kan. Kalau menurut saya katakan itu sebagai teknis sebelum dibangun itu diteliti dulu bangunan tanahnya segala macam," ungkap Josia. 

Kemiringan yang terjadi disebabkan karena masjid berdiri di atas lahan dengan potensi likuefaksi tinggi. Oleh sebab itu, ketika tanah amblas maka bangunan akan ikut turun meski bentuknya tetap utuh. 

Evaluasi Pembangunan di Palu

Luluh lantaknya bangunan di Palu dan Donggala menjadi bukti dahsyatnya gempa serta tsunami yang melanda. Namun, di sisi itu perlu ada perenungan yang dilakukan. 

Menurut Hamilton (1979), dalam bukunya berjudul Tectonic of Indonesian Region disebutkan aktivitas gempa Palu dipengaruhi oleh tiga sesar yakni Sesar Palu-Koro, Sesar Saddang, dan Sesar Parit-Parit. Ketiga sesar tersebut terhubung di kawasan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan.

Bila dikaitkan dengan analisis BMKG, gempa di zona sesar tersebut berkedalaman dangkal, 0-60 kilometer. Hal itu menyebabkan Palu menjadi lokasi rawan tsunami.

Josia menyebut, selain memperhatikan kondisi fisik wilayah, pembangunan gedung juga harus memperhatikan pedoman yang telah dibuat oleh pemerintah. Dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan rakyat. 

"Coba cari informasi pedoman atau prinsip buat bangunan yang benar, bagaimana prinsipnya antara kolom dengan tembok. Itu ada pedomannya. Galilah informasi jangan sampai kita mengambil tindakan yang salah karena ini taruhannya nyawa. Apalagi untuk daerah yang rawan gempa," tutur Josia. 

Dengan berpegang pada prinsip tersebut, bahaya dari bencana alam sebisa mungkin dapat diantisipasi. Jangan sampai, antisipasi dilakukan setelah terkaman bencana datang. 

"Kalau masyarakat ngikutin itu (pedoman) amanlah. Kecuali di daerah patahan ya. Apapun kalau tanahnya sudah naik satu meter dua meter. Palu kan sampai ada yang dua meter itu, jangan dibangunlah daerah itu," tutup Josia. 


(kumparan.com)