Home  / Khazanah
Cara Urus Jenazah Pasca-Bencana Alam Menurut Syariat Islam
Kamis, 4 Oktober 2018 | 22:45:47
ilustrasi
BENCANA alam gempa bumi dan tsunami yang menimpa Kabupaten Donggala dan Kota Palu menyebabkan banyak nyawa melayang. Korban-korban berjatuhan dan perlu ditangani dengan segera.

Kondisi yang darurat membuat pengurusan jenazah terpaksa dilakukan tidak seperti biasa layaknya kondisi normal. Namun, pengurusan jenazah tetap dilaksanakan sesuai dengan ketentuan syariat Islam, hanya saja tata pelaksanaannya yang berbeda.

"Pada dasarnya, dalam situasi normal, mayat wajib dimandikan, dikafani, disalatkan, dan dikuburkan, sesuai ketentuan syari'at. Dalam situasi darurat di mana pengurusan (penanganan) jenazah tidak mungkin memenuhi ketentuan syari'at seperti di atas, maka cara pengurusan jenazah dilakukan dengan tata cara tertentu," ujar Ketua Ikatan Sarjana Quran Hadis indonesia, Ustaz Fauzan amin dalam pesan singkatnya pada Okezone, Jakarta, Selasa (2/10/2018).

Lebih lengkap, Ustaz Fauzan menjelaskan, jenazah boleh tidak dimandikan dan langsung di kuburkan. Pakaian yang melekat pada mayat atau kantong mayat dapat menjadi kafan bagi jenazah sekalipun terkena najis.

"Jika terdapat halangan untuk memandikan jenazah, misalnya tidak ada air atau kondisi jenazah sudah tercabik atau gosong, maka cukup ditayamumkan saja. Yaitu salah seorang diantara kita menepuk tanah dengan kedua tangannya lalu mengusapkannya pada wajah dan kedua punggung telapak tangan si mayat. Selengkapnya Lihat (Majmu' Fatawa wa Maqolat Mutawwi'ah 13/123)," jelasnya.

Ustaz Fauzan pun mengatakan, jika tidak mudah mendapatkan kain kafan yang menutupi seluruh badannya, maka kepala dan badannya yang panjang ditutupi dengan kain kafan dan badannya yang masih terbuka ditutup dengan idzkhir (sejenis rumput yang bau harumnya) atau rumput jerami lainnya.

Sesuai yang tertulis dalam hadis HR. Bukhori, Muslim: Ahkamul Janaiz: 78. Berkaitan dengan tata cara mengkafani, seperti tata cara membungkus jenazah dengan kafan ataupun tata cara mengikat kain kafan, maka tidak ada dalil yang mengkhususkan tata cara pelaksanaannya. Selama seluruh tubuh mayat tertutupi oleh kain kafan dengan baik, insya Allah itu sudah cukup. Wallahu a'lam.

"Mayat boleh disalati sesudah dikuburkan walaupun dari jarak jauh (shalat ghaib). Dalam keadaan darurat, menguburkan jenazah korban wajib segera dikuburkan. Jenazah boleh dikuburkan secara massal dalam jumlah yang tidak terbatas, baik dalam satu atau beberapa liang kubur dan tidak harus dihadapkan ke arah kiblat," imbuhnya.

Penguburan secara massal tersebut boleh dilakukan tanpa memisahkan jenazah laki-laki dan perempuan. Selain itu, jenazah pun boleh langsung dikuburkan di tempat jenazah ditemukan. Wallahu a'lam bisshowab.

(rzy)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Dandim 0313/KPR Pimpin Upacara Bendera Di Pondok Pesantren Islam Terpadu Kampar Madani
Upacara Kenaikan Pangkat, Deputi Inhuker Tekankan Bakamla Sebagai Institusi Berseragam
4 Cara Membersihkan Paru-Paru Perokok Secara Alami
PNS TNI Ikuti Upacara HUT ke-47 Korpri di Mabesal
Panglima TNI Terima Pengurus Pusat Piveri

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad