Home  / Khazanah
Jelang Ramadan, Ketahui 5 Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Salat
Rabu, 16 Mei 2018 | 23:47:21
(Foto: AboutIslam)
Ilustrasi
BULAN Ramadan merupakan bulan yang penuh berkah. Pahala ibadah pun akan dilipatgandakan bagi mereka yang menjalankan kewajibannya, terutama salat dan puasa. Berbicara soal salat, ternyata masih banyak kesalahan-kesalahan umum yang sering dilakukan banyak orang yang berseberangan dari ajaran Rasulullah SAW.

Dikutip dari buku 400 Kesalahan Dalam Shalat Agar Shalat Kita Benar dan Berpahala, karya Mahmud Al-Mishri, Selasa (15/5/2018), berikut Okezone rangkumkan 5 kesalahan dalam salat yang mungkin masih sering Anda lakukan.

Diam dan tidak menggerakkan lisan ketika salat

Terkadang kita mendapati sebagian kaum Muslimin ketika mengerjakan salat hanya diam terus serta tidak menggerakan lisannya dengan bacaan Al-Quran ataupun dzikir. Barangkali pula, dia membaca seraya menutup mulutnya. Perbuatan semacam ini menyelisihi petunjuk Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dari Abu Ma’mar, dia berkata, “Kami pernah bertanya kepada Khabbab, ‘Apakah Rasulullah SAW membaca ketika shalat Zhuhur dan Ashar?’ Dia lalu menjawa, ‘Ya.’ Tanya kami lagi, ‘Dengan apakah kalian bisa tahu?’ Dia menjawa, ‘Dengan gerakan jenggotnya.’

Memejamkan mata ketika salat tanpa alasan

Ibnul Qayyim berkata, “Tidak termasuk dalam petunjuk Nabi SAW adalah memejamkan mata ketika shalat. Pada waktu tasyahud beliau memusatkan pandangannya ke jari-jarinya dalam berdoa dan pandangan beliau tidak melewati isyaratnya,”. Para ahli fikih berselisih pendapat mengenai kemakruhannya. Imam Ahmad memakruhkan hal tersebut. Mereka berkata “Itu adalah perbuatan orang Yahudi,”. Sedangkan sekelompok ulama lainnya membolehkan serta tidak memakruhkannya. Mereka berkata, “Hal itu dapat mendekatkan kepada kekhusyukan yang mana itu merupakan ruh, inti, dan tujuan shalat”.

Dikatakan, “Jika membuka kedua mata dapat mendatangkan kekhusyukan, maka hal itu lebih utama. Namun, jika hal itu menghalanginya dari kekhusyukan lantaran di depannya terdapat keindahan, aneka macam hiasan, atau hal-hal yang dapat mengganggu hatinya, maka tidak dimakruhkan memejamkan mata secara mutlak”. Pendapat yang menganjurkan kepada keadaan seperti ini lebih mendekatkan dasar-dasar hukum syar’i dan tujuan-tujuannya daripada pendapat yang memakruhkannya. Wallahu a’lam.

Tidak menahan diri dari menguap ketika salat

Sebagian kaum Muslimin tidak dapat menahan diri dari menguap ketika sedang salat, sehingga dia membiarkan mulutnya terbuka selebar-lebarnya dan mengeraskan suaranya di dalam masjid. Ini merupakan suatu kesalahan besar. Disebutkan di dalam sebuah hadits dari Rasulullah SAW, bahwasanya apabila ada seseorang yang menguap, maka hendaklah dia menahan semampunya dan meletakkan tangan pada mulutnya sehingga tidak menimbulkan suara.

Rasulullah SAW Bersabda,

“Apabila salah seorang di antara kalian menguap, maka tahanlah semampunya. Sebab, setan akan masuk.”

Rasulullah SAW juga bersabda

“Apabila salah seorang di antara kalian menguap ketika shalat, maka hendaknya dia meletakkan tangan pada mulutnya. Sebab, setan akan masuk bersamaan ketika dia menguap.”

Dalam riwayat Bukhari disebutkan, “Sebab, jika salah seorang di antara kalian mengucapkan “Haah”, maka setan akan menertawakannya.”

Salat ketika menahan buang air kecil dan buang air besar

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya tentang seseorang yang menahan buang air, “Manakah yang lebih utama dari mengerjakan salat dengan berwudhu serta menahan keinginannya tersebut atau hendaknya dia berhadats kemudian bertayamum karena tidak ada air?” Beliau lantas menjawab, “Salatnya orang tersebut dengan bertayamum tanpa menahan hajatnya lebih utama daripada salatnya dengan berwudhu disertai menahan hajatnya. Sebab, salatnya dengan menahan hajat itu makruh dan dilarang. Mengenai sahnya terdapat dua periwayatan. Adapun salatnya dengan bertayamum, maka itu dibenarkan serta tidak makruh. Ini menurut kesepakatan. Wallahu a’lam.”

Menirukan ucapan imam tanpa ada keperluan

Sebagian kaum muslimin apabila mendengar imam bertakbir, maka dia pun ikut bertakbir di belakangnya dengan suara yang sangat keras. Dia beranggapan bahwa hal itu disunnahkan. Ini jelas suatu kesalahan. Sebab, menirukan ucapan imam (dengan suara kerasa agar makmum bisa mendengar) tanpa ada suatu keperluan adalah bid’ah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyan pernah ditanya tentang menirukan ucapan imam, “Apakah hal itu disunnahkan ataukah bid’ah?”

Beliau menjawab, “Adapun menirukan ucapan imam agar dapat didengar tanpa ada keperluan adalah bid’ah dan tidak disunnahkan menurut kesepakatan para imam. Hanya saja, yang mengeraskan takbir adalah imam sebagaimana yang telah dilakukan ole Rasulullah SAW dan khalifah sesudah beliau. Tidak seorang pun yang pernah melakukan hal itu di belakang Nabi. Akan tetapi, ketika Rasulullah sakit dan suara beliau menjadi lemah, Abu Bakr mengulang takbir beliau dengan suara yang keras agar terdengar oleh makmum.”

(okezone.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Meski Erupsi 576 Kali, Anak Krakatau Tak Ganggu Penerbangan
TNI Kirim Helikopter Dauphin AS 365 N3 HR-3601 Dukung Satgas Misi PBB
Peringatan Hari Pramuka Ke 57 Di SMA Negeri 1 Kepenuhan
BMKG Deteksi 55 Titik Panas di Rokan Hilir
Pria Gangguan Jiwa Masuk Lanud Iswahjudi Magetan Bawa Rp25 Juta

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad