Home  / Internasional
Mengapa Penembakan Las Vegas tak Disebut Terorisme?
Selasa, 3 Oktober 2017 | 11:53:37
AP Photo/John Locher
Dua orang petugas mengendarai mobil melewati lokasi penembakan massal di festival musik di Las Vegas Strip, Senin (2/10).
WASHINGTON - Dengan tidak adanya motif dalam penembakan massal di Las Vegas, Presiden AS Donald Trump, pada Senin (2/10) malam, mengatakan, insiden tersebut merupakan murni aksi kejahatan. Ia bahkan menghindari kata "terorisme".

Pelaku penembakan, Stephen Paddock (64 tahun) diketahui tidak memiliki riwayat kriminal dan tidak memiliki motif ideologis yang jelas. Namun, hal itu tidak menghalangi munculnya berbagai spekulasi.

"Motif Stephen Paddock" berada di daftar paling tinggi dalam mesin pencarian Google. Namun, belum ada penjelasan yang benar-benar mengungkap motif Paddock dalam melakukan aksi penembakan terburuk dalam sejarah moderen AS ini.

Pembunuhan massal orang-orang tak berdosa, bahkan dalam skala Las Vegas, tidak secara otomatis memenuhi definisi terorisme yang berlaku umum. Terorisme membutuhkan motif politik, ideologis, atau religius.

Namun di luar analisis akademis itu, kata ‘terorisme’ juga sering kali digunakan sebagai senjata verbal, terutama untuk melabeli tersangka Muslim. "Labelnya sangat merendahkan dan memberikan begitu banyak tekanan," kata Martha Crenshaw, pakar terorisme di Pusat Keamanan dan Kerjasama Internasional Stanford, dikutip New York Times.

Berita mengenai serangan massal tidak hanya menyampaikan rasa duka cita, namun juga kecemasan bagi komunitas Muslim. Mereka berdoa agar penyerang bukan seorang Muslim, melainkan kaum konservatif atau kaum liberal.

Beberapa pihak mungkin merasa, usia lanjut Paddock, ras kulit putihnya, dan latar belakang agamanya sebagai non-Muslim, membuat kecil kemungkinan dia akan disebut sebagai teroris. Tragedi mengerikan ini justru membuka kembali debat mengenai kontrol senjata.

Padahal, jika Paddock tidak memiliki motif pembunuhan, maka kepemilikan senjatanya bukan merupakan kesalahan. Fenomena penembakan massal yang hanya membawa label terorisme dalam kasus-kasus tertentu, adalah fenomena yang biasa di Amerika.

Pembunuhan di AS telah meningkat lebih dari 8 persen pada 2016, menjadi 17.250 kasus, menurut laporan FBI bulan lalu. Namun kebanyakan pembunuhan terjadi dalam kasus perampokan, serangan seksual, atau perselisihan di dalam perdagangan narkoba dan usaha kriminal lainnya.(ROL)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Bazar Lasmura Sungai Bengkel Bengkalis Siap Digelar, 90 Persen Stan Sudah Laku
Panglima TNI: Sesko TNI Harus Menjadi Pusat Keunggulan Berkelas Dunia
Panglima TNI: Tunjukkan Prajurit TNI Adalah Prajurit Berkelas Dunia
Mayat Perempuan yang Dimutilasi dan Dibakar Ditemukan di Karawang
Majelis Pers Sebut Dewan Pers bukan Lembaga Legislasi dan Verifikasi Organisasi Pers dan Media

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad