Home  / Features
Prabowo & Titiek Soeharto: Dingin sejak 1998, Mesra tiap Pilpres
Senin, 27 Agustus 2018 | 13:28:11
Tirto.id/Andrey Gromico
Titiek Soeharto.
Meski tak serumah, Titiek Soeharto tetaplah mantan terindah bagi Prabowo Subianto, setidaknya sejak Pilpres 2014.

Ilmuwan politik LIPI Hermawan Sulistyo, dalam sebuah forum yang diselenggarakan Imparsial pada 3 Juli 2014, menuturkan kisah empat taruna Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) yang kabur ke Jakarta. 

"Ada Prabowo (Subianto), Ryamizard (Ryacudu), Yudi, [dan] ada satu lagi... Empat orang. [Mereka] itu kabur ke Jakarta karena ada acaranya Titiek," tutur Hermawan.

Prabowo Subianto, putra Menteri Negara Riset Sumitro Djojohadikusumo era Soeharto, adalah taruna yang disponsori Kepala BAKIN Mayor Jenderal Sutopo Juwono. Sementara Ryamizard adalah anak Mayor Jenderal Musannif Ryacudu. Menurut Hermawan, kaburnya empat taruna itu rupanya diketahui petinggi Akabri. 

Kala itu, posisi gubernur Akabri dijabat oleh Mayor Jenderal Sarwo Edhi Wibowo, sementara Senat Taruna dikepalai Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang kelak jadi menantunya. Nama terakhir ini, menurut Hermawan, pernah dipukuli Prabowo. Akibatnya, Prabowo tak naik kelas. 

Dalam kesempatan yang sama di Imparsial, Hermawan mengatakan bahwa saat itu Prabowo sudah memacari Siti Hediati Hariyadi alias Titiek, putri kedua Soeharto.

Kisah yang dituturkan Hermawan ini diperkirakan terjadi sebelum tahun 1973 berakhir. Prabowo Subianto, yang waktu itu berusia 22 tahun, hampir lulus dari Akabri, tetapi baru bisa tamat tahun berikutnya. Menurut pengakuan Soeharto dalam autobiografinya yang disusun Ramadhan KH, Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (1989:93), Titiek lahir pada 14 April 1959, ketika Soeharto memimpin Divisi Diponegoro. Jadi, pada 1973, usia Titiek sekitar 14 tahun.

Keluarga besar Djojohadikusumo sendiri punya cerita soal kisah asmara Prabowo. Menurut biografi Sumitro, Jejak Perlawanan Begawan Pejuang (2000:416-417), Prabowo memacari Titiek sekitar dua tahun sebelum mereka menikah. Titiek bukan pacar pertama Prabowo. Sebelumnya, Prabowo pernah punya hubungan serius dengan seorang gadis Yogyakarta. Tapi hubungan ini kandas. 

Awalnya Sumitro tak tahu jika anak laki-laki tertuanya memacari Titiek. Menurut biografi sang profesor ekonomi Universitas Indonesia itu, pertama kali putri Soeharto datang ke rumahnya, ia merasa tak asing dengan wajahnya. Rupanya Titiek pernah jadi mahasiswi Fakultas Ekonomi di Universitas Indonesia dan sempat mengikuti kelas Sumitro. Sayang, Titiek tidak lulus. Belakangan, Sumitro baru sadar bahwa Titiek adalah putri daripada Soeharto.

Di lain waktu, Prabowo membawa Titiek ke neneknya. Meski sama-sama tinggal di Menteng, ternyata nenek Prabowo tak tahu siapa gadis yang dibawa cucunya. Sang nenek mengira si gadis adalah mahasiswa asal Yogyakarta yang tinggal di daerah Menteng.

Sumitro mengaku sempat khawatir jika ada hal buruk terjadi dalam hubungan Prabowo-Titiek. Maklum, di zaman itu Soeharto sangat ditakuti. Terlebih lagi, seperti yang dituturkan Jejak Perlawanan Begawan Pejuang (2000:289), Sumitro—ketika masih menjabat Menteri Perdagangan—pernah menolak titah Tien Soeharto untuk memberikan hak impor cengkeh kepada Sukamdani Sahid. Penolakan ini belakangan jadi masalah. 

Supaya semua tak berakhir buruk, Sumitro pun berpesan pada anaknya: "Kalau kali ini kau tidak serius, payah deh kamu."

Entah bagaimana caranya, akhirnya Sumitro benar-benar yakin Tien Soeharto tidak memusuhinya. Tien tampak merestui hubungan Prabowo dan Titiek. Tien Soeharto akhirnya bertanya pada Sumitro. "Eh, Pak Mitro, bagaimana?"

Sumitro yang belum paham arah pembicaraan menjawab: "baik-baik saja, Bu."

Tien Soeharto pun memperjelas pertanyaannya. "Bagaimana anak-anak kita?"

"Ya, bagaimana Bu, kita serahkan saja pada anak-anak kita," jawab Sumitro bijak. 

Titiek dan Prabowo pun makin akrab. Anak laki-laki tertua Sumitro yang berdinas di Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha) itu akhirnya serius ingin melamar Titiek. Kala itu Prabowo dianggap belum paham adat Jawa karena lahir di Jakarta dan besar di luar negeri. Walhasil, Sumitro turun tangan dan melamarkan Titiek untuk putra kesayangannya itu.

Acara lamaran tidak berlangsung dalam bahasa Jawa, tapi bahasa Indonesia. Pasalnya, ibunda Prabowo, Dora Marie Sigar, adalah orang Minahasa yang tak paham bahasa Jawa. 

Soeharto pun menerima lamaran itu. Ia mengaku senang dan sadar bahwa hubungan tersebut akan jadi sorotan, karena Soeharto kepala negara dan Sumitro tokoh juga ekonomi Indonesia. Namun, seperti tertulis dalam Jejak Perlawanan Begawan Pejuang (2000:420), ada juga kecemasan Soeharto yang segera dipahami Sumitro. "Yang satu perwira yang tak mengerti adat Jawa dan yang wanita masih suka disko."

Prabowo menikahi Siti Hediati Hariyadi (Titiek) pada 8 Mei 1983, tulis Fadly Zon dalam Politik huru-hara Mei 1998 (2004:22). Saksi pernikahan keduanya adalah Wakil Presiden Umar Wirahadikusuma dan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan M. Jusuf, mantan atasan Prabowo. Sebagaimana dicatat Robert Edward Elson dalam Soeharto: Sebuah Biografi Politik (2005:476), Prabowo dan Titiek "menikah dengan upacara yang megah di Taman Mini".Ketika keduanya menikah, Sumitro tak lagi jadi menteri. 

Pada 1984, lahirlah Ragowo Hediprasetyo. Buah pernikahan Prabowo-Titiek itu kelak lebih dikenal sebagai Didit Hediprasetyo alias Didit Prabowo.

"Waktu melahirkan, saya ditunggui Ibu dan Mas Bowo di ruangan bersalin, sedang Bapak di luar. Ibu menginginkan Mas Bowo melihat sendiri sejauh mana penderitaan istrinya saat melahirkan," tutur Titiek dalam Ibu Tien Soeharto Dalam Pandangan dan Kenangan Para Wanita yang disunting Abdul Gafur (1996: 78). 

Dalam ingatan Titiek, Prabowo, kapten pasukan anti-teror Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha) yang pernah merasakan medan perang Timor-Timur, rupanya ngeri juga melihat istrinya melahirkan.

"Mungkin karena Mas Bowo tidak tega melihat saya, maka pandangannya dialihkan ke tempat lain. Rupanya Ibu melihat dan serta merta Ibu menegur Mas Bowo, bahwa yang sakit itu istrinya, jadi pandangan harus terus tertuju kepada saya, tidak boleh kemana-mana," aku Titiek.

Tua-tua Radikal

Meski berbesanan, hubungan Sumitro dengan Soeharto, seperti ditulis dalam Jejak Perlawanan Begawan Pejuang (2000:421-424), terlihat renggang sekitar 1995. Sumitro kadang terlihat dekat dengan orang-orang yang dijauhi Soeharto. Termasuk dengan H.R. Dharsono yang pernah menolong Sumitro ketika tinggal di Inggris. Sumitro mengaku bahwa sebagai orang terpelajar, ia masih bisa bersikap kritis terhadap besannya. Tak heran jika Soeharto gerah. Suatu kali, Titiek pernah menyampaikan omongan Soeharto kepada Sumitro. "Bapak bilang, 'Tiek, mertuamu sudah priyayi sepuh kok masih radikal saja."

"Ya, saya sudah terlalu tua untuk mengubah diri," jawab Sumitro dengan tenang. Sumitro ingat, di acara lamaran Prabowo-Titiek, Soeharto menceritakan masa kecilnya yang suram, sehingga ia ingin anak-cucunya hidup lebih bahagia dari dirinya. Masih menurut Jejak Perlawanan Begawan Pejuang (2000:426), hubungan Prabowo dengan anak-anak Soeharto lainnya pun akhirnya mendingin. 

"Semua anak Soeharto mendendam kepada Bowo. Cuma Sigit yang sedikit netral," kata Sumitro. 

Ketidakberesan antara Soeharto dengan Prabowo sulit diendus orang awam, apalagi karier sang menantu terus menanjak. Meski sempat tak di Kopassus, Prabowo nyatanya masih memimpin pasukan andalan Angkatan Darat lainnya. Namun, setelah Benny Moerdani tersingkir dari kekuasaan, Prabowo berjaya di Kopassus hingga jadi Komandan Jenderal (Danjen), bahkan akhirnya menjabat Panglima Kostrad.

Bintang Prabowo meredup setelah reformasi 1998 melengserkan mertuanya. Hubungan Prabowo dan ipar-iparnya pun ikut memburuk. Ia bahkan dianggap sebagai biang kejatuhan Soeharto. Seorang saudari Titiek, seperti tertulis dalam Jejak Perlawanan Begawan Pejuang (2000:427), sempat bertanya ke Prabowo, "kamu ke mana saja dan mengapa membiarkan mahasiswa menduduki Gedung MPR/DPR?" 

Titiek dan Prabowo pun pisah. Namun, sejak Pilpres 2014 sampai jelang Pilpres 2019, belum terlihat tanda-tanda Prabowo dan Titiek bakal rujuk, meski keduanya beberapa kali tampil mesra di depan publik. Kini, di mata pecinta Prabowo-Titiek, hubungan keduanya senantiasa terlihat langgeng. Meski tak serumah, dan setelah melewati masa suram 1998, ternyata Titiek tetaplah pendukung Mas Bowo, mantan terindahnya.


(tirto.id - Petrik Matanasi)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Panglima TNI Ziarah ke Makam Jenderal Besar Soeharto
Ini Alasan Ketum Pemuda Muhammadiyah Terima Pinangan Jadi Jubir Prabowo-Sandiaga
Neno Warisman Janji Habis-habisan Jadikan Prabowo Presiden RI
Jika Terpilih Jadi Presiden, Prabowo Janji Akan Jamin Keamanan Habib Rizieq di Tanah Air
Ijtimak Ulama II Sepakat Dukung Prabowo di Pilpres 2019

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad