Home  / Features
Arifin C Noer: Berapapun Uangnya Ibu Tien tak Bakal Bisa Bayar Aku!
Kamis, 21 September 2017 | 14:32:05
wikipedia
Arifin C Noer
JAKARTA - Sosok sutradara teater dan film legendaris Airfin C Noer kini menjadi bahan pembicaraan terkait pemutaran kembali karyanya, film ‘Pengkhianatan G30S PKI. Di antara polemik itu ada sebagian pihak mengatakan film itu merupakan propaganda rejim Orde Baru, film tak bermutu, hingga dianggap film sampah.

Seorang sahabat Arifin C Noer yang juga merupakan pelukis dan mantan produser film, Hidayat LPD, mengaku jengkel atas tudingan kepada film dan sosok sutradara yang membuatnya. Sebab, sepanjang pergaulannya dengan Arifin dia melihat langsung bahwa mendiang sutradara yang merupakan anak pedagang sate di Cirebon adalah sosok yang berintegritas.

"Saya tahu persis Arifin tak bisa dibeli, apalagi diintervensi. Billa dia menyanggupi membuat film tersebut ya karena dia menyakininya atas peristiwa pembunuhan sadis itu. Bagi dia, karena saya dan Arifin pernah berhadap-hadapan secara langsung dengan PKI, dalam hal ini Lekra, jelas peristwa G30S PKI merupakan hal yang menarik untuk dibuat film. Jadi saya dan Arfin saksi hidup persaingan idelogi itu," tegas Hidayat, di Jakarta, 21/9).

Hidayat mengatakan, Arifin sejak belia ketika kuliah di Yogyakarta adalah anggota Teater Muslim pimpinan sastrawan dan sutradara teater Mohammad Diponegoro. Dalam pementasannya tema pertunjukannya selalu kontra dengan tema teater milik Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra, organasi seniman underbow-nya PKI) yang mementaskan lakon 'Patine Gusti Allah, Gusti Allah Mantu, dan lainnya.

Teater Muslim memilih memantaskan karya bertema Islami seperti memanggungkan lakon ‘Iblis’ karya Mohammad Diponegoro. Teater Muslim digolongkan kelompok seniman yang memperjuangkan hak asasi manusia universal, bertentangan dengan teater yang menjadi seniman underbrow-nya Lekra yang memperjuangkan ide kerakyatan.

"Nah Arifin termasuk saya, dari dulu sudah berhadap-hadapan dengan kelompok seniman Lekra itu," kata Hidayat,

Dan terkait dengan slentingan kabar dalam pemuatann film G30S PKI ketika membuat film tersebut, Hidayat menegaskan, Arifin kalau itu memang mengatakan banyak pejabat negara yang ingin menitipkan pesan sekaligus dana untuk Arifin. Tapi oleh Arifin tidak digubris.

"Saya ingat kalimat jawaban Arifin, ketika saya tanya soal banyaknya pesanan dari pejabat Orde Baru kala itu. Katanya, untuk apa saya gubris!  Jadi Arifin tak mau meladeni keinginan itu," katanya.

Menurut Hidayat, baik Arifin selaku sutradara dan pihak PFN yang saat itu diketuai G Dwipayana, terdapat suatu perjanjian tertulis yang isinya pihak PFN tidak bisa mengintervensi kemandirian sutradara.’’Jangan kira aku mau dibelokin macam-macam,’’ begitu kata Hidayat menirukan kembali pernyataan Arfin ketika menyanggupi membuat film tersebut.

‘’Siapa pun yang melakukan kerja sama dengan PFN, termasuk saya dan juga Arifin C Noer, pasti ada perjanjan tertulis. Saya jadi saksinya itu,’’ ujarnya lagi.

Apakah benar Arifin sosok yang sombong? Hidayat mengatakan Arifin bersikap sombong atau tak mau kompromi ketika menyangkut soal idealismenya. ‘’Dan ‘sombong’ sebagai akibat punya kepercayaan diri yang tinggi  itu dimiliki semua seniman besar Indonesia yang saya kenal.”

"Seniman itu kalau lagi berkarya memang sangat egois. Mereka tidak perduli pada setan belang. Konsentrasi pada karya 100 persen. Lihat saya, sahabat saya penyair legendaris Sutardj Calzoum Bahri, bahkan terang-terangan mengaku sejak lahir sudah sombong. Sombong pada keyakinan idealismenya. Seniman itu sekaligus gelisah mencari pembaharuan," kata Hidayat.

Hal yang sama, juga terjadi pada Arifin. "Jangan tanya angkuhnya dia. Saya pernah hidup seatap dengan dia, WS Rendra. Sardono. dan berbagai seniman legendaris lainnya. Dan buat saya Arifin paling sombong. Katanya, berapapun Ibu Tien bayar aku, ide filmku tak bisa berubah. Begitu ketika saya bertanya: Pin konon ide filmmu mau dibelokin sama ibu Tien. Jawabnya dia, Ibu Tien tak bakal bisa beli aku! Jadi Arifin membuat film itu memang atas keyakinan dirinya, bukan memenuhi pesanan pihak lain," tukas Hidayat.

Menyinggung soal isi diskusi di ILC yang diantaranya menyoal soal Film Pengkhiantan G30S PKI, Hidayat mengatakan banyak hal yang lucu. 

“Kalo tuduhan Sukmawati, Bedjo Untung dan lain-lainnya, itu tuduhan politis dari orang yang tak pernah kenal dunia kreatif. Jadi kalau  Presiden Jokowi mau bikin film versi baru, ya itu tindakan konyol. Hal yang juga ketika ingin membuat sejarah versi baru mengenai G30S PKI. Ya bagi saya lucu saja dan untuk apa ditanggapi sebab hanya bikin mules dan males saja," ujarnya.

Seharusnya, lanjut Hidayat, sosok seperti Arifin dan para seniman dan pelaku kreatif lainnya diberi apresiasi yang besar dari negara.

"Mengapa negeri ini terpuruk? Salah satu jawabannya karena selama ini penguasa sangat tidak perduli pada seniman kreatif. Dan pembiaran itu dari dulu tampaknya disengaja. Apa tujuannya, supaya bangsa ini tetap tak pintar. Sebab, kadang memang jadi orang tak pintar itu terasa enak. Di situlah saya bangga dengan Arifin yang idealis dan berintegritas," tandas Hidayat yang juga mantan aktivis Lembaga Seni Budaya Mahasiwa Islam yang saat itu diketuai cendikiawan Nurcholish Madjid.

Dalam bidang film, karya Arifin C Noer banyak mendapat penghargaan. Film perdananya adalah ‘Suci Sang Primadona’. Salah satu film Arifin yang laris sekaligus mendapat banyak Plala Citra di awal tahun 1990-an adalah ‘Taksi’ yang dibintangi Rano Karno dan Meriam Belina. Di film inilah Rano meraih Piala Citra pertamanya sebagai aktor pemeran utama terbaik pria. (ROL)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Pasukan Garuda TNI Unifil 2017 Nonton Bareng Film G30S/PKI Di Daerah Misi Lebanon
Ribuan Masyarakat Pekanbaru Penuhi Nobar G30S/PKI Di Lapangan Makorem 031/WB
Koramil 08/Mandah Gelar Nobar Film G30S/PKI
Nonton Bareng Film “Pengkhianatan G30S/PKI” Di Markas Indobatt XXIII-K/UNIFIL
‘Film G30S/PKI Versi Lama Benar Adanya’

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad