Home  / Features
Nuzulul Quran, Malam Turunnya Alquran Serta Kenabian Muhammad SAW
Selasa, 13 Juni 2017 | 05:11:05
(Foto: Shutterstock)
Nuzulul Quran
SETIAP tanggal 17 bulan Ramadan umat Islam memperingati Nuzulul Quran, hari di mana turunnya kitab suci Alquran, sekaligus momentum pengangkatan Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul di usianya yang menapak 40 tahun di Gua Hira yang berlokasi di Jabal Nur, Makkah. 

Di Malam Nuzulul Quran Kitab Suci Umat Islam diturunkan secara keseluruhan dari lauhil Mahfudz ke Baitul ‘Izzah di langit dunia. Kemudian secara berangsur diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW disepanjang kehidupannya atau dalam waktu kurang lebih 23 tahun, melalui perantara Malaikat Jibril. 

Surat Alquran pertama yang diturunkan adalah Surat Al-Alaq sebanyak 5 ayat. “Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq. Khalaqal insaana min’alaq. Iqra’ warabbukal akram. Alladzii ‘allama bil qalam. ‘Allamal insaana maa lam ya’lam.” 

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” 

Turunnya wahyu kenabian serta Alquran pada malam lailatul qadar tidak serta merta terjadi begitu saja, melainkan melalui proses panjang yang melelahkan. Nabi sendiri sebelum mendapat wahyu kenabiaan dalam berbagai riwayat disebutkan pada bulan-bulan Ramadan dan malam-malam di bulan lain, memilih beruzlah atau menyendiri di Gua Hira, mengasingkan diri dari masyarakat Makkah yang waktu itu masih menyembah berhala. 

Dari atas Jabal Nur, tepatnya di dalam Gua Hira nabi berdzikir, merenung, serta memandang Ka’bah sembari menjauhkan diri dari perbuatan maksiat. Di sana Nabi SAW bisa bertahan selama beberapa malam, lalu turun untuk menjumpai keluarganya serta mengembil bekal makanan. Hal itu dilakukan secara terus menerus selama beberapa tahun terutama di malam-malam bulan Ramadan. Sungguh tak mudah naik turun Jabal Nur, yang begitu terjal, gersang dan gelap gulita. 

Setelah melalui proses pembersihan diri dan pencarian sang pencipta, akhirnya datang malaikat Jibril atas perintah Allah swt untuk menyampaikan wahyu kenabian sekaligus Alquran. Proses ini pun tidak dilalui dengan mudah. 

Aisyah r.a. berkata, “Ketika beliau (rasulullah) ada di Gua Hira, datanglah malaikat seraya berkata, ‘BACALAH!’ Beliau berkata, ‘Sungguh saya tidak dapat membaca. Ia mengambil dan mendekap saya sehingga saya lelah. Kemudian ia melepaskan saya, lalu ia berkata, ‘BACALAH!’ Maka, saya berkata, ‘Sungguh saya tidak dapat membaca:’ Lalu ia mengambil dan mendekap saya yang kedua kalinya, kemudian ia melepaskan saya, lalu ia berkata, ‘BACALAH!’ Maka, saya berkata, ‘Sungguh saya tidak bisa membaca’ Lalu ia mengambil dan mendekap saya yang ketiga kalinya, kemudian ia melepaskan saya. Lalu ia membacakan surat Al Iqra ayat 1-5. 

Tak cukup sampai di situ, Nabi SAW usai menerima wahyu masih terbersit keraguan akan wahyu kenabian yang diterimanya. Diriwayatkan oleh asy-Syaikhoon (al-Bukhori dan Muslim) yang bersumber dari Jabir bahwa Rasulullah saw bersabda: 

“Ketika aku telah selesai uzlah-selama sebulan di gua Hira-, aku turun ke lembah. Sesampainya ke tengah lembah, ada yang memanggilku, tetapi aku tidak melihat seorangpun di sana. Aku menengadahkan kepala ke langit. Tiba-tiba aku melihat malaikat yang pernah mendatangiku di Gua Hira. Aku cepat-cepat pulang dan berkata (kepada orang rumah): “Selimuti aku ! Selimuti aku !” Maka turunlah ayat ini (Al-Muddatstsir: 1-2) sebagai perintah untuk menyingsingkan selimut dan berdakwah. 

Lebih dari 1000 tahun berlalu, kini Islam menjadi salah satu agama terbesar di dunia. Alquran pun masih terpelihara keasliannya sebagaimana janji Allah. Umat muslim di Indonesia malam ini memperingati peristiwa bersejarah. Ada yang tadarusan, membuat acara ceramah berisi pengajian serta aktivitas ibadah lainnya. 

Lalu pertanyaannya, bagaimana dengan Rasulullah yang notabene diberikan wahyu oleh Allah dengan turunnya Alquran ini? 

Sahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhu menjelaskan tentang apa yang Rasulullah lakukan. “Dahulu Malaikat Jibril senantiasa menjumpai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada setiap malam Ramadan, dan selanjutnya ia membaca Alquran bersamanya.” (Riwayat Al Bukhari) 

Demikianlah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermudarasah, membaca Alquran bersama Malaikat Jibril alaihissalam di luar salat. Dan ternyata itu belum cukup bagi Nabi, beliau masih merasa perlu untuk membaca Alquran dalam salatnya. Kira-kira seberapa banyak dan seberapa lama beliau membaca Alquran dalam salatnya? 

Tidak hanya berhenti pada mudarasah, beliau juga banyak membaca Alquran pada salat beliau, sampai-sampai pada satu rakaat saja, beliau membaca surat Al Baqarah, Ali Imran dan An Nisa’, atau sebanyak 5 juz lebih setiap salat. 

Kembali kepada ayat pertama yang diturunkan, surat Al Alaq ayat 1-5, “Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq. Khalaqal insaana min’alaq. Iqra’ warabbukal akram. Alladzii ‘allama bil qalam. ‘Allamal insaana maa lam ya’lam.” 

Pesan yang disampaikan kepada umat manusia adalah perintah membaca. Dengan perkembangan keilmuan yang memudahkan membaca Alquran dan memahami isinya, sudahkan kita membaca mukjizat Allah tersebut? Memahami maknanya serta mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari?


(vin/okezone)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Hadiri Maulid Di Sungai Batang, Wabup H Rosman Malomo Imbau Kades Proaktif Selesaikan E-KTP
Pasukan Garuda Misi PBB Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW di Afrika
Alquran dan Sains Jelaskan Laut sebagai Prasarana Transportasi
Jadikan Nabi Muhammad SAW Tauladan Kehidupan
Korem 031/Wira Bima Dan Jajarannya Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW 1439 H

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad