Home  / Features
Kisah Pilu Nasabah Leasing CS Finance
*)
Sabtu, 25 Maret 2017 | 20:14:53
Ilustrasi
PAGI itu, seperti biasa ku starter motor kesayanganku untuk beberapa saat. Aku kembali duduk di depan tivi nonton berita pagi. Sementara Ayi, istriku telah selesai dandan tampak bersemangat ingin segera berangkat kerja. Pekerjaan dapur di sebuah rumah makan Padang yang baru saja digelutinya. 

Kehadiran motor Yamaha Mio dalam keluarga kami memang sangat membantu menyelesaikan masalah transportasi selama ini. Sebelumnya aku memiliki motor bebek Honda Revo yang hanya bisa kukendarai sendiri. 

Setelah kami memiliki Yamaha Mio matic semuapun berjalan lancar. Istriku bisa mengendarainya, demikian juga Ayu, anak gadisku yang duduk di bangku kelas 3 SMP. Semua senang bisa kemana-mana.

Seperti biasa setiap pagi Anakku Ayu lah yang bertugas mengantar Istriku ke Halte Bus yang jaraknya sekitar 1,7 km dari rumah, dan selanjutnya Istriku meneruskan perjalanannya ke tempat kerja dengan naik Bus. Kemudian Ayu kembali pulang dan gantian akulah yang mengantarnya ke sekolah berbarengan saat aku berangkat kerja. 

Kerja, Entahlah..
Akhir-akhir ini kurasakan peruntungan kami tidak begitu baik. Usaha rental komputer yang kujalani mulai sepi. Tak ada peningkatan berarti. Disamping rental komputer, aku juga menjalankan usaha percetakan undangan dan yasin dengan beriklan di salah satu Gerai ONLINE terkenal. 
Usaha ini cukup berhasil membantu meningkatkan ekonomi kami untuk beberapa saat. Namun aral datang melintang, printer Epson Stylus 1390 yang kugunakan untuk mencetak undangan tiba-tiba rusak. Head nya yang seharga dua juta setengah harus diganti. Tak ada uang sebanyak itu saat ini. Terpaksa usaha percetakan kehentikan sementara. 

Dan kini muncul masalah baru, seolah bangkit dari Kubur. Mulai dari tagihan listrik sampai sewa rumah, biaya sekolah anak sampai urusan kredit motor seakan kompak datang menyerbu.

Sesungguhnya masalah satu per satu mulai teratasi dengan menghemat pengeluaran. Tersisa kredit motor yang belum sepenuhnya teratasi. 

Debt Collector Ambil Paksa Motor Mio Kami

Pihak Leasing CS Finance dengan Debt Collector andalannya selalu datang menagih dengan cara kasar, tidak sopan, penuh ancaman. Membuat risih, resah, kesal dan memalukan. Tanpa konfirmasi terlebih dahulu, tanpa Surat Peringatan I, II atau pun III. Tiba-tiba mereka sudah datang menagih paksa. 

Selama ini, meski keadaan ekonomi lagi sulit namun angsuran kredit motor selalu kubayar, meski sering terlambat. Tapi keterlambatan masih dalam batas yang wajar. Keterlambatan tak pernah lebih dari satu bulan. Dalam peraturan OJK tentang keterlambatan bayar kami termasuk Nasabah Dalam Kriteria Lancar.

Siang itu, sekitar pukul 2 siang, pintu kedai sengaja kurapatkan. terdengar ketukan dari luar.

“Ya.. masuk aja, pintunya tidak dikunci.”

Sesaat kulihat seseorang yang telah kukenal mendorong pintu dan tanpa basa-basi segera masuk dan duduk di kursi. Namanya Isra, Debt Collector dari CS Finance, yang sering datang tiap bulan untuk menagih pembayaran angsuran.

“Nih pak.. tagihan angsuran ke sebelas,” ujarnya memberi selembar tagihan.

“Maaf bang.. undurlah dulu lima hari ke depan, duit saya belum cukup,” jawabku berharap.

“Wah.. gak bisa pak.. Nih bapak udah terlambat,” ujarnya.
Tak lama kemudian, tiba-tiba masuk seseorang yang memang sebelumnya sudah ku kenal, si Roy yang juga dari CS Finance cabang Pekanbaru.

“Halo pak.. Wah bapak.. saya dari tadi di luar tidak dipersilakan masuk,” sapanya.

“Ya..saya kan gak lihat, abang kan di luar,” jawabku.

Isra memberitahukan kepada si Roy bahwa aku belum bisa bayar hari ini dan meminta diundur lima hari kedepan.

“Bisa pak.., Bapak tunda lima hari tapi motor bapak kami bawa, setelah bapak bayar bapak bisa ambil kembali di kantor,” ujarnya ketus.

Isra kemudian menyerahkan formulir surat tugas dari perusahaan dan surat penyitaan kendaraan. 

Aku Cuma tersenyum kecut dan mulai kesal.
“Begini saja bang, Besoklah saya bayar sekarang saya baru punya empat ratus ribu rupiah, jadi masih kurang dua ratus lima puluh ribu rupiah lagi. Abang pegang saja dulu yang empatratus ribu besok abang jemput sisanya, Abang kan tahu, Motor inilah satu-satunya transportasi kami, mengantar anak saya ke sekolah, istri saya bekerja, dan saya dengan keadaan fisik begini gak bisa kemana-mana kalau gak ada motor. Berjalan saya gak kuat walau cuma 100 meter. Tolong pengertiannya bang,” ucapku berharap.

“Gak bisa pak.. Harus sekarang bapak lunasi..”
Dan sekonyong-konyong Roy melihat kunci motor Yamaha Mio di atas meja computer, langsung mengambilnya.

“Wah.. gak bisa bang.. sekarang uang sayakan cuma empat ratus ribu.  Begini sajalah nanti sore jam lima saya cukupkan, abang peganglah dulu yang empat ratus ribu ini, boleh abang tunggu di kedai saya ini atau jam lima abang datang lagi,” ujarku memelas berharap motor mioku tak dibawa mereka.

“Bapak, kalau bapak tidak bayar sekarang motor bapak harus saya sita. Dan kalau bapak mau ambil kembali, bapak ambil ke kantor,” ujar mereka.

Kekesalan yang sebenarnya dari tadi kupendam langsung berubah jadi amarah, amarah yang membuat jantung ku berdetak kencang yang tak bisa lagi kutahan. 

Aku berusaha merebut kunci motor yang tadi diambil si Roy. Namun si Roy mempertahankannya dengan suara keras menantang.

Sekelebat kuambil pisau cutter yang terletak di atas meja, kulayangkan ke leher si Roy, namun sekilas terlintas wajah istriku, kualihkan arah pisau cutter sepuluh centi dari leher si Roy yang sudah tersandar di dinding. (Sayang) Tiba-tiba tenaga ku terasa habis, amarahku tidak lagi berguna. 

Tubuhku kembali lemas terkulai di lantai.
Si Roy dan Isra langsung melarikan motor ku yang berada di luar meninggalkan ku dengan penuh rasa kemenangan.
“Bapak sudah tua dan tak bertenaga, tau dirilah,” cemoohannya.

Tak banyak kata yang dapat kuucapkan saat Istri dan Anakku bertanya “Motor kita kemana yah? diambil orang leasing,... Tangis mereka serentak pecah, air mata keduanya mengalir deras tak tertahan."

Keesokan hari, aku berdiri kaku diambang pintu, memandangi istri dan anakku dengan berjalan kaki menghilang dibalik tikungan menuju Halte Bus yang jaraknya satu setengah kilometer. 

Maafkan aku Istriku, Maafkan ayah anakku, Terkutuklah mereka, gumamku dalam hati.

Bantu kami sahabat. 

*) Abu Kasim (081268080164)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Bank Riau Kepri Salurkan CSR Kepada 20.000 Pekerja Rentan
Anggaran Pemko Terbatas, DPRD Sarankan Sekolah Gali Dana CSR
Polisi Amankan Mahasiswa Pencuri Motor di Gereja HKBP Maria Petapahan
Unik, Pengantin di Padang Ini Arak-arakan Naik Sepeda Motor
Pelaku Pencurian Motor Dalam Bengkel Ditangkap, Seorang DPO
Terdapat 1 komentar untuk artikel ini.
ini cerita apa curhat ya pak??? maaf sebelumnya mestinya kita sbg konsumen sadar akan kewajiban kita. mereka juga bekerja seperti bpk yg kerja utk memenuhi kebutuhan anak2 dan istri bpk. mestinya bpk malu dgn mengumbar2 masalah ini,kewajiban mmbayar knp tidak dibayar apa lg td saya baca bpk smpat menghunuskan pisau keleher dept collector trsbt.. saya sbg pmbaca setia riau editor menyayangkan bpk dgn kejadian ini, semoga kejadian yg seperti ini tidak terulang Kembali terhadap konsumen manapun khususnya pembaca setia riau editor..

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU