Home  / Ekbis
Jadi Bos Baru OJK, Ini Profil Wimboh Santoso
Kamis, 8 Juni 2017 | 20:15:28
Wimboh Santoso
JAKARTA - Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI memutuskan mengangkat Wimboh Santoso sebagai Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Wimboh mengisi posisi yang ditinggalkan Muliaman D Hadad dan akan memimpin OJK periode 2017-2022. 

Wimboh berhasil mengalahkan Sigit Purnomo dengan beberapa tahap seleksi. Hingga akhirnya hasil dari uji kelayakan dan kepatutan Komisi XI memilih Wimboh memimpin OJK hingga 5 tahun ke depan.

Berikut profil Wimboh yang telah dirangkum Okezone dari beberapa sumber. Wimboh memulai kariernya di Bank Indonesia (BI) pada 1984 sebagai pengawas perbankan di Bank Indonesia (BI). Dia adalah lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret (UNS) pada 1983. 

Wimboh melanjutkan studinya dalam program Master of Science in Business Administration di University of Illinois, Amerika Serikat, pada 1991. Pendidikan ini diselesaikan pada September 1993. Kemudian ia melanjutkan pendidikan formalnya ke jenjang Doktor di Loughborough University, Inggris, dengan studi konsentrasi Financial Economics pada 1995. Dengan memboyong gelar PhD, Wimboh kembali ke Indonesia pada 1999. Dia membawa ilmu manajemen risiko (risk management) untuk diterapkan pada perbankan Indonesia. 

Wimboh pernah menjadi kepala perwakilan BI di New York pada 2012. Jabatan ini diperoleh usai ia menjabat sebagai Direktur Direktorat Pengaturan Perbankan BI periode 2010-2012. 

Selepas dari bank sentral, dia meniti karier di level internasional. Ia menjadi Direktur Eksekutif International Monetary Fund (IMF) mewakili ASEAN plus Fiji, Tonga, dan Nepal sampai April 2015. 

Sejak akhir 2015, ayah tiga anak ini terpilih melalui rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) Bank Mandiri, untuk mengisi posisi sebagai komisaris utama bank tersebut. 

Dalam paparannya saat uji kelayakan dan kepatutan di DPR beberapa waktu lalu, Wimboh mengatakan akan membawa OJK untuk mampu mewujudkan sistem keuangan tumbuh berkelanjutan dan stabil. 

"Ini enggak bisa kalau ekonomi enggak dukung. Ini enggak terlepas dari juga dukungan pembangunan ekonomi yang berkeadilan. Bukan hanya ekonomi besar tapi juga yang membutuhkan perhatian lebih dari OJK," ungkapnya di Ruang Rapat Komisi XI, DPR RI, Jakarta, Senin 5 Juni 2017. 

Menurutnya, OJK juga harus mampu menstimulasi untuk ekonomi usaha kecil. Hal itu untuk bisa kurangi pengangguran dan kemiskinan yang ada di Indonesia. 

"Framework garis besar dalam stabilitas sistem keuangan harus sejalan dengan perwujudan visi misi ini, di antaranya visi misi OJK dukung pertumbuhan ekonomi. Sektor keuangan harus efisien dukung keuangan," jelasnya. 

Ia pun menjelaskan, adanya aturan di OJK sebagai pengawasan di industri keuangan tentu harus terus dilakukan. Setelah dilakukan pengawasan juga harus ada koordinasi dan instansi lain. Selain itu ia menyebutkan, risiko krisis masih ada jaring pengaman sistem keuangan (JPSK). 

"Ini sudah dilakukan tinggal nanti kita manajemen ya. Aturan bukan hanya bank jasa keuangan, pasar modal, IKNB, disiplin pasar. Pelaku pasar harus disiplin. Kita develop ya. Ini semua framework yang akan dilakukan OJK," tukasnya.


(kmj/okezone)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
5 Tanda Mahasiswa Baru Harus Segera Bangun Relasi
Tata Cara Menyambut Bayi yang Baru Lahir dalam Islam
Letkol Inf Abdul Hamid, S.I.P Pejabat Kasilog Korem 031/WB Yang Baru
Jabatan Kepala Bakamla RI Resmi Diserahterimakan
Pansus RPIK Kunjunngi Kawasan Industri Tenayan

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad