Home  / Article
Pilpres 2019: Ketika Beda Pandangan Politik Berujung Duel Maut
Senin, 26 November 2018 | 14:57:33
FOTO/iStockphoto
Ilustrasi orang bersenjata api.
Perbedaan pandangan politik bisa membuat seseorang kehilangan nyawanya. Itu terjadi di Sampang, Jawa Timur, baru-baru ini.
Pendukung calon Presiden-Wakil Presiden Joko Widodo-Ma'ruf Amin menembak simpatisan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dengan senjata rakitan di Sampang, Jawa Timur, Rabu (21/11/2018). 

Kejadian bermula ketika beredar foto dari akun Facebook Habib Bahar yang memegang samurai. Foto tersebut dilengkapi keterangan: "siapa pendukung Jokowi yang ingin merasakan pedang ini?"

Unggahan itu dikomentari oleh pengguna Facebook bernama Idris Afandi Afandi. Dia menulis: "saya pengin merasakan tajamnya pedang Habib Bahar tersebut."

Pada 28 Oktober 2018, pria bernama Bahrud yang mengaku dari Front Pembela Islam (FPI) datang ke rumah Idris Afandi alias Andika bin Misnadin. Namun Idris menampik bahwa dia mengomentari unggahan tersebut.

Dia beralasan gawainya telah dijual dan lupa log out dari Facebook. Dengan kata lain bukan dia orang yang menulis "pengin merasakan tajamnya pedang Habib Bahar" meski benar kalau itu adalah akunnya. 

Satu hari kemudian, pengguna Facebook bernama Ahmad Alfateh yang dimiliki oleh Subaidi mengunggah video Idris yang sedang dikonfrontir oleh Bahrud. Video itu diunggah dengan keterangan: "ini dia orang yang mau melawan Habib Bahar, ketakutan sampai kencing di celana saat didatangi FPI. Saya tahu siapa kamu Idris dan kapan saja saya ketemu, akan saya bunuh kamu. Cuma jadi LSM tai kamu itu jangan sok jago." 

Video ini Idris ketahui dari kakak iparnya. Idris pun coba mencari tahu siapa pemilik akun Ahmad Alfateh alias Subaidi itu, dan ketemu. Rumah yang bersangkutan sempat didatangi, tapi yang dicari tak ada. Ahmad Alfateh alias Subaidi sehari-hari bekerja sebagai tukang pasang gigi palsu. 

"Pelaku sakit hati karena korban mengunggah video tersangka di Facebook dan mengancam akan membunuh tersangka," kata Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes Frans Barung Mangera kepada reporter Tirto, Minggu (25/11/2018).

Pada 21 November 2018, Idris tak sengaja bertemu Subaidi ketika sama-sama berkendara dengan sepeda motor. Subaidi kemudian menabrak motor Idris.

Idris terjatuh sedang Subaidi tetap berdiri. Subaidi kemudian menarik pisau dan menyabetkannya ke Idris. Idris mundur. Ia segera mengambil senjata api rakit yang dia simpan di kantong kanannya.

Subaidi terjatuh, senjata tajam yang dipegangnya lepas. Idris segera mengokang pistolnya. 

"Dor!" Satu peluru bersarang di dada kiri Subaidi. 

Idris ketakutan. Ia berlari meninggalkan motornya dan Subaidi yang bersimbah darah. Subaidi akhirnya meninggal dunia.

Meski Idris yang diserang duluan, akan tetapi dia tetap bersalah. Polres Sampang menetapkan Idris dengan pasal pembunuhan berencana dan kepemilikan senjata api ilegal dengan ancaman hukuman mati atau selama-lamanya penjara 20 tahun.

Semua unggahan yang tadi disebut sekarang sudah tak terlihat lagi di Facebook.

Imbas Gaya Agresif Elite Politik?

Wakil Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin Raja Juli Antoni prihatin atas apa yang terjadi. Ia menduga ini dampak dari apa yang terjadi di kalangan elite politikus yang kerap mempertontonkan gaya agresif untuk menyerang lawan politik. 

Dia berjanji TKN akan membenahi cara mereka berkomunikasi.

"Yang paling penting kedua kubu, termasuk kami, berkomitmen dalam melakukan kampanye damai yang salah satu indikasinya berhenti memprovokasi masyarakat," kata Raja Juli kepada reporter Tirto.

Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi Ferdinand Hutahaean mengatakan bahwa imbauan kampanye damai terus-menerus dilakukan. Masalahnya, kata Ferdinand, petahana tak melakukan hal serupa. 

"Kami meminta capres-cawapres untuk mengubah narasi tak bermutu seperti kata-kata 'sontoloyo', 'genderuwo', dan 'tabok'. Itu harus dihentikan," kata Ferdinand kepada reporter Tirto. "Intinya ada pada petahana," tambahnya.

Peneliti Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Fadil Ramadhanil mengatakan konflik terjadi karena memang hanya tersedia dua pilihan bagi masyarakat, dan itu sudah terbentuk pada Pilpres sebelumnya. 

"Polarisasi makin terbelah dan pemilih tidak diberikan alternatif lain," kata Fadil kepada reporter Tirto. 

Polarisasi ini diperparah dengan sikap elite politik yang sikapnya konfrontatif. Masalahnya, mereka seperti tak mau tahu apa dampak yang terjadi di akar rumput atas apa yang mereka pertontonkan selama ini. 

"Mereka kan bagian dari kontestasi ini dan mengambil keuntungan di akar rumput. Kalau ada yang mengarah kepada kontak fisik dan pembunuhan, ya mereka datang ke sana dan kendalikan dong bagaimana harusnya berpolitik dan berkampanye itu," pungkas Fadil.

 
(tirto.id - Felix Nathaniel)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad